Waspadai Gejala Kanker Usus Besar

Surabaya, Lensa Indonesia- Masyarakat perlu mewaspadai gejala atau tanda-tanda kanker usus besar dan segera memeriksakan diri jika mengalaminya. Bahkan harus periksa lebih dini jika ada riwayat kanker usus besar di keluarga.“Gejala atau tanda-tanda kanker usus besar perlu diwaspadai. Dengan memeriksakan diri akan segera diketahui kemungkinan penyakit itu secara dini,” ujar dr. Iwan Kristian SpB – KBD, ahli bedah saluran pencernaan yang bertugas di Klinik Kolorektal.

Di Indonesia, klinik ini baru ada di Surabaya dan mulai beroperasi 15 November lalu yang memberikan layanan terpadu di bidang kolorektal. Selain dr. Iwan, ada tiga dokter spesialis lain yang menangani yaitu dr.Tomy Lesmana SpB – KBD, dr. Johannes Intandri SpPD dan dr. Heru Wijono SpPD.

Dr. Iwan mengakui, kolorektal masih asing bagi masyarakat. Bahkan banyak yang baru mendengar istilahnya. Untuk itu diperlukan penyuluhan kepada masyarakat antara lain melalui media. Dokter yang menggeluti bidang ini juga masih sedikit.

Ia mengatakan, akhir-akhir ini ia menemui banyak orang bermasalah dengan pencernaan. Saat ini banyak keluhan yang berkaitan dengan kolorektal yaitu mulai usus besar hingga dubur. Misalnya diare, sembelit. Ini tak boleh diremehkan karena mungkin saja gejala atau tanda awal penyakit kanker usus besar.

“Jangan meremehkan tanda-tanda kanker usus besar, seperti kembung, tinja berdarah. Jika kanker usus besar sisi kanan, tanda-tandanya sering diare, anemia, berat badan turun. Jika kanker usus besar sisi kiri, tanda-tandanya sering sembelit, kotoran berdarah,” ujar dr.Iwan.

Ia menganjurkan mereka yang berusia di atas 50 tahun sebaiknya memeriksakan diri. Langkah pertama melakukan tes darah tersamar pada tinja. Ini paling murah dan praktis. Jika ditemukan sel-sel darah, kemudian dilakukan endoskopi. Namun ia menyadari, banyak yang tak melakukan endoskopi karena kendala biaya mahal.

“Bahkan jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar, dianjurkan untuk memeriksakan diri lebih dini karena resikonya dua kali lebih tinggi,” ujar dokter yang mendalami bidang kolorektal karena bermasalah dengan pencernaannya ini.

Menurut dr. Iwan, orang biasanya tak menyadari tanda-tanda di atas karena menganggap biasa saja, bukan masalah serius dan urgen. Gejala atau tanda-tanda kanker usus besar juga tak teraba seperti pada kanker payudara.

Orang mungkin juga rancu dengan hemorrhoid (ambeien/wasir) yang gejalanya sama yaitu tinja berdarah. Ia mengatakan, tinja berdarah belum tentu gejala wasir tapi bisa jadi gejala kanker usus besar. Namun selama ini wasir tidak pernah menjadi kanker kolorektal.
Dr. Iwan mengatakan, kasus kanker kolorektal meningkat dalam 10 tahun terakhir. Di AS, kanker ini menempati urutan ketiga pada laki-laki dan nomor empat pada perempuan, juga menjadi pembunuh peringat kedua setelah kanker paru-paru. Ia pernah menemui kasus kanker kolorektal dengan penderita usia termuda 14 tahun.

Cara pencegahan kanker kolorektal sebenarnya mudah dan sederhana seperti tidak merokok, hindari mengkonsumsi junk food, makanan yang tinggi lemak dan yang dibakar serta rutin berolahraga.

“Kanker sekarang dianggap penyakit gaya hidup karena gaya hidup yang tak sehat, diantaranya merokok dan mengkonsumsi junk food. Dulu orang tua atau kakek nenek kita, terutama di desa, makan ubi, jagung. Sekarang anak-anak kenalnya burger dan mereka suka ini,” ujarnya.

lia