x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Bayi Tabung Murah, Solusi bagi Pasutri Sulit Punya Anak

Senin, 20 Desember 2010 14:32 WIB (4 years yang lalu)Editor:
Bayi Tabung Murah, Solusi bagi Pasutri Sulit Punya Anak - -

code: 160x600, idcomsky1com is empty


Surabaya, Lensa Indonesia- Salah satu tujuan perkawinan adalah memiliki keturunan dan umumnya pasangan suami istri (pasutri) ingin memiliki anak. Sayangnya harapan ini tak selalu terwujud karena masalah tertentu. Namun kini tak perlu terlalu khawatir lagi.

Tim dokter fertilitas Graha Amerta RS. dr. Soetomo, Surabaya, menawarkan solusi bayi tabung murah. Solusi ini diungkapkan dalam Seminar Bayi Tabung Murah di Graha Amerta pada Minggu (19/12), yang menghadirkan antara lain pembicara Dr. dr. Hendy Hendarto SpOG (K).

Ia mengatakan, bayi tabung pertama di Indonesia lahir di Jakarta, disusul bayi tabung kedua di Surabaya pada 1991. Jadi program ini sudah berjalan lama dan bayi tabung tersebut sudah tumbuh dewasa. Kini program ini telah dilakukan di beberapa kota besar. Jadi pasutri tak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri.

Menurut Dr. Hendy, pada tahun pertama perkawinan, sekitar 85% pasutri memiliki anak. Jika setelah setahun menikah, belum memiliki anak, sebaiknya melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya, apalagi jika usia si istri lebih dari 35 tahun yang merupakan usia rawan karena kesuburan mulai menurun.

Ia mengatakan, 10%  – 20% perempuan mengalami gangguan kesuburan misalnya saluran rahimnya buntu. Ini salah satu penyebab dan penyebab terbesar pasutri sulit memiliki anak. Penyebab kedua adalah kualitas sperma.

“Sayangnya mereka biasanya datang terlambat ketika si istri berusia di atas 35 tahun, apalagi di atas 40 tahun. Bisa dikatakan sel telurnya mulai habis,” ujar dokter koordinator tim fertilitas ini.

Dr. Hendy menjelaskan, perempuan sebenarnya memiliki 7 juta sel telur, namun ketika lahir hanya tersisa 1 juta – 2 juta saja. Dari jumlah ini, 500 ribu sel telur digunakan untuk haid. Sisanya untuk kehamilan. Karena itu, makin tua usia kehamilan, kualitas sel telurnya menurun.

“Misalnya hamil pada usia 40 tahun, sel telur yang dibuahi ya sel telur 40 tahun lalu. Tentu saja kualitasnya tak sebagus jika hamil pada 10 tahun – 20 tahun lalu. Ini berbeda dengan pada laki-laki yang selalu ‘memperbarui’ spermanya tiap 3 hari,” ujarnya.

Kehamilan, kata dr. Hendy, selain berkat kuasa Tuhan, juga terjadi pada masa paling subur perempuan yang hanya 24 jam. Jika pada saat itu sel telur bertemu dengan sperma, maka akan terjadi pembuahan.

Namun kehamilan yang diharapkan dan ditunggu-tunggu kadang tak terwujud sehingga menimbulkan kecemasan pasutri. Mereka lalu melakukan pemeriksaan ke sana kemari. Setelah gagal dan usia si istri lebih dari 35 tahun, mereka baru datang ke tim fertilitas untuk berkonsultasi soal bayi tabung atau Fertilisasi in Vitro (FIV). Ini tergolong agak terlambat, namun masih bisa dilakukan.

Menurut dr. Hendy, selama ini telah ada program bayi tabung normal dengan biaya Rp 35 juta – 40 juta. Namun ini memberatkan bagi sebagian pasutri. Karena itu kini ditawarkan program bayi tabung murah dengan biaya separonya. Sayangnya ini hanya bisa diterapkan pada istri usia 35 tahun ke bawah.

“Banyak pasutri yang ingin memiliki anak secara bayi tabung tapi terkendala biaya yang mahal. Bayi tabung murah ini bisa menjadi solusi,” ujarnya.

Dr. Hendy mengatakan, biaya tersebut bisa dikurangi karena biaya obat-obatan dan monitoring bisa ditekan. Namun ia menjamin kualitas proses bayi tabung murah sama dengan yang normal.

Ia menjelaskan syarat bagi proses bayi tabung yaitu ada sel telur dan sperma dari pasutri yang bersangkutan. Untuk itu dilakukan pemeriksaan terhadap sperma dulu yaitu berapa jumlah selnya, bagaimana gerakannya dan apakah tak ada kelainan bentuknya. Setelah itu dilakukan pemeriksaan terhadap sel telur, bagaimana saluran rahimnya.

“Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap sperma dulu karena lebih cepat dan biayanya tidak mahal. Sedangkan pemeriksaan terhadap sel telur butuh waktu lebih lama karena menyesuaikan dengan siklus haid dan biayanya lebih mahal,” ujar dr. Hendy.

Selama ini jika si istri tak kunjung hamil, ada kecenderungan si suami mendesak istrinya untuk memeriksakan diri. Padahal penyebabnya belum tentu dari diri si istri. Bisa jadi kualitas sperma suami yang kurang bagus. Ia menyebutkan, 40% penyebab ketidakhamilan adalah faktor suami, 40% faktor istri.

Jika saluran rahim buntu, kata dr. Hendy, bisa dilakukan operasi. Namun ini akan sia-sia jika usia si istri lebih dari 40 tahun. Satu-satunya cara adalah dengan program bayi tabung.

Dr. Hendy menjelaskan, bayi tabung biasanya kembar karena embrio yang ditanamkan lebih dari satu. Embrio ini diperoleh dari beberapa sel telur yang dimatangkan dengan obat-obatan. Jika usia si istri lebih dari 35 tahun akan diambil tiga sel telur agar kemungkinan hamil lebih tinggi. Sisanya disimpan dalam suhu -196 derajat Celcius yang bisa digunakan lagi jika gagal pada proses pertama. Sel telur kemudian dipertemukan dengan sperma secara FIV, selanjutnya dimasukkan ke dalam rahim.

Ia mengatakan, tingkat keberhasilan bayi tabung normal sekitar 35%. Namun untuk bayi tabung murah, tingkat keberhasilannya hanya 25%.

Dari informasi di atas, pasutri yang ingin mengikuti program bayi tabung bisa memutuskan akan memilih program yang dibutuhkan. (lia)

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty






code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty