x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Sepenggal Kisah Jugun Ianfu (1)

Perempuan Pribumi Jadi Budak Seks Tentara Jepang

Senin, 15 Agustus 2011 14:42 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Perempuan Pribumi Jadi Budak Seks Tentara Jepang - Sepenggal Kisah Jugun Ianfu (1) - Para Jugun Ianfu dalam kenangan.

Para Jugun Ianfu dalam kenangan.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


Masa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945) merupakan masa kelam bagi perempuan Indonesia. Masa remaja mereka direnggut secara paksa dijadikan Jugun Ianfu (budak seks) tentara kerajaan Jepang untuk memenuhi kebutuhan seks para serdadunya.

——————————————

Baca juga: Warga Jepang keranjingan game genderuwo dan pocong buatan Bandung dan Jepang siap hadapi China, demi jaga Asia-Pasifik

Melakukan invansi dan perang ke negara lain membuat kelelahan mental tentara Jepang. Kondisi ini mengakibatkan tentara Jepang melakukan pelampiasan seksual secara brutal dengan cara melakukan perkosaan masal yang mengakibatkan mewabahnya penyakit kelamin yang menjangkiti tentara Jepang.

Hal ini tentunya melemahkan kekuatan angkatan perang kekaisaran Jepang. Situasi ini memunculkan gagasan untuk merekrut perempuan-perempuan lokal, menyeleksi kesehatan dan memasukan mereka ke dalam Ianjo-Ianjo sebagai rumah bordil militer Jepang.

Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis, pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah makan dan juga dengan cara kasar dengan menteror disertai tindak kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga.

Jugun ianfu berasal dari Korea Selatan, Korea Utara, Cina, Filipina, Taiwan, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia. Sebagian kecil di antaranya dari Belanda dan Jepang sendiri. Mereka dibawa ke wilayah medan pertempuran untuk melayani kebutuhan seksual sipil dan militer Jepang baik di garis depan pertempuran maupun di wilayah garis belakang pertempuran.

Sebagian besar perempuan-perempuan yang berasal dari pulau Jawa yang dijadikan Jugun Ianfu seperti Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri Sukanti, Wainem, hanyalah sebagian kecil Jugun Ianfu Indonesia yang bisa diidentifikasi. Masih banyak Jugun Ianfu Indonesia yang hidup maupun sudah meninggal dunia yang belum terlacak keberadaannya.

Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian diaborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.

Ianjo pertama di dunia dibangun di Shanghai, Cina tahun 1932. Pembangunan Ianjo di Cina dijadikan model untuk pembangunan Ianjo-Ianjo di seluruh kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia sejak pendudukan Jepang tahun 1942-1945 telah dibangun Ianjo diberbagai wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara, Sumatra, Papua.

Diperkirakan jumlah wanita yang menjadi budak seks ini termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Indo, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik, pada saat perang berkisar antara 20.000 dan 30.000.

Kekerasan seksual yang terjadi dalam perang dunia kedua tersebut cukup mengejutkan. Para tentara Jepang bahkan mengkoordinir sistem kerja paksa seksual terhadap ribuan wanita penghibur di Asia. Bahkan, banyak dara belia yang mengalami kekerasan seksual di gudang pabrik, gerbong kereta, maupun di rumah. Tak terkecuali perempuan-perempuan pribumi.

Hingga saat ini, usai 65 tahun kemerdekaan, sudah ada 1.156 wanita yang menjadi Jugun Ianfu dimana kisah-kisah mereka dibungkam oleh sejarah masa lalu. Selama ini pula kisah-kisah gelap perjuangan wanita penghibur tersebut memang tidak pernah diceritakan dalam buku teks pendidikan sejarah Indonesia. Dan, inilah kisah mereka.bersambung/LI-07




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty