x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Suasana Nyaris Sama dengan Awal Ramadan

Budaya Tradisi ‘Nyekar’ di Surabaya Tetap Ramai

Selasa, 30 Agustus 2011 15:36 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Budaya Tradisi ‘Nyekar’ di Surabaya Tetap Ramai - Suasana Nyaris Sama dengan Awal Ramadan - Ziarah hari lebaran. mendidik anak untuk mengenal apa itu kematian. Sekaligus mendoakan, mengingatt danmenghormati keluarga yang sudah meninggal.

Ziarah hari lebaran. mendidik anak untuk mengenal apa itu kematian. Sekaligus mendoakan, mengingatt danmenghormati keluarga yang sudah meninggal.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Tradisi mendoakan orang tua atau sanak saudara yang meninggal dengan ziarah ke kuburan alias “nyekar”, ternyata dua hari menjelang lebaran situasinya sudah cukup ramai.

Bahkan, pemandangannnya di beberapa kuburan di Surabaya nyaris seperti saat awal bulan Ramadan lalu. Cuma, yang berziarah kali ini tidak  seramai saat awal Ramadan. Situasi ini terlihat satu hari sebelum lebaran Idul Fitri baik itu versi Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU).

Pemakaman Tembok Dukuh, tempat kuburaannya musisi beken 80-an Gombloh juga terlihat diluberi peziarah. Begitu pula di pemakaman Rangkah, kawasan makam pejuang WR Soepratman. Juga di kuburan Rangkah, dan pemakaman Ngagel yang termasuk tempat makam orang–orang asli Surabaya.

Seperti Di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kembar Panjang Jiwo, Surabaya, Selasa (30/8) ini, misalnya, banyak pengunjung yang berdatangan. Mereka selain mendoakan yang sudah meninggal, juga membersihkan makam keluarganya.

“Ini momen penting menurut saya untuk ziarah sekaligus mendoakan mertua. Karena, bisa jadi saya melakukan begini hanya setahun sekali. Saya khan tinggal sudah tidak di Surabaya lagi,” jelas Aris didampingi istrinya, Yuli.  Aris datang bersama istri dan ibu mertuanya di makam itu. Mereka seperti peziarah yang lain, yakni membawa bunga, sapulidi, dan buku yasin. Selesai bersih-bersih makam, mereka seperti peziarah yang lain terlihat khusuk mendoakan yang meningggal.

Tradisi ini terlihat juga cukup menguntungkan para pedagang bunga. Mereka seperti mendapatkan momen rezeki. Tak heran di sana-sini bermunculan pedagang bunga dadakan.

Jito (34), penjual bunga, dalam satu hari bisa menghasilkan keuntungan bersih sampai Rp 75 ribu. “Lumayan Mas, kalau momen seperti ini dalam satu hari keuntungan bisa Rp 50-75 ribu itu,” kata Jito, yang sudah 3 tahun menggeluti usahanya.

Rupanya, bukan hanya penjual bunga saja yang mendapatkan berkah momen Idul Fitri. Parrkir dadakan juga ada di sana-sini di sekitar lokasi makam. Ibnu (30), yang bertugas di parkir ini mengaku dibantu 2 kawannya. Sehari bisa menghasilkan keuntungan sedikitnya Rp 30 ribu. “Alhamdulillah Mas, lumayan bisa buat tambahan jajan anak untuk ikut lebaran,” cetus Ibnu. ali/LI04





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty