x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Seputar Peminggiran Peran Perempuan

Saskia Wieringa: Perempuan Gerwani Juga Punya Hak Hidup

Kamis, 08 September 2011 12:48 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Saskia Wieringa: Perempuan Gerwani Juga Punya Hak Hidup - Seputar Peminggiran Peran Perempuan - Peneliti Gerwani asal Belanda, Saskia Wieringa (kanan)

Peneliti Gerwani asal Belanda, Saskia Wieringa (kanan)

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Peneliti sejarah perempuan Indonesia asal Belanda, Saskia Wieringa, telah mengejutkan banyak pihak melalui penulisan disertasi doktornya tentang ‘Gerakan Revolusioner Wanita Indonesia’ (Gerwani) pada dekade ’60-an. Penelitian sejarah itu memperoleh apresiasi luas di kalangan akademisi dan peminat studi tentang Indonesia karena berhasil membalik pandangan umum yang cenderung negatif pada Gerwani.

Dalam berbagai kesempatan membincang isi disertasi doktornya yang dipertahankan di Institute of Social Studies (ISS), Belanda, Saskia selalu merujuk kepada aspek-aspek penting dalam sejarah perempuan di Indonesia yang berpuncak pada kehadiran Gerwani. Ditegaskannya, watak independen Gerwani yang tercermin dalam aksi-aksi nyata telah menarik banyak perempuan Indonesia untuk bergabung.

Baca juga: Gio jadi penonton sensasi Novela dan empat bintang Indonesia Idol dan Fadli Zon: Indonesia butuh pemimpin yang jelas

Sebagai warga negara Indonesia, anggota Gerwani juga punya hak untuk hidup di tanah nusantara. Soal afiliasi politik mereka, itu perkara lain, ujar Saskia dalam sebuah kesempatan. Sayangnya, perkara lain itulah yang justru lebih disorot oleh banyak kelompok anti-Gerwani. Puncaknya, ketika terjadi pertarungan kekuasaan di internal militer Indonesia yang kemudian merambah ke ormas dan parpol, maka Gerwani pun terkena imbas dahsyat.

”Para anggota Gerwani dikejar-kejar, mereka hidup dalam ketakutan, apalagi kelompok yang kemudian berkuasa pada saat itu sudah terlebih dulu menyebarkan cerita-cerita negatif tentang Gerwani. Namun, masyarakat Indonesia semakin cerdas dengan mempertanyakan isi cerita-cerita itu kini,” papar peneliti yang kini juga mengajar di Universitas Amsterdam itu.

Peminggiran peran kaum perempuan Indonesia, sambung dia, juga bisa dilihat berpangkal dari kasus Gerwani itu. Sejak Gerwani dibubarkan maka praktis para perempuan di Indonesia terkena kebijakan yang sangat diskriminatif. Perempuan Indonesia kemudian tabu membicarakan revolusi atau politik dan lebih didorong untuk sibuk dengan aktivitas yang jauh dari ranah politik. Peminggiran ini, lanjut Saskia, sangat berhasil pada masa Orde Baru.

Saat ini, dalam penelusuran Saskia, masih ada puluhan anggota Gerwani yang sudah uzur ternyata masih hidup di Indonesia. Mereka memang enggan berbicara politik atau mengingat-ingat apa yang pernah terjadi. Namun, mereka tetaplah warganegara Indonesia yang punya hak untuk hidup dan berkarya. LI-08




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty