x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



World Young Reader Newspaper of The Year 2011 (9)

Jawa Pos Awalnya Gambling, Revolusi Besar pun Terjadi

Sabtu, 10 September 2011 08:16 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Jawa Pos Awalnya Gambling, Revolusi Besar pun Terjadi - World Young Reader Newspaper of The Year 2011 (9) - Salah satu potongan koran Jawa Pos tahun 1989.

Salah satu potongan koran Jawa Pos tahun 1989.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Slamet Oerip Prihadi, demikian namanya. Dia tak berbeda dengan Nasarudin. Slamet juga termasuk generasi pertama di Jawa Pos. Di depan namanya, Slamet punya gelar RA. Begini, RA Slamet Oerip Prihadi.

Gelar RA biasanya dimiliki seseorang keturunan kebangsawanan Jawa. Gelar itu melekat pada seorang perempuan keturunan ningrat dari generasi kedua hingga ketujuh dari raja atau pemimpin yang terdekat (secara silsilah) yang pernah memerintah. Gelar ini dipakai oleh semua kerajaan pewaris Mataram dan juga kadipaten-kadipaten bawahannya.

Baca juga: Jatim gandeng Taiwan kembangkan kerjasama agrowisata dan Kader Demokrat tidak boleh malu belajar dari Dahlan Iskan

Namun bedanya, gelar Slamet bukan seperti itu. Dia bukan keturunan bangsawan atau kerajaan. Dia, hanyalah Slamet yang lahir dari rahim wanita biasa. Gelar itu melekat secara otomatis ketika memutuskan bergabung dengan Jawa Pos pada akhir tahun 1982.

Gelar RA milik Slamet mempunyai kepanjangan Redaktur Abadi. Yah, sepanjang hidupnya bahkan hingga pensiun pada tahun 2000 lalu, dan diperpanjang hingga 2006, Slamet tetaplah redaktur. Paling senior. Paling loyal. Paling militan. Paling istiqomah.

Disiplin ilmunya olahraga. Dari dulu sampai sekarang Slamet dikenal sebagai redaktur olahraga. Sekian lamanya duduk menjadi redaktur, Slamet tentu sangat paham dengan perkembangan Jawa Pos.

Hanya, dia tidak menyangka jika Jawa Pos bakal sebesar ini. Di Jawa Pos dia mungkin orang baru. Masih kalah senior dari Nasarudin. Ketika Jawa Pos masih menggunakan nama Djawa Post, Slamet sebenarnya termasuk wartawan kawak (lama). Sebelum Djawa Post di-merger Tempo (jadi Jawa Pos), saat itu Slamet menjadi bawahan. Dahlan Iskan kala itu menjadi Kepala Biro Tempo Surabaya.

Sekian lama mengembangkan Tempo di Jawa Timur, sampai akhirnya timbul pemikiran dari Dahlan Iskan untuk membikin koran. Tempo sendiri belum memiliki koran. Padahal Tempo merupakan media besar di Indonesia.

Uneg-uneg itu kemudian disampaikan Dahlan Iskan ke pusat. Alhasil, permohonan Dahlan Iskan disetujui Tempo. Dan, Dahlan Iskan melihat koran Djawa Post (saat itu) sedang kembang kempis. Sejak tahun 1970-an, omzet koran yang didirkan The Chung Shen itu mengalami kemerosotan sangat tajam.

Kepada Eric Samola dan Gunawan Muhammad, Dahlan Iskan menyampaikan keinginannya untuk merger Djawa Post.

Banyak orang yang menyayangkan keputusan Dahlan Iskan. Koran mau ambruk kok dibeli. Namun tidak demikian halnya dengan Dahlan Iskan. Dia melihat koran Djawa Post mempunyai prospek, tentunya bila digarap serius.

“Sudah tahu koran mau ambruk, malah dibeli. Tapi arek (Dahlan Iskan) iku dasare wis cerdas,” tegas Slamet.

Slamet mengatakan, keputusan Dahlan Iskan merger merupakan keputusan gambling. Bagaimana tidak, koran itu sudah nyaris habis masanya, tapi sahamnya justru dibeli dengan nilai yang cukup besar, yakni Rp 300 juta. Seorang yang berpikiran cetek, pastilah akan berpikiran lain, daripada membeli koran bangkrut, lebih baik membikin koran baru.

Dan Eric Samola merestui Dahlan Iskan. Tapi ya itu, konflik mulai timbul di pusat. Mereka pun rasan-rasan, masa sekelas Kabiro dipercaya mengelola koran dan dimodali.

“Itulah bedanya Dahlan Iskan. Dia bukan sekedar Kabiro biasa. Jabatan mungkin Kabiro, tapi kelasnya Pimred. Dia seorang yang berani melakukan perubahan. Sewaktu di Jawa Timur, dia paling vokal mengajukan laporan khusus untuk Jawa Timur,” terang Slamet.

Nah, dengan di-take overDjawa Post dan diubah menjadi Jawa Pos, kata Slamet, sejak itu revolusi kerja mulai digeber.

Kalau sebelumnya koran itu sering membuat berita-berita rilis dan pengambilan berita dari Antara – yang waktu itu masih sobekan — sejak itu mulai ada perubahan. Dalam pikiran Dahlan Iskan, Jawa Pos harus menjadi satu-satunya Harian Nasional yang terbit dari Surabaya.

Tidak ada dalam bayangan orang kalau Jawa Pos akan sebesar sekarang. “Saat itu yang kami bayangkan bagaimana melawan koran-koran besar seperti Surabaya Post dan Kompas. Bagaimana menyaingi mereka,” kata Slamet.

Melawan Kompas secara berhadap-hadapan tentu bukan perkara mudah. Kompas memiliki SDM yang sangat besar. Menurut Slamet, itu tidak mungkin. Mengekor isi maupun berita-berita Kompas juga tidak mungkin. Sebab Kompas punya trademark sendiri. Pun bahasanya ilmiah, kajiannya berat, sulit dibaca awam.

Satu-satunya cara, membuat berita sendiri. Itulah yang kemudian diterapkan para punggawa Jawa Pos. Meski terbit koran harian, tapi semua wartawannya tetap ditugasi menulis berita untuk Tempo.

Yah, sejak Jawa Pos di-merger Tempo, lanjut Slamet, banyak orang-orang Tempo yang masuk gerbong Jawa Pos.

“Waktu itu kami membuat harian juga mingguan. Harian untuk Jawa Pos, mingguan untuk Tempo,” kenang Slamet.

Kendati koran Jawa Pos dipegang oleh orang-orang yang sama, tetap bisa unggul. Di situ ada Kusnan, Dirman, Budi Martono, dan Joni Purbana. Mereka ini orang-orang hebat.

Menurut Slamet, mereka adalah orang-orang Tempo yang diboyong Dahlan Iskan, termasuk Slamet sendiri.

Dari orang-orang inilah Jawa Pos perlahan memiliki ritmenya sendiri. Jawa Pos tidak benar-benar melawan Kompas dan Surabaya Post secara face to face, melainkan melakukan gerakan bawah tanah.

Para punggawa Jawa Pos membuat berita dengan cara mereka sendiri. Rata-rata berita Jawa Pos saat itu dibuat dengan by design. Sebab, hanya itu satu-satunya cara mengalahkan Kompas dan Surabaya Post.

“Sebelum cetak, kami biasanya menentukan terlebih dahulu judulnya. Bagi kami judul adalah roh. Judul pun dibuat agak besar. Punya daya seret. Dan terutama, isinya kuat. Bahasanya dibuat se-ringan mungkin, tidak ilmiah seperti Kompas, apa adanya,” cerita Slamet.

Dan, mereka berhasil mengemas berita dengan lebih baik. “Orang sama, tetapi kemampuan melebihi segala-galanya. Itulah kehebatan para punggawa Jawa Pos yang tidak dimiliki koran lain,” kata Slamet.

Sampai sekarang, Slamet masih belum percaya jika Jawa Pos bisa sebesar ini. Meski begitu, Slamet tetaplah Slamet, sang redaktur abadi. Slamet seringkali dilewati orang-orang muda, seperti Margiono, Sholihin Hidayat, Dhimam Abror, Arief Afandi, Azrul Ananda hingga Leak Kustiya.  Tapi baginya, jabatan bukan segala-galanya. Dia paham, koran sebesar Jawa Pos harus dikelola orang-orang yang memang memiliki kecerdasan.

“Koran Jawa Pos harus dikelola oleh orang-orang yang berkompeten dan cerdas. Makom saya hanya-lah kapten, tapi seorang jenderal maupun kolonel pun tetap butuh kapten bukan,” kata Slamet sembari tertawa.bersambung/novi/LI-07




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty