x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Kisah Gadis 8 Tahun Penderita Diabetes

Kasihan, Seumur Hidup Jihan Sailla Harus Disuntik Insulin

Senin, 10 Oktober 2011 23:12 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Kasihan, Seumur Hidup Jihan Sailla Harus Disuntik Insulin - Kisah Gadis 8 Tahun Penderita Diabetes - Jihan Sailla.

Jihan Sailla.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Jihan Sailla usianya baru 8 tahun, tapi dia sudah divonis dokter mengidap diabetes tipe 1. Karena itu Jihan harus menerima suntikan insulin di tubuhnya. Dan, itu dilakukannya seumur hidup.

Jihan merupakan putri kedua pasangan Juriah (32) dan Fauzi (42). Sudah 5 tahun ini keluarga Jihan menetap di Jl. Kampung Bulak, Rt.05/016 No. 47, Klender, Jakarta Timur. Di ruangan ukuran 3 x 3 itu yang mereka sewa itu semua aktifitas berlangsung. “Ini ruaangan serba guna, makan, tidur, semuanya di sini,” kelakar Juriah.

Selama ini, hidup Jihan tergantung dari suntikan. Sejak usia 5 tahun, Jihan sudah dinyatakan dokter positif mengidap diabetes tipe 1.

“Sejak bayi sampai umur empat tahun biasa-biasa saja. Badannya sehat, bagus. Dia juga lincah,” ungkap Juriah mengenang foto-foto kelincahan Jihan semasa balita.

Tapi semua itu kini hanya kenangan. Sebab mereka harus menelan kenyataan pahit bahwa putrinya harus mengidap diabetes.

Yang mencengangkan, putra pertama mereka juga menderita penyakit. Beberapa tahun lalu putra mereka meningal dunia akibat penyakit lumpuh layu. Dan hal serupa kini terjadi pada diri Jihan.

“Waktu Jihan masih kecil sering saya tinggal sendiri di kontrakan. Saya ngamen, bapaknya jadi kuli. Saya ngamen sambil gendong abangnya (Fadil),” kenang Juriah.

Fauzi, ayah Jihan yang lulusan SMK menafkahi keluarga sebagai pekerja serabutan. Keterampilannya menginstalasi sambungan listrik menjadi andalannya menghidupi keluarga selama ini. “Nggak pasti. Kalau lagi sepi dia di rumah aja. Nganggur,” terang Juriah cari nafkah  dengan mengerjakan payet baju.

Karena sering ditinggal sendiri, tidak ada yang memperhatikan Jihan, termasuk pola makannya.

“Waktu itu dia sukanya minum minuman kemasan. Sehari bisa sampai 10 gelas. Kalau nggak dikasih dia ngambek, terus nangis,” ungkap Juriah sambil menyebut beberapa merek minuman ringan kegemaran Jihan saat itu.

Setelah Fadil (anak pertama) meninggal dunia karena penyakitnya, Juriah memutuskan untuk tidak ngamen lagi. Saat itu Jihan  mulai mendapat perhatian.

“Waktu umur 4 tahun, nafsu makan Jihan gede banget. Belum lama makan, sudah minta makan lagi. Tapi badannya nggak gemuk-gemuk,” kenang Juriah.

Selain badannya yang semakin kurus, Jihan yang sebelumnya tidak pernah mengompol jika tidur, tiba-tiba jadi sering ngompol. “Semaleman bisa sepuluh kali ngompol. Kalau tidur saya kasih alas handuk. Kemaluannya sampe lecet gara-gara keseringan ngompol,” ujar Juriah.

Melihat anaknya yang semakin kurus dan kebiasaan ngompol yang tidak wajar, Juriah membawa Jihan ke Puskesmas.  Oleh dokter di Puskesmas, Jihan didiagnosa mengidap ganguan di saluran kencing.

Setelah berobat, namun tidak ada perkembangan berarti. Jihan tetap kurus dan masih sering ngompol. “Saya bingung, kok nggak sembuh, padahal sudah minum obat dari Puskesmas,” cerita Juriah yang kemudian atas saran tetangga membawa Jihan ke RS. Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

Juriah dan Fauzi nyaris tidak percaya ketika dokter  memvonis Jihan mengidap diabetes tipe 1. “Waktu itu gula darahnya  sampai 300. Habis  makan naik lagi jadi 400. dokter bilang, Jihan harus disuntik insulin seumur hidup,” kiah Juriah.

Sebagai seorang ibu, sudah pasti sangat terpukul mendapat kenyataan pahit itu. Hidup putri satu-satunya harus ketergantungan dari suntikan insulin. “Habis mau bagaimana lagi. Tidak ada cara lain jika ingin tetap hidup,” kata Juriah.

Setiap pagi dan sore Jihan wajib disuntik insulin. Sebelum disuntik, kadar gula dalam darahnya harus dicek dulu menggunakan alat cek gula darah. “Kalau pagi gulanya bisa sampai 180. Disuntiknya 22 unit insulin,” jelas Juriah.

Alat cek gula darah menjadi barang sangat penting bagi Jihan. Dengan alat itu kondisi gula darahnya bisa dimonitor. Penderita diabetes seperti Jihan, kondisinya sangat labil. Bisa saja gula darahnya tinggi sekali, atau bahkan bisa anjlog. Kedua posisi itu memiliki resiko sama. Jika tidak cepat ditolong bisa meninggal dunia.

Jika kondisi gula darah anaknya terlampau tinggi, Juriah segera menelepon dokter. “Nanti dokter yang kasih tahu berapa unit saya harus suntik insulinnya. Kalau lagi ngedrop, Jihan saya suruh minum yang manis-manis biar stabil lagi,” paparnya.

Kini sudah genap 3 tahun hidup Jihan tergantung dari suntikan insulin. Selama tiga tahun itu ibunya cukup ketat memelihara pola makan dan tidak pernah absen sebagai juru suntik. “Alhamdulillah selama ini tidak ada apa-apa. Jihan biasa-biasa saja,” ujar Juriah.

Mungkin karena sejak kecil sudah ‘akrab’ dengan penyakitnya, Jihan mengaku tidak terlalu merasakan bedanya ketika gula darahnya sedang tinggi atau sedang normal. Tapi menurut ibunya, jika gula darahnya tinggi, Jihan jadi mudah emosi dan sering ngambek. Jika sedang drop akan kelihatan lemas tidak bergairah.

Saat ini kebutuhan berobat  Jihan ditanggung pemerintah lewat Kartu Keluarga Miskin (Gakin).  “Saya pakai kartu Gakin. Dulu waktu abangnya sakit saya juga pakai kartu Gakin. Kalau nggak ada kartu Gakin, saya nggak tahu deh mau bayar pakai apa,” ungkap wanita tegar ini.

Juriah juga tidak bisa membayangkan nasib Jihan yang seumur hidup ketergantungan dengan insulin. Wanita tegar ini hanya bisa berusaha semampunya dan pasrah kepada Tuhan.

Padahal Jihan mempunyai cita-cita setinggi langit. Dia ingin menjadi dokter. Tapi, apakah itu bisa tercapai, inilah keraguan Juriah. “Kalau udah gede Jihan mau jadi dokter. Jihan mau bantu orang sakit biar biayanya murah, nggak mahal-mahal,” tuturnya polos sambil memeluk ibunya.fir/jks/LI-07





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty