x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Seks In The Kost, Akhir Sebuah Status (2)

Usai Kuliah Langsung ‘Bobok-bobok Siang’ di Kos

Senin, 10 Oktober 2011 19:04 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Usai Kuliah Langsung ‘Bobok-bobok Siang’ di Kos - Seks In The Kost, Akhir Sebuah Status (2) - Ilustrasi.

Ilustrasi.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


Memasuki sebuah parkiran tak jauh dari Jalan SWK, terdapat puluhan kos-kosan berjejer. Sekilas tampak seperti wisma atau mungkin hotel. Setiap kos-kosan menawarkan jasa kamar yang menggelitik. Ada kos cewek, ada pula kos cowok. Bahkan ada kos campuran; cewek dan cowok.

———————————————

Sebagian ada rumah kontrakan. Disewakan untuk anak-anak mahasiswa dan mahasiswi yang mau patungan. Sewa setahun, bebas menggunakan dengan siapa saja. Warga di sekitar seolah tidak mau mendengar apa saja yang mereka lakukan di sana.

Selama tidak bacok-bacokan, bunuh-bunuhan, atau mengebom, pikir mereka, maka semua tidak ada masalah.

Ada satu kos-kosan yang lumayan megah. Dari luar terpampang papan besar. Wisma kos ANU. Rata-rata yang menghuni kos adalah mahasiswi. Ranita membawa LIcom masuk ke dalamnya.

“Kita mampir dulu ke sini,” celoteh perempuan yang mirip Tantri vokalis Grup Band Kotak.

Rupanya ada salah satu teman Ranita yang indekos di wisma tersebut. Sebut saja Silvi. Usia sama dengan Ranita, 23 tahun. Dia orang Wonosobo.

Sebelum tiba di kamar Silvi, alamak, sebuah pemandangan yang tidak bisa terlihat di mata. Puluhan perempuan cantik dan bahenol berkeliweran. “Mereka semua mahasiswi,” kata Ranita.

Dandanan mereka terkesan sangat vulgar. Hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Pahanya yang putih dan mulus sengaja diumbar. Pun pakaian mereka terkesan seenaknya. Mereka hanya mengenakan tank top yang tipis, ada juga yang ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Mereka berjalan hilir mudik. Keluar masuk ke kamar kos satu ke lainnya. Mereka tak peduli dengan kedatangan tamu laki-laki. Mereka cuek saja. Tidak ada keinginan untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya karena malu. Sepertinya, hal itu sudah biasa.

“Bagi maskaranya dong,” teriak salah seorang dari mereka ke teman kosnya.

“Sayang, aku mandi dulu ya, kamu tunggu dulu,” kata seorang lagi kepada seseorng di dalam kamarnya, barangkali pacarnya.

“Apa semua seperti ini?” tanya LIcom ke Ranita.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Ranita.

Kos-kosan itu memiliki jumlah kamar setidaknya 20-30. Cukup banyak. Setiap kamar rata-rata berukuran 5×5 meter. Setiap kamar terdapat tulisan nomor. Mirip hotel saja. Pun tamu bebas keluar masuk ke kamar putri. Baik tamu perempuan atau laki-laki.

“Di sini kebanyakan tamu yang datang tamu laki-laki, bisa gebetannya, selingkuhannya, atau pacarnya,” kata Ranita yang kali ini berlagak seperti guide.

Setiba di kamar Silvi, terdapat dua sandal dan beberapa pasang sepatu. Satu pasang sepatu sepertinya kepunyaan laki-laki. Pun pintu kamar terkunci rapat. Kamar Silvi terletak di lantai dua.

“Silvi, ini aku,” panggil Ranita mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban dari dalam. Ranita pun mengetuk lagi.

“Iya sebentar, masih berbenah nih,” seorang perempuan dari dalam menjawab.

“Kita tunggu dulu,” kata Ranita yang sepertinya paham dengan apa yang terjadi di dalam sana.

Ranita lantas menceritakan soal masalah sandal dan sepatu ini. Sepele tapi berbobot. Tiba-tiba dia menunjuk ke arah pojok kamar.

“Lihat di sana, itu ada sepatu pria, di sebelahnya ada sepatu wanita,” tunjuk Ranita, lantas dia melihat jam di tangannya sebentar.

“Hmm, begitu rupanya, pantas sekarang sudah jam 2,” gumamnya.

“Apanya yang jam 2?” tanya LIcom.

“Waktunya anak kuliah pada pulang,” seloroh Ranita.

Ranita kemudian menjelaskan, biasanya kalau anak kampus selesai kuliah, mereka langsung bobok-bobok siang di kos. Tidak sekedar bobok. Tapi bobok yang lain. Ranita tidak menjelaskan secara gamblang arti dari ‘bobok’. Mungkin saja yang dimaksud adalah bercinta.

Dan memang sudah menjadi kebiasaan di kos-kosan putri atau putri, istilah bobok siang kerap diartikan dengan bercinta seusai kuliah. Terbukti, di beberapa kamar kos putri, banyak sekali ditemukan kamar-kamar yang terkunci rapat.

Bukan lantaran tidak ada penghuninya, melainkan pintu itu sengaja ditutup dari penghuni di dalamya. Saat itulah yang namanya privasi benar-benar terjaga. Cuma, kali ini, untuk kasus Silvi, dia harus cepat-cepat membereskan privasinya. Soalnya ada tamu yang menunggu di luar.

Kira-kira hampir 15 menit Silvi membukakan pintunya. Apakah selama itu Silvi berbenah. Setidaknya ‘berbenah’ yang dimaksud Silvi adalah berbenah soal lain. Istilah Ranita: berbenah kenikmatan.

Fenomena Seks In The Kos atau bercinta di kos-kosan seperti inilah yang mulai ramai di Yogya. Dan kebiasaan seperti ini sangat mudah ditemui di beberapa tempat di Yogyakarta. Seks di kos-kosan, bagi orang-orang seperti Ranita dan Silvi, kebiasan itu bukan hal yang baru.

Jauh sebelumnya, mereka pernah dan sering melakukan hal tersebut. Dan itu bukan sekedar cerita atau wacana saja, melainkan benar-benar terbukti nyata. Ada TKPnya atau tempatnya, ada saksinya, dan ada pelakunya.

Silvi membuka pintu kamarnya. Perempuan itu sangat cantik. Kulitnya putih dan bersih. Tak beda dengan Ranita. Cuma, dia sedikit kelelahan. Sementara, di dalam kamar sudah ada seorang laki-laki yang sedang menghisap rokok.

“Ayo kita jalan-jalan,” sambut Ranita yang memang dikenal periang ini.

Ranita memang seorang yang pandai membangunkan suasana. Ada dia, kata Silvi, semua jadi ramai.

“Kalau malas ajak saja Josh, kamu ikut juga ya,” Ranita langsung masuk ke kamar Silvi meski tanpa disuruh masuk si pemilik kamar. Dia langsung menghampiri lelaki bermata sipit itu.

“Sebentar aku capek,” sahut laki-laki tersebut. Rupanya mereka bertiga adalah sahabat. Mereka teman satu kampus. Pantas saja akrab.

“Masa gitu aja sudah capek,” lanjut Ranita.

“Halah, jangan dibahas, aku tak ganti baju dulu,” kata Silvi menengahi.

Capek, lelah, malas, merokok, kata-kata ini sangat lekat dengan orang yang baru saja melakukan aktifitas bercinta.

Dan memang benar, siang itu mereka baru saja ‘bobok-bobok’ siang seperti kata Ranita. Melihat dari obrolan mereka, Silvi dan Josh baru saja menyelesaika urusan percintaan di tempat tidur.

Bagi mereka, kebiasaan seperti itu sudah biasa. Sudah lumrah. Tidak ada anehnya. Pun Ranita, dia mengaku juga sering melakukan hal itu bersama pacarnya. Cuma, kali ini penyanyi R & B tersebut baru saja putus dari pacarnya. Jadi, dia tidak memiliki pacar untuk diajak ‘bobok-bobok’ siang lagi.

“Ya beginilah kalau mereka pacaran. Enak toh. Aku juga pengin. Tapi aku lagi jomblo nih,” kata Ranita menyindir kedua temannya yang baru saja bercinta.

“Makanya cari, jangan seperti yang sebelumnya,” celetuk Silvi.

“Besok ah, aku cari ini,” jawab Ranita yang kemudian bergegas bangun dari tempat tidur. “Ku tunggu kalian di tempat biasanya, oke!”

Mereka kompak mengangguk.bersambung/nov/LI-07

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty






code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty