x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Dalam Waktu Dua Tahun, Perdagangan Manusia Menjamur di Bogor

Jumat, 18 Nopember 2011 19:15 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Dalam Waktu Dua Tahun, Perdagangan Manusia Menjamur di Bogor - - Foto.*ilustrasi

Foto.*ilustrasi

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM : Bogor ternyata masuk dalam zona II untuk kasus perdagangan manusia atau human trafficking. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, terjadi lebih dari sepuluh kasus trafficking.

Data tersebut diperoleh berdasarkan laporan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Menurut Kepala LPPM Institut Pertanian Bogor (IPB) Pusat Kajian Gender dan Anak, Titik Sumarti, kasus trafficking di Jawa Barat terbilang tinggi. “Dibandingkan dengan wilayah lain, jumlah kasus trafficking memang tinggi. Di satu Kabupaten Cianjur saja, bisa ditemukan hingga 90 kasus per tahunnya,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Baca juga: Santri pesantren Bogor diajak aktif menulis dan Malaysia ajak pengusaha Jawa Timur kerjasama bisnis

Di Jawa Barat, kata dia, terdapat sejumlah zona pemetaan kasus trafficking. Yang paling rawan berada di daerah Cianjur, Indramayu dan Karawang. Bahkan, ketiganya dikategorikan sebagai zona merah.
Untuk zona merah, trafficking bisa mencapai lebih dari 90 kasus. “Seperti yang terjadi di Cianjur pada 2009 lalu, mencapai 93 kasus,” ungkapnya di sela-sela workshop, beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk Kota/Kabupaten Bogor, Kota/Kabupaten Bekasi serta wilayah Garut, memasuki zona kedua untuk perdagangan manusia. Artinya, di Jawa Barat, Bogor, masih menjadi sasaran empuk untuk dijadikan lokasi jual beli.
Pengurus P2TP2A Kabupaten Bogor Bidang Kerjasama dan Rujukan, Ratu Nailamuna mengatakan, kasus trafficking tidak hanya terjadi transaksi antarnegara saja. Tapi di lingkungan lokal pun kerap terjadi.

“Ada perempuan anak-anak di bawah umur yang asalnya dari luar wilayah Bogor, untuk bekerja dengan profesi yang tidak layak. Dan itu terjadi di Bogor,” ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Bogor, itu.

Mayoritas kasus trafficking terjadi akibat masalah ekonomi. “Sebagian besar korban trafficking pasti tergoda karena iming-iming gaji yang besar dan upah tinggi. Padahal korban tersebut tak tahu bahwa dia akan dijual,” tukasnya. umr/LI-08




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty