x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Intensivikasi dan Diversifikasi

Ternak Sapi Untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin di Daerah

Selasa, 20 Desember 2011 14:17 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Ternak Sapi Untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin di Daerah - Intensivikasi dan Diversifikasi -

code: 160x600, idcomsky1com is empty


Oleh : Dr Budi Rianto Drs MSi Wakil Rektor (Warek) I Ubhara Surabaya dan Peneliti Hibah Riset Strategis Pengentasan Kemiskinan DIKTI

LENSAINDPNESIA.COM: Ekonomi kreatif berorientasi pada masyarakat miskin perlu mendapatkan perhatian yang intensif dari pemerintah daerah, di tengah demokrasi dan liberalisasi perekonomian global saat ini. Liberalisasi perekonomi dan demokratisasi telah memberikan peluang yang lebih kuat untuk memacu pertumbuhan ekonominya. Sedangkan masyarakat yang miskin dan kurang mampu, akan semakin terpuruk karena ketiadaan kapasitas untuk ikut bersaing secara liberal.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, melalui APBN mapun APBD harus mampu menjaga keseimbangan serta proses pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya untuk kelompok yang miskin yang termajinalkan oleh sistem demokrasi dan liberalisasi ekonomi tersebut.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin tersebut, menjadi penting agar kecemburuan sosial tidak berlanjut menjadi suatu proses yang kontrapoduktif bagi upaya memajukan kesejahteraan umum yang menjadi tugas utama pemerintah. Kestabilan sosial tidak mungkin dapat terjaga dengan baik, bila terjadi disparitas yang tinggi antara si kaya dengan si miskin. Begitu pula disparitas pertumbuhan ekonomi di perkotaan dengan pertumbuhan ekonomi di perdesaan, harus tetap terjaga keseimbangan yang simbiosa mutualistik, sehingga kesenjangan antara kota dan desa dapat diredam dan tidak menimbulkan ledakan urbanisasi yang akan menjadi beban bagi masyarakat perkotaan.
Kontradiksi antara Penyediaan Pangan Murah dan Pemberdayaan Masyarakat Miskin Berbasis Ternak Sapi
Secara teoritis bila mengikuti hukum pasar, seharusnya usaha peternakan sapi potong pada saat ini masih menjanjikan karena permintaan pasar akan daging sapi masih menunjukkan adanya peningkatan.

Selain pasar domestik, permintaan pasar luar negeri juga cukup tinggi. Kebutuhan daging sapi dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan permintaan pasar yang meningkatkan karena pergeseran kebiasaan konsumsi dari daging kambing ke daging sapi atau kerbau. Khususnya pada saat perayaan hari besar maupun acara resepsi keluarga lainnya di kalangan masyarakat Asia Tenggara.

Sejauh ini peternakan domestik di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan daging dalam negeri. Di sisi lain, infrastruktur alam sebagai basis usaha di bidang pertanian maupun peternakan, telah mengalami degradasi karena berkurangnya lahan dan berkurangnya tanaman untuk pakan sapi.

Kondisi ini telah menimbulkan biaya tinggi usaha pertanian pada umumnya dan ternak sapi pada khususnya. Sekalipun masih ada ketimpangan antara kebutuhan pasar (deman) dengan penawaran (supply) daging sapi masih tinggi, ketersediaan kebutuhan pangan yang murah sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk menjaga kestabilan harga murah pangan atau daging sapi.

Kondisi inilah yang menyebabkan kebijakan impor daging sapi di Indonesia masih terus berlangsung dari tahun ke tahun, demi ketahanan pangan nasional dan legitimasi pemerintah dalam upaya menunjukkan keefektifannya dalam memajukan kesejahteraan umum sebagaimana pemerintahan demokrasi pada umumnya.

Pengembangan Komunitas Miskin Berbasis Ternak Sapi
Struktur sosial ekonomi masyarakat di daerah, sangat di dominasi oleh sistem produksi ekonomi berbasis alam atau industri hulu. Perekonomian hulu berlangsung dan berkembang karena para pemilik modal lebih suka membangun industri hilir yang relatif lebih dekat dengan konsumen masyarakat perkotaan. Di sisi lain perkembangan perdagangan internasional, telah pula memicu pertumbuhan ekonomi perkotaan secara tidak seimbang dengan ekonomi perdesaan.
Ekonomi di daerah perdesaan, karena kurangnya infrastrukur cenderung menjadi stagnan dan menimbulkan ketimpangan pertumbuhan ekonomi perkotaan dan perdesaan. Dalam masyarakat perdesaan ini, sebenarnya telah melembaga dan membudaya hubungan kerja produktivitas ekonomi antara pemilik modal (si kaya) dan pekerja (si miskin), dalam sistem sosial ekonomi tertentu sekalipun tanpa adanya landasan hukum formal yang jelas dan berlangsung sebagai social fabric yang potensial untuk dikembangkan secara lebih produktif.
Dari hasil berbagai penelitian tentang Intensifikasi dan diversifikasi usaha ternak sapi potong, di daerah Kabupaten Trenggalek dan beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur, menunjukkan bahwa hubungan kemitraan antara orang kaya dan orang miskin tersebut, telah terjalin dalam suatu sistem produksi yang fair dalam pembagian hasil usaha berbasis ternak sapi. Sistem sosial ekonomi yang terbangun, adalah budaya gaduh atau maro dimana keuntungan dari hasil usaha ternak sapi tersebut dibagi dua secara rata antara pemilik modal dan pekerja.
Namun demikian dalam sistem sosial ekonomi ini, ternyata membutuhkan perangkat nilai-nilai kejujuran, saling kepercayaan dan saling pengertian diantara kedua belah pihak, agar hubungan kemitraan ekonomi tersebut dapat berlangsung dengan baik. Budaya gaduh kini telah mengalami degradasi karena hubungan kekerabatan di daerah sudah mulai luntur, begitu pula dengan kejujuran yang dibutuhkan dalam hubungan kerja tersebut, sudah tidak mampu lagi menopang kinerja ekonomi berbasis budaya gaduh.

Dalam kondisi seperti ini, bila tidak dilakukan treatment dari pemerintah secara tepat atau maupun riset pengembangan lebih lanjut dalam sistem sosial tertentu, maka kebutuhan daging sapi yang sangat potensial bagi pencapaian ketahanan pangan nasional khususnya daging sapi serta upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di daerah dapat terkendala.

Intensifikasi dan Diversifikasi Usaha Ternak Sapi sebagai ekonomi kreatif untuk masyarakat miskin. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa sistem gaduh tetap diperlukan sebagai model hubungan kemitraan antara si kaya dengan si miskin di daerah, dalam usaha ternak sapi.

Namun demikian, intensifikasi dan diversifikasi usaha ternak sapi potong perlu dilakukan sebagai pengembangan usaha ternak sapi agar upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin perdesaan, serta hubungan kemitraan antara pemilik modal dengan pekerja peternakan sebagai usaha ekonomi lebih menjanjikan.

Ternak sapi sebagai basis usaha produktif pengembangan perekonomian masyarakat di daerah, sangat potensial untuk ketahanan pangan nasional khususnya kebutuhan daging, mengingat dukungan lingkungan alam yang masih memungkinkan untuk usaha peternakan.

Adapun upaya intensifikasi dan diversifikasi usaha tersebut, antara lain dapat dilakukan dengan cara pembuatan kandang multifungsi, untuk produksi biogas dari kotoran sapi dan produksi pupuk organik dari kotoran sapi. Sistem kandang produktif tersebut, dapat dikembangkan pada setiap keluarga miskin penggaduh ternak sapi yang umumnya bekerja serabutan dibidang pertanian. Dengan demikian ada hasil ganda yang dapat dimanfaatkan oleh penggaduh ternak sapi (pekerja ternak sapi) berubah biogas, yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak dan penerangan rumahnya sehari-hari.

Selanjutnya dari ampas kotoran sapi tersebut, dapat dimanfaatkan untuk bahan dasar pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk dijual pada konsumen maupun untuk kepentingan usaha pertanian lainnya, sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian lainnya yang dikerjakan selain beternak sapi.

Kesimpulan
Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin melalui peningkatan pemanfaatan ekonomi berbasis intensifikasi dan diversifikasi usaha ternak sapi tersebut, memiliki peluang besar untuk dapat dinikmati oleh kedua belah pihak secara lebih adil, baik pemilik sapi maupun penggaduh (pekerja ternak sapi) yang umumnya berada di daerah.

Melalui intensifikasi pekerja ternak sapi dapat dimanfaatkan untuk biogas maupun pupuk kompos (organik) yang dihasilkan dari kotoran sapi, sehingga ternak sapi bisa memiliki efisiensi produktivitas yang tinggi bagi kebutuhan ekonomi masyarakat miskin di daerah. Selain itu diversifikasi usaha dapat pula dikembangkan oleh pemilik sapi dari berbagai hasil ternak daging sapi tersebut, baik dalam bentuk daging olahan maupun kulitnya pasca pemeliharaan sapi tersebut, bisa memberikan keuntungan lebih besar bagi diversifikasi usaha pemilik modal, untuk bergeser ke industri hilir.

Dengan demikian, sebenarnya ada berbagai manfaat ganda yang dapat diambil dari intensifikasi dan diversifikasi ternak sapi potong tersebut, sebagai teknologi tepat guna untuk masyarakat miskin, bila dikelola secara intensif dengan didukung hubungan kemitraan ekonomi yang dikembangkan dengan baik, untuk pemenuhan kepentingan usaha ekonomi lainnya.LI-05

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty






code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty