x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Kasus Eksploitasi Anak di Bawah Umur

Polwan Nyamar jadi Tante Girang Diduga Menjebak Sindikat Trafficking

Kamis, 22 Desember 2011 01:44 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Polwan Nyamar jadi Tante Girang Diduga Menjebak Sindikat Trafficking - Kasus Eksploitasi Anak di Bawah Umur - Tante Irene Wahyuni (foto hitam putih) yang diduga polwan. Foto inzet: terdakwa Ardianto.

Tante Irene Wahyuni (foto hitam putih) yang diduga polwan. Foto inzet: terdakwa Ardianto.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Sidanglanjutan terdakwa Ardianto terkait perkara eksploitasi anak di bawah umur(Trafficking)kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (21/12).

Agenda sidang mendengar keterangan saksi korban, Nur Wahyudi (16). Wahyudi dalam keterangan saksinya dimuka persidangan menyatakan, bahwa dirinya dan terdakwa Ardianto adalah teman dekat.

Baca juga: AAI Surabaya sediakan Posbankum kasus Trafficking dan Edan, seorang ibu jual 12 anak gadisnya sebagai pelacur

Tanpa sepengetahuan saksi korban, terdakwa Ardianto mengajak keliling ke kota Pahlawan Surabaya. Saat itu korban dikenalkan dengan seorang teman terdakwa, Rofiudin yang juga  Buron. “Saya dan terdakwa diajak Rofi ke salah satu hotel, di hotel Istana Permata (Isper, Jl Ngagel Jaya Indah Surabaya),” terangnya.

Di ruang lobi Isper itulah mereka melakukan perbincangan ringan. Menurut Wahyudi, Rofi menyuruhnya naik ke atas, menuju salah satu kamar untuk menemui seorang tante-tante (Irene Wahyuni).

Pengakuan korban, dirinya tidak mengenal dengan perempuan itu. Dirinya hanya diberi gambaran oleh Rofi, bahwa dia disuruh naik ke atas untuk menemani Irene Wahyuni, dan korban dijanjikan akan diberi uang.

Dalam dakwaan JPU, wanita yang disebut sebagai tante yang juga sebagai saksi itu tercatat sebagai warga perumahan Puri Indah Blok Blok ZA, Sidoarjo Jawa Timur.

Saat korban bertemu langsung dengan Irene di kamar hotel, korban disarankan untuk mandi. Anehnya disaat korban sedang dalam posisi masih mandi tiba-tiba polisi menggerebek kamar hotel tempat korban hendak bermalam.

“Saya dan terdakwa Ardi  tidak tahu apa-apa. Saya disuruh datang untuk menemani tante. Kemudian saya disuruh mandi, usai mandi langsung ada polisi,” papar korban.

Dading P Hasta selaku kuasa hukum terdakwa, mengaku tidak mengerti apa yang didakwakan JPU terhadap klienya. “Tuduhan terdakwa menjual saksi korban tidak pernah dilakukan. Dari keterangan saksi korban di persidangan kan sudah jelas, bahwa terdakwa tidak mengetahui apa-apa, terdakwa juga tidak pernah menyatakan pada saksi, bahwa, saksi akan dijual kepada tante-tante,” bantah Dading.

Lanjut Dading, bahwa ada dugaan Irene yang disebut tante itu merupakan anggota polwan, yang sengaja dipasang untuk menjebak terdakwa. “Ini adalah jebakan dari polisi, kita lihat saja nanti apakah Irene Wahyuni saat diminta kesaksiannya datang ke persidangan atau tidak,” tambahnya.bambang




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty