x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi Dibaliknya

Jumat, 06 Januari 2012 01:09 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi Dibaliknya - - organization learning/ilustrasi

organization learning/ilustrasi

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Setiap organisasi di dunia ini memiliki dua mimpi, yakni tetap ada, dan berkembang, baik segi kualitas maupun kuantitas. Untuk membuat dua mimpi tersebut menjadi nyata, banyak uang dikeluarkan, dan banyak usaha dilakukan. Namun sebagaimana dicatat oleh Baldoni, seringkali upaya tersebut, walaupun mulia, tidak fokus kena pada apa yang perlu dilakukan.

Banyak organisasi lupa untuk menghayati satu hal yang amat penting, yang ada di dalam organisasi itu sendiri, yakni tujuan (purpose). Tujuan, demikian kata Baldoni, adalah dasar bagi visi organisasi. Tujuan juga merupakan pedoman nilai untuk melaksanakan misi praktis organisasi di dalam rutinitasnya. Tujuan organisasi pula yang menjadi dasar dari kultur organisasi tersebut.

Baca juga: Pendidikan Jadi Pilar Jati Diri Bangsa dan Siswa di Tengah Egoisme Pemerintah dan Proyek Ujian Nasional

“Kultur organisasi”, demikian tulis Baldoni, “lahir dari organisasi yang memiliki tujuan jelas, karena tujuan adalah sesuatu yang membentuk kepercayaan individual dan norma-norma organisasi.” (Baldoni, How to Instill Purpose, 2011)

Dengan tujuan yang jelas, dan dihayati, organisasi bisa melakukan hal-hal besar yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengan tujuan yang jelas dan dihayati, organisasi bisa tetap ada, walaupun jaman berubah, dan terus berkembang, baik dalam soal kualitas maupun kuantitas.

Dengan adanya tujuan yang jelas dan dihayati bersama, organisasi bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan. Terkait dengan para pekerja, sekarang ini, sikap patuh buta atau taat perintah sudah tidak terlalu dibutuhkan.

Setiap organisasi membutuhkan pekerja yang merasa terlibat dengan tujuan maupun visi organisasi tersebut. Mereka datang ke tempat kerja dengan semangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Ini semua terjadi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Di dalam dunia yang terus berubah, hanya ada satu norma yang pasti, yakni ketidakpastian itu sendiri. Baldoni menyebut ketidakpastian dunia ini sebagai ambiguitas hidup. Banyak juga orang yang memandang ketidakpastian hidup ini sebagai sesuatu yang negatif, yang harus dilenyapkan. Namun sayangnya sikap takut pada ketidakpastian justru bermuara pada keputusan-keputusan yang didasarkan pada pikiran sempit, dan tindakan-tindakan yang reaksioner, yang justru malah merusak organisasi itu sendiri.

Menurut Baldoni para pemimpin besar di dunia ini, baik pemimpin bisnis maupun politik, menjadikan ambiguitas hidup sebagai teman, bahkan sahabatnya. Dengan memeluk ambiguitas hidup, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terlihat sebelumnya, asal kita mau sabar dan cermat. Adanya tujuan organisasi yang jelas dan dihayati bersama juga membantu kita memeluk ketidakpastian, dan menangkap kemungkinan-kemungkinan yang muncul kemudian, yang pada akhirnya mengembangkan organisasi tersebut.

Sekarang ini banyak pula organisasi yang mengalami krisis kepemimpinan. Pimpinan hebat di masa lalu gagal melakukan regenerasi, sehingga ketika ia pergi, organisasi mengalami kesulitan. Padahal untuk bisa bertahan melalui lintasan waktu dan perubahan jaman, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yang berbasis pada nilai-nilai yang jelas.

Maka dari itu investasi perlu dilakukan, yakni dalam konteks pengembangan sumber daya manusia untuk menemukan calon-calon pemimpin di masa depan. Bahkan orang-orang muda di dalam organisasi perlu diajak bekerja sama secara langsung dengan para pemimpin yang ada, supaya terjalin hubungan yang lebih dalam, sehingga proses transfer nilai, dan refleksi atasnya, bisa terjadi secara nyata.

Langkah pertama seorang pemimpin adalah memahami dan menghayati tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Tujuan itu harus dibadankan, sehingga menjadi satu dengan cara berpikir dan gerak gerik dirinya. Dengan berpijak pada tujuan yang jelas, seorang pemimpin bisa mengajak pegawainya untuk terlibat, merasa berarti, dan bekerja sama untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Dengan bekal semacam itu, ketidakpastian dan ambiguitas hidup bukanlah ancaman, melainkan justru kesempatan untuk berkembang.

Baldoni menyarankan agar setiap pemimpin organisasi tidak hanya berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, tetapi juga dengan perilaku rutin mereka. Perilaku yang terlibat membawa sejuta makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar perintah kata-kata. Inilah kepemimpinan yang sejati, dan bukan sekedar bos, apalagi birokrat. Mereka terlibat di dalam semua dimensi kerja organisasinya. Dengan itu cinta mereka terhadap apa yang mereka kerjakan memancar keluar, dan menular ke komunitas sekitarnya.

Kesimpulan Baldoni amat penting untuk kita, bahwa tujuan dari suatu organisasi harus dihayati sampai ke akar-akarnya, dan bukan hanya sekedar tempelan di ruang kerja, atau kata-kata indah dalam mars organisasi. Tujuan organisasi bisa menjadi roh yang mendorong lahirnya kreatifitas, keterlibatan, dan strategi yang efektif untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan.

Di dalam semua proses tersebut, ada satu komponen yang kerap terlupakan, yakni kemampuan pemimpin untuk menginspirasi seluruh komunitas organisasinya. Kita hidup di masyarakat yang amat suka mengukur kemampuan dan bakat orang. Tak heran banyak orang percaya begitu saja, sampai pada level naif, pada tes bakat, tes kepribadian, dan tes-tes lainnya.

Namun sebagaimana dicatat oleh Kaufman, ada satu aspek yang amat penting, yang seringkali terlupakan dalam hidup kita, yakni inspirasi. (Kaufman, Why Inspiration Matters, 2011) Kemampuan orang untuk mendapatkan inspirasi, dan untuk menginspirasi orang lain, seringkali lolos dari berbagai tes-tes yang ada.

Apa itu inspirasi dan mengapa itu begitu penting? Inspirasi adalah dorongan dalam diri yang membangunkan kita pada kemungkinan-kemungkinan baru. Inspirasi adalah gejolak dalam diri yang mengajak kita untuk melampaui pengalaman rutinitas sehari-hari, dan melampaui batas-batas kita yang telah ada. Dengan inspirasi orang menjadi terlibat, dan memaksa dirinya untuk bekerja melampaui kemampuan diri sebelumnya.

Di dalam hidup sehari-hari, orang suka melupakan inspirasi. Itu masuk akal saja, karena memang inspirasi bukanlah barang rutin, melainkan barang luar biasa yang datang dan pergi tanpa diduga.

Di beberapa tradisi pemikiran, inspirasi seringkali dikaitkan dengan wahyu supra natural yang berasal dari Tuhan, ataupun dewa dewi. Namun penelitian-penelitian terbaru, menurut Kaufman, berhasil menunjukkan, bahwa inspirasi bisa dikondisikan untuk ada, dan dampaknya bisa amat luar biasa. (Kaufman, 2011)

Menurutnya ada tiga aspek dasar dari inspirasi, yakni penyadaran, transendensi, dan motivasi. Inspirasi lahir dari proses penyadaran yang seringkali terjadi tanpa diduga. Proses tersebut mengangkat kita, walaupun sesaat, dari keterpakuan kita pada kepentingan maupun kekuasaan diri (transendensi diri). Pada titik itu kita memperoleh perspektif yang jernih tentang dunia, dan sadar atas adanya kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak terlihat. Ketika mendapatkan inspirasi orang seperti merasa “kerasukan”, yakni melihat dunia dengan cara lain, dan merasa mendapatkan visi besar tentang hidupnya yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. Semua ini hanya dapat terjadi, jika ada motivasi yang cukup kuat dari individu untuk menciptakan, dan membuat mimpi terpendam menjadi kenyataan.

Motivasi yang amat kuat akan melahirkan inspirasi yang tak terduga. Dalam konteks ini inspirasi melibatkan dua hal, yakni orang yang terinspirasi oleh sesuatu, bisa mulai suara burung, hujan, dan sebagainya, lalu dia bertindak atas dasar inspirasi itu. Maka dari itu menurut Kaufman, orang-orang yang gampang terinspirasi biasanya memiliki ciri tertentu, yakni keterbukaan mereka pada pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah dialami.

Dari pengalaman baru mereka bisa menyerap hal-hal baru dengan mudah, dan mengintegrasikan itu semua ke dalam diri mereka. Logikanya begini. Keterbukaan diri pada pengalaman-pengalaman baru adalah awal dari inspirasi. Dan dengan keterbukaan tersebut, orang justru bisa mendapatkan inspirasi dalam hidupnya. Artinya orang yang terbuka pada inspirasi hidup adalah orang-orang yang nantinya akan mendapatkan inspirasi tak terduga di dalam hidupnya. Maka keterbukaan diri adalah sesuatu yang amat penting.

Di sisi lain menurut Kaufman, orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki dorongan kuat untuk menguasai dengan baik apa yang menjadi profesi atau pekerjaan mereka. Walaupun begitu mereka tetap bukan individu-individu yang kompetitif. Mereka tidak membutuhkan panggung sebagai bukti, bahwa mereka lebih baik dari orang lain.

Panggung semacam itu hanya diperlukan oleh orang-orang yang tak mampu melampaui egoisme dirinya. Orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki motivasi diri yang amat kuat untuk mengembangkan diri. Mereka tidak terlalu peduli pada dorongan eksternal. Dampaknya amat besar. Mereka bekerja bukan untuk alasan-alasan di luar pekerjaan itu sendiri, tetapi demi dan karena pekerjaan itu sendiri cocok dengan jiwa mereka.

Orang-orang inspiratif adalah orang-orang yang berhasil mentransendensi egoisme dirinya sendiri. Secara psikologis juga dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang inspiratif memiliki karakter psikologis yang baik, seperti kepercayaan pada kemampuan diri mereka, serta optimisme yang tinggi dalam melihat hidup dan dunia.

Orang-orang inspiratif memiliki gudang inspirasi mereka sendiri. Dengan inspirasi yang ada, mereka mampu menguasai dengan baik apa yang menjadi pekerjaan mereka, kreatif dalam menemukan hal-hal baru yang berguna, mampu menyerap hal-hal baru yang belum mereka ketahui, amat percaya diri, dan optimis di dalam hidupnya.

Namun sebagaimana diingatkan oleh Kaufman, inspirasi tidak sama dengan berpikir positif. Orang yang berpikir positif di dalam setiap keadaan bisa jatuh ke dalam kenaifan tersendiri, sehingga reaksi yang ia berikan tidak tepat dengan realitas yang terjadi. Sementara orang-orang yang inspiratif (karena terinspirasi oleh banyak hal) cenderung memasuki keadaan sementara yang penuh dengan makna dan spiritualitas, yang berada di luar kontrol mereka sendiri.

Pikiran positif seringkali sifatnya jangka pendek dan disadari, sementara inspirasi terkait dengan semacam pengalaman mistik, yang penuh dengan harapan, bahwa ada hal yang lebih baik, lebih baru, dan lebih penting dari apa yang sudah ada sebelumnya. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa menjadi kreatif, yakni mencipta hal-hal baru. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa melihat melampaui halangan-halangan yang ada, dan menemukan solusi yang pas untuk tantangan di depan mata.

Konsekuensi logisnya orang-orang yang inspiratif, karena ia sendiri menemukan banyak inspirasi di sekitarnya, akan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Ia akan merasa bahwa hidup yang dijalaninya bermakna, lepas dari berbagai tantangan yang ada. Lepas dari semua teori yang ada tentang inspirasi, ada satu hal yang tetap harus dipegang teguh, bahwa inspirasi datang tak terduga. Inspirasi tak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa berusaha dengan pikiran terbuka dan motivasi yang kuat. Namun semua itu belum pasti mendatangkan inspirasi.

Kesadaran semacam ini membebaskan kita dari sikap memaksa diri yang berlebihan. Namun sebaliknya juga benar, bahwa inspirasi tidak harus bersifat mistik, atau merupakan pancaran berkah ilahi. Inspirasi menurut Kaufman paling tepat dipikirkan sebagai “interaksi yang mengagetkan antara pengetahuan yang telah ada dan informasi baru yang kamu terima dari dunia.” (Kaufman, 2011)

Inspirasi adalah kombinasi ganjil antara apa yang sudah diketahui sebelumnya dengan informasi baru yang dialami. Dari kombinasi ganjil itulah lahir percikan-percikan ide tak terduga.

Kombinasi ganjil tersebut tetap dapat diusahakan, selama orang menerapkan keterbukaan pikiran, bersikap positif pada pelbagai peristiwa dunia, bekerja keras di dalam profesi terkait, dan termotivasi untuk melampaui batas-batas diri yang ada. Yang juga tak kalah penting adalah orang perlu untuk membaca, mempelajari, dan memahami kehidupan orang-orang yang inspiratif, seperti para pemimpin besar dunia, ataupun orang-orang besar lainnya yang telah mengubah dunia. Kehidupan mereka adalah gudang inspirasi yang amat berharga.

Dengan terus terbuka pada kemungkinan mendapatkan inspirasi, anda bisa menjadi pemimpin yang inspiratif. Itu digabungkan dengan kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain sejalan dengan tujuan organisasi (i), kemampuan menyentuh setiap elemen organisasi secara personal dan manusiawi (ii), kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri (iii), serta keberanian untuk menantang pola berpikir lama yang mapan dan membuka diri untuk kreativitas (iv), orang akan menjadi pemimpin hebat yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang. (Kaufman, 2011)

Sebagai langkah praktis yang bisa kita lakukan sekarang adalah menciptakan situasi-situasi yang mendukung setiap orang, apapun posisinya di dalam organisasi, mampu mendapatkan inspirasi sesering mungkin, dan menerapkannya menjadi kenyataan.

Oleh: Reza A.A Wattimena (Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya)
Diunggah: ian kurima/lensaindonesia.com




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty