x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


KH. Mukhlas Qurdy : 'Rebu Wekasan' Bukan Budaya

Ritual Keagamaan Dalam Menghindari Bencana

Jumat, 20 Januari 2012 00:32 WIB (3 years yang lalu)Editor:
Ritual Keagamaan Dalam Menghindari Bencana - KH. Mukhlas Qurdy : 'Rebu Wekasan' Bukan Budaya - Ritual 'Rebu Wekasan' masyarakat Sidoarjo

Ritual 'Rebu Wekasan' masyarakat Sidoarjo

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM : Seakan sudah menjadi kewajiban bagi kalangan Islam Nahdlyin (NU), ritual Rebu Wekasan (Hari Rabu Yang Terakhir) selalu rutin dilakukan setiap tahun dan diadakan serempak di dalam masjid-masjid ataupun surau.

Termasuk hari ini, Selasa malam Rabu (17/01), tepatnya habis sholat Maghrib, kebanyakan warga nahdlyin baik yang ada di kota maupun desa tampak berbondong-bondong pergi ke masjid atau surau sambil membawa makanan ataupun minuman seadanya untuk melaksanakan ritual RebuWekasan.

Baca juga: Upaya tingkatkan perlindungan bagi masyarakat didaerah rawan bencana dan Fujitsu jalin kerjasama dengan BPBD DKI Jakarta

Ritual Rebu Wekasan ini diawali dengan membaca sholawat nabi secara bersama-sama dengan para jamaah yang hadir, yang dilanjutkan dengan pemberian siraman rohani oleh sang Kyai dalam beberapa hitungan menit, sebelum mengerjakan sholat Sunnah Mutlaq 4 Rokaat.

Setelah itu, ritual tahunan ini diakhiri dengan membaca dzikir serta memanjatkan doa-doa untuk meminta keselamatan kepada sang Khalik agar terhindar dari bencana yang diturunkan ke dunia.

Akhirnya, ritual Rebu Wekasan ini ditutup dengan makan bersama-sama dengan menyantap makanan dan minuman yang telah dikumpulkan para jamaah kepada panitia kegiatan ritual tersebut.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande Candi Sidoarjo, KH. Mukhlas Qurdy, ritual Rebu Wekasan merupakan salah satu kebijakan yang telah dilakukan oleh para ulama salafus sholih jaman dulu sebagai upaya untuk menyelamatkan ummatnya agar terhindar dari Balak (bencana) di dunia.

Katanya, disebutkan dalam kitab Nihayatul Zain karangan Imam Nawawi, bahwa setiap malam hari Rabu yang terakhir di bulan Safar, Tuhan memerintahkan para malaikatnya untuk memindahkan seluruh Balak (320.000 bencana) yang ada di Lauhul Mahfudz ke dunia.

“Agar terhindar dari Balak tersebut, maka para ulama salafus sholih mengadakan ritual Rebu Wekasan.”terang Gus Mukhlas, panggilan sehari-harinya.

Sedangkan tentang Jajan Pasar (istilah makanan saja) yang dibawa seadanya ke masjid merupakan bentuk shodaqoh (amal) dari masing-masing jamaah yang bertujuan untuk menghapus kejelekan menjadi sebuah kebaikan, lebih singkatnya untuk menolak bencana.

“Hal ini sesuai dengan fatwa Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya tentang keutamaan bershodaqoh.”tambahnya.

Dengan demikian, tambah Gus Mukhlas, Rebu Wekasan yang selama ini dikatakan sebagai budaya atau adat, adalah tidak benar. Selain memohon untuk diberi keselamatan oleh Allah, ritual Rebu Wekasan tersebut mempunyai dasar hukum yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

“Jadi tidak benar, jika Rebu Pungkasan itu dikatakan sebagai adat atau budaya.”tegasnya mantab.*jani

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty