Komisi I DPR RI saat berada di Airport Tegel, Berlin Jerman.
LENSAINDONESIA.COM: Kunjungan kerja Komisi I DPR ke Jerman mendapat protes dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Jerman. Pasalnya, Kunker yang dilakukan wakil rakyat itu selayaknya liburan musim panas di Jerman. Mereka menilai studi banding itu tidak efektif dan memboroskan anggaran negara karena anggota DPR mengikutsertakan keluarga dalam rombongan tersebut.
Para pemuda itu mempertanyakan kedatangan rombongan anggota DPR yang datang bersama keluarga yang dianggap pemborosan uang rakyat. Aksi protes dan walk out itu terjadi dalam klip singkat yang diunggah di youtube, Rabu (25/4) kemarin.
Baca juga: Ahli antikorupsi AS diusir dari Moskow dan Vladimir Putin dukung Afsel kembangkan industri nuklir
Video yang berjudul ‘Aksi Protes PPI Berlin-Jerman Terhadap Komisi I DPR-RI’ direkam pada Selasa (24/4) itu diawali rekaman kedatangan anggota dewan di Airport Tegel-Berlin. Tampak beberapa wakil rakyat datang bersama keluarganya.
Menyikapi hal itu, koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), Uchock Sky Khadafi menilai, protes dari PPI dan NU Cabang Jerman tersebut merupakan representasi suara masyarakat yang merasa ‘gerah’ dengan ulah anggota dewan yang hobi ‘jalan-jalan’ ke luar negeri.
“Kunjungan Komisi I DPR ke Jerman untuk membahas tentang rencana pembelian Tank Leopard dengan KBRI (Keduataan Besar Republik Indonesia) Jerman. Itu sesuatu hal yang sia-sia dan mubazzir. Kunjungan seperti itu hanya dijadikan sarana plesiran oleh anggota DPR. Buktinya, beberapa kali anggota DPR melaksanakan kunjungan seperti itu, kinerja mereka tetap saja mengecewakan,”” tegas Uchock saat dihubungi LI.com, Kamis (26/04).
Seharusnya, lanjut Uchock, kalau ada yang perlu diketahui terkait dengan rencana pembelian Tank Leopard, Komisi I tinggal mencari infonya di internet atau langsung berkomunikasi dengan KBRI yang ada di Jerman.
“Sekarang kan zaman sudah maju, tekhnologi sudah memudahkan kita untuk mengetahui hal-hal penting tanpa harus jauh-jauh dan membuang-buang duit rakyat sebanyak itu. Jadi semakin jelas mereka (Komisi I) hanya plesiran saja,” tuturnya.
Kalau mau lebih efektif, ujar Uchock, Komisi I tinggal mengundang para ahli dari mana saja yang memang menguasai tentang rencana tersebut. “Contohya, mengenai pembelian Tank ini, kita undang saja pakar yang menguasai hal ini, selain menghemat anggaran, masyarakat jadi tahu rencana DPR untuk rakyatnya. Kalau kunjungan seperti itu, kita kan tidak tahu mereka di sana (di luar negeri) ngapain,” paparnya.
Selain itu, Uchock menilai, Komisi I yang menyertai keluarganya dalam kunjungan kerja merupakan alibi yang sungguh sangat menyesatkan. Pasalnya, dengan menyertai masing-masing keluarga mereka akan membuat anggarana semakin membengkak.
“Bohong kalau mereka bilang keluarga yang mereka bawa menggunakan uang sendiri, pasti segala fasilitas dan akomodasi semuanya ditanggung oleh Negara,’ tegas Uchock.
Untuk itu, Uchock menghimbau kepada Ketua DPR Marzuki Alie untuk lebih peka lagi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh anggota DPR, apalagi terkait kunjungan yang menghabiskan banyak uang rakyat.
“Pak Marzuki harus mendengar kritik rakyat dan harus lebih tegas lagi menyikapi hal-hal seperti ini. Anggaran semacam ini harus diamputasi,” ujar Uchock.@Hairul
Berita Terkait:
3 menit yang lalu
18 menit yang lalu
20 menit yang lalu
29 menit yang lalu
38 menit yang lalu
42 menit yang lalu
55 menit yang lalu
58 menit yang lalu
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu