x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Kritikan Ketua DPR Terhadap Sistem Pendidikan Tinggi Wajib di

Ketua DPR: Korupsi Rata-rata Didominasi ‘Jebolan’ Sarjana Negeri

Senin, 07 Mei 2012 22:40 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Ketua DPR: Korupsi Rata-rata Didominasi ‘Jebolan’ Sarjana Negeri - Kritikan Ketua DPR Terhadap Sistem Pendidikan Tinggi Wajib di Apresiasi - Ketua DPR Marzuki Alie.

Ketua DPR Marzuki Alie.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINODONESIA.COM: Kritikan yang dilontarkan Ketua DPR Marzuki Alie yang menyebutkan banyaknya/rata-rata ‘jebolan’ perguruan tinggi negeri (Sarjana Negeri) yang terlibat korupsi, seharusnya jangan dipolitisasi. Seharusnya, kalimat tersebut disikapi dengan baik oleh semua perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Demikian hal ini disampaikan Pengamat Politik dari Universitas Indonesia Boni Hargens kepada LI.com di Jakarta, Senin (7/5/2012).

Baca juga: Kejati Jatim sudah kembalian uang negara Rp 1,4 M dalam enam bulan dan Kejati Jatim punya hutang selesaikan 50 perkara korupsi

Boni Hargens menilai, kritik Ketua DPR Marzuki Alie mengenai dunia dan sistem pendidikan tinggi yang harus dikoreksi karena terbukti para pelaku korupsi adalah orang-orang yang berpendidikan. Sehingga diperlukan perubahan system adalah fakta dan merupakan kritik agar universitas mendalami moral sebagai tujuan pendidikan.

“Saya rasa ini kritik yang baik dari seorang ketua DPR yang peduli pada system pendidikan dan hasil pendidikan saat ini. Ini kritik yang baik agar universitas kembali mendalami moral sebagai tujuan pendidikan. Orientasi moral harus kembali diperhatikan karena saat ini memang hal ini terlihat sudah dilupakan,” ujar Boni.

Pendidikan saat ini menurutnya sudah sangat berorientasi kognitif, dimana anak didik dituntut untuk sekedar menjadi cerdas dan pintar saja. “Ini bukan soal orientasi kognitif saja dimana anak didik dituntut untuk menjadi cerdas setelah lulus dari universitas. Pendidikan harus bisa mendorong humanitas,” tambahnya.

Kritik ketua DPR ini menurutnya justru harus diapresiasi oleh masyarakat, terutama oleh kalangan pendidik yang diingatkan untuk kembali kepada cita-cita mereka untuk mendidik yaitu menciptakan lulusan-lulusan yang bukan hanya cerdas, tapi juga bermoral dan bisa menggunakan ilmu yang telah diraih di perguruan tinggi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik.@Ronald

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty