x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Ketum PBNU Terpilih Jadi Ketua Majelis Wali Amanat UI

Melalui Universitas, Kyai Said Bertekad Membangun Bangsa

Rabu, 16 Mei 2012 21:18 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Melalui Universitas, Kyai Said Bertekad Membangun Bangsa - Ketum PBNU Terpilih Jadi Ketua Majelis Wali Amanat UI - Ketua Umum PBNU Dr KH Said Aqil Siroj MA

Ketua Umum PBNU Dr KH Said Aqil Siroj MA

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Said Aqil Siroj MA terpilih menjadi Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI). Kesediaannya dicalonkan hingga akhirnya terpilih, diakui sebagai bagian dari upaya membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

“Bagaimanapun universitas, terlebih Universitas Indonesia adalah asset penting untuk Indonesia. Saya bersedia dicalonkan. Bahkan, akhirnya terpilih dan didaulat menjadi ketua. Karena, ingin juga membangun bangsa kita ke arah yang lebih baik,” ungkap Kyai Said dalam syukuran atas jabatan barunya di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Selasa (15/5/2012) malam.

Baca juga: Laskar Ahlussunah Wal Jamaah kawal Jokowi-JK menang Pilpres dan Prabowo: Muhammadiyah dan NU dukung saya

Hadir dalam syukuran tersebut sejumlah tokoh yang juga masuk dalam keanggotaan MWA UI, di antaranya mantan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, dan Wakil Ketua KADIN Anugrah Pekerti. Dua anggota MWA UI lainnya, yaitu Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, mantan Panglima TNI Jendral (Purn) Endriartono Sutarto. Sementara, mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab berhalangan hadir.

Acara tersebut juga dihadiri Rektor UI Gumilar R Soemantri, Menteri PPDT Helmi Faisal Zaini, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid, mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Sekjend Partai Golkar Idrus Marham, Ketua KADIN Suryo Bambang Sulisto dan sejumlah tokoh besar lainnya.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikannya sebagai sambutan, Kiai Said menyebut tantangan universitas, khususnya UI ke depannya semakin berat. UI yang merupakan kampus terbesar dan tertua di Indonesia ditantang untuk melakukan penggalian epistemology dan berinovasi atau melaksanakan pembaharuan.

“UI adalah barometer bagi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kehadiran UI harus bisa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan di negeri ini,” tandas Kiai Said.

Disisi lain Kyai Said juga menilai, dalam situasi transisional seperti sekarang ini, tanggung jawab sosial perguruan tinggi juga tidak kalah besarnya. Dalam situasi pancaroba ini semuanya berubah. Sementara, masyarakat belum semuanya siap menghadapi perubahan. Karena itu, berbagai sosial dan konflik politik terjadi.

“Situasi seperti mengharuskan perguruan tinggi melakukan langkah axiologis. UI sebagai universitas terbesar harus melangkah keluar dari menara gading, harus menjadi kampus untuk mengkaji dan harus menyediakan solusi dari berbagai persoalan sosial dan politik yang terjadi,” jelas Kiai Said.

Kyai Said mengharapkan, perguruan tinggi tidak hanya menyiapkan lahirnya kaum profesional tetapi juga diharapkan mampu melahirkan pemimpin. Dengan tuntutan ini maka pendidikan tinggi perlu melakukan pendidikan dan pembentukan karakter. Dalam hal ini Kiai Said ingin UI juga belajar dari dunia pesantren yang menjadi tempatnya dilahirkan dan dibesarkan.

“Perguruan tinggi modern tidak perlu malu belajar dari pesantren. Sebab jauh sebelum adanya pendidikan modern seluruh sumber daya manusia, baik kalangan militer, kalangan bangsawan kerajaan dan priyayi, belajarnya dari pesantren. Mereka tidak hanya belajar teknik kemiliteran atau manejemen pemerintahan, tapi juga belajar agama dan dibentuk karakter oleh para ulama atau kiai,” jelas doktor
tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura’, Mekah ini.

Secara umum ada delapan tugas MWA UI, di antaranya menetapkan rencana strategis kerja dan anggaran tahunan universitas, menetapkan kebijakan umum, mengawasi pelaksanaan pengendalian umum atas pengelolaan, bersama pimpinan universitas menyusun dan menyampaikan laporan tahunan pada menteri, serta mengangkat dan memberhentikan pejabat universitas.

“Saya mohon doa restu dari semuanya, termasuk ke Pak Bagir yang lebih senior agar terus membimbing saya. Kepada Pak JK yang malam berhalangan hadir, saya juga senantiasa mengharapkan bimbingan dan kepada semua anggota MWA UI,” tambahnya. @ari

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty