x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Kisah Wanita Tunarungu yang Sukses

Angkie Yudista Berprestasi Hanya dengan Membaca Gerak Bibir

Senin, 04 Juni 2012 23:23 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Angkie Yudista Berprestasi Hanya dengan Membaca Gerak Bibir - Kisah Wanita Tunarungu yang Sukses - Angkie Yudista, wanita tunarungu.

Angkie Yudista, wanita tunarungu.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Angkie Yudistia merupakan salah satu penyandang tunarungu yang memiliki talenta, tekad, dan semangat yang amat tinggi dalam hidupnya. Dia berhasil mematahkan anggapan bahwa kaum difable tidak bisa belajar di sekolah umum serta melanjutkan kuliah hingga strata dua di bidang komunikasi pemasaran.

Angkie telah membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kecakapan layaknya orang normal dalam pekerjaan. Dia pernah bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi serta minyak dan gas sebelum keluar untuk membaktikan diri pada saudaranya orang-orang difable.

Baca juga: Trend, korset khusus wanita hamil bahayakan janin dan Tips Sederhana dan Efektif Untuk Kesehatan Wanita

“Tapi jangan kira gampang masuknya, ditolak terus,” ungkap perempuan cantik yang lahir di Medan, 5 Juni 1987, ini. Jika dihitung, lebih dari seratus kali lamarannya ditolak. Karena tekad bajanya, hal itu tidak menciutkan semangatnya untuk terus mengajukan surat lamaran kerja. Dalam curriculum vitae-nya, dia memang selalu mencantumkan keterbatasannya dengan menyatakan bahwa dirinya penyandang tunarungu, out of hear, dan deaf.

Angkie memang selalu ingin jujur tentang kondisinya dalam melamar pekerjaan, juga kepada masyarakat. Walau diterima bekerja dan mendapat penghasilan mapan, Angkie memutuskan keluar dari pekerjaan. “Bagi Angkie, pekerjaan itu passion, kerja sosial, panggilan jiwa,” ucap mantan finalis Abang None Jakarta 2008 ini.

Dirikan Thisable Enterprise
Hari-hari Angkie sekarang disibukkan dengan bermacam kegiatan, mulai dari seminar, talkshow, serta memperjuangkan dan memberdayakan teman-teman difable. Salah satu programnya adalah membuat program tanggung jawab sosial perusahaan (company social responsibility) bagi sebuah perusahaan untuk orang-orang difable yang untuk sementara fokus pada penyandang tunarungu.

Menurut dia, program CSR selama ini masih menyentuh orang normal dan masih itu-itu saja. Misalnya, pembangunan rumah ibadah, permodalan bagi usaha mikro, dan sejenisnya. Oleh karena itu, Angkie kemudian memprakarsai berdirinya Th isable Enterprise. Dia ingin, lewat Th isable Enterprise itu, dia bisa mengakomodasi perusahaan-perusahaan yang memiliki kesadaran untuk membuat program kepedulian bagi kaum tunarungu.

“So far, perusahaan yang mau (berpartisipasi) banyak.” Angkie tergerak untuk melakukan kegiatan tersebut karena ingin membantu saudara-saudaranya yang mengalami nasib sama. Mereka banyak yang menganggur karena banyak perusahaan belum membuka diri terhadap penyandang tunarungu.

“Private sector corporate beragapan, ah difable susah dan ngrepotin. Padahal ini ada dalam MDG’s. Maksud kita ingin mengembangkan mereka untuk menuju pembangunan yang selaras,” kata Angkie yang kehilangan pendengaran sejak usia 10 tahun ini. Angkie bisa menjalankan peran lebih karena dia dididik pantang menyerah.

Sejak kehilangan pendengaran, orang tuanya selalu mendorongnya untuk tetap semangat. Orang tuanya pula yang meyakinkan para guru agar Angkie tetap mendapat pendidikan di bangku sekolah umum, baik di jenjang SMP maupun SMA. Baginya, bisa menempuh sekolah S-2 bidang Marketing Communication di London School of Public Relation merupakan bagian baktinya pada orang tuanya yang tak patah semangat untuk mendorongnya berprestasi sekaligus mandiri melebihi orang normal. Karena prestasinya, Angkie akan dikirim mewakili Indonesia dalam ajang pemilihan Miss Deaf World 2012 Juli nanti.

Sebelumya, dia tercatat menjadi finalis Abang None 2008, juga tampil sebagai The Most Fearless Female 2008 oleh majalah Cosmopolitan dan pemenang Miss Congeniality of Brand Ambassador Natur-E, 2009.

Program Pita Biru Beberapa waktu lalu, dia mengikuti workshop terkait dengan tunarungu di Bangkok, Thailand, pada 2010, dan pergi ke Paris, Prancis, atas undangan Parlemen Uni Eropa. Di Thailand, menurut dia, penyandang tunarungu mendapat alat bantu dengar gratis dari pemerintah. Sayangnya, di sini tidak ada.

“Waktu itu Angkie jadi ngerti, jadi masalah disabilitas itu bukan hanya masalah medical lagi, telah menjadi masalah sosial dan menjadi masalah bersama,” ujar gadis pemilik tinggi 170 cm dan berat 52 kg itu.

Atas kondisi yang kurang menguntungkan bagi penyandang difable secara umum, dia kemudian memelopori aksi program pita biru. Program itu merupakan langkah yang isinya memperjuangkan pemberdayaan untuk penyandang kekurangan fi sik, seperti penyandang tunarungu. Dia membuat program penjualan ear muffs dengan harga 99 ribu rupiah. Dana hasil penjualan ear muff s yang terkumpul kemudian dialokasikan untuk pembelian alat bantu dengar.

Program pembelian ear muffs itu diadakan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat mengenai tidak nyamannya kuping ditutup. Dari aksi itulah akan muncul simpati masyarakat yang berempati pada para penyandang tunarungu. “Program ini untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat bagaimana tidak enaknya kuping ditutup,” papar Angkie.
Membaca Gerak Bibir

Meski tunarungu, Angkie Yudistia terbilang pintar dalam berkomunikasi. Dia memahami percakapan orang dengan membaca gerak bibirnya. Hal itulah yang berlangsung saat sesi wawancara dengan Koran Jakarta. Penulis buku Invauble Experience to Pursue Dream: Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas ini mengaku hanya mendengar sedikit suara.

Dia hanya bisa mendengarkan suara instrumen musik tanpa mengenal suara penyanyinya. Hanya mampu mendengarkan suara orang ketawa tanpa mendengar inti percakapannya. Alat bantu dengar di telinga Angkie terbilang kurang banyak membantu. Alat itu hanya menaikkan volume, namun tidak membantu mendengarkan suara ataupun percakapan.

“Kalau saya menoleh ke belakang, Anda ngomong apa saya nggak tahu. Jadi kalau tidak melihat gerakan bibir tidak tahu,” ujar penyuka aktivitas travelling itu.

Angkie mengungkapkan bahwa dirinya sekarang ini hanya bisa mendengar suara dengan tingkat kekerasan 100 desibel untuk telinga kiri dan 78 desibel untuk telinga kanan. Normalnya orang normal mendengar pada 40 desibel ke bawah. Jadi, alat bantu yang semakin dikeraskan hanya akan membuat telinga menjadi sakit. Kehilangan pendengarannya terjadi pada saat dia berusia 10 tahun.

Keluarganya tidak tahu apa yang menjadi penyebab pasti hingga kini, namun diperkirakan akibat mengonsumsi antiobiotik. Dia mengingatkan masih banyak orang di luar sana yang menghadapi masalah sama. Bahkan banyak di antaranya yang kehilangan pendengaran ketika sudah besar dan dewasa.

“Diving karena tekanan (air) bisa kena. Ketabrak motor juga bisa. Bahkan ada yang umur 28, karena kepleset, hilang pendengaran.” Oleh karena itu, jangan menganggap ringan pendengaran. Orang harus berhati-hati dan sebaiknya juga menghargai mereka yang mengalami kehilangan pendengaran dan kekurangan fisik lainnya. “Orang banyak meremehkan. Padahal dia sendiri bisa kena,” kata dia. hay/R-3

Curhat lewat Buku

Selain mendirikan Thisable Enterprise dalam rangka melaksanakan program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas, prestasi dan pencapaian Angkie merambah bidang mengarang buku. Buku dia tulis sebagai media untuk berbagai pengalaman dan curhat pada penyandang tunarungu dan keluarga penderita tunarungu. Bukunya berisi banyak curhat tentang pribadi dan peristiwa yang pernah dialaminya. Buku dengan tebal 160 halaman itu juga memuat solusi.

“Angkie mencoba flash back apa yang terjadi pada waktu itu.” Dia bersyukur karena selama ini selalu saja mendapat jalan keluar atas masalah yang menderanya, termasuk ketika lamarannya selalu ditolak. Solusi dari pengalamannya bisa menjadi solusi bagi orang lain meski tidak setiap orang dibesarkan dalam kelurga berkecukupan.

“Jadi setiap masalah ada jalan keluarnya,” kata dia. Untuk menggali pengalaman masa lalunya, dia tinggal membaca lagi buku harian.

Angkie sejak kecil telah banyak menulis kisah dan pengalamannya dalam buku. Apalagi tidak banyak teman curhat yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Dengan buku, dia juga ingin memberikan pencerahan kepada orang tua yang malu dan menyembunyikan anaknya.

Banyak pula keluarga tidak mampu dengan pendidikan kurang memadai di pelosok yang tidak dapat mendidik anak tunarungunya karena keterbatasan pengetahuan. “Bagaimana orang tua sangat penting. Orang tua kelas bawah bisa diartikan anaknya mengalami kesulitan juga,” terang Angkie.

Rencananya, dia akan mengarang buku lagi tentang programprogram tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dari progam itu, dia ingin berbagi tentang cara membuat program CSR untuk para disabilitas agar semakin banyak perusahaan dapat menyalurkan program sosialnya.@krnjkt

Angkie Yudista dalam kegiatan bersama anak-anak penderita cacat.




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty