Aksi Protes Muslim Rohingya di Myanmar
LENSAINDONESIA.COM: Laporan terbaru United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) menyebutkan derita Muslim Myanmar, etnis Rohingya, seperti tiada henti. Selama beberapa dekade perlakuan aparat kepolisian Myanmar telah menyebabkan etnis Rohingya Muslim tidak punya negara, tersebar di sentero dunia dan dipandang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai salah satu minoritas paling tertindas di planet ini.
Data UNHCR menunjukkan, sekitar 800.000 orang Rohingya tinggal di Myanmar. Umumnya, di negara bagian Rakhine, yang telah dilanda gelombang kekerasan sektarian buruk dalam beberapa hari terakhir. Berbicara dengan sebuah dialek Bengali mirip bahasa di Bangladesh tenggara, Rohingya yang Muslim Sunni telah lama diperlakukan sebagai “orang asing” oleh pemerintah dan banyak masyarakat Myanmar, suatu situasi yang menurut para aktivis menyuburkan keretakan dengan masyarakat Budhis di Rakhine.
Baca juga: Timnas U-14 tinggal dibenahi Strategi bermainnya dan Pertamakali sejak 36 tahun, PM Jepang kunjungi Myanmar
Pemerintah Myanmar bersikap diskriminatif serta selalu memojokkan keberadaan etnis ini, bahkan Bangladesh — tempat jumlah masyarakat Rohingya ditaksir mencapai 300.000 orang — enggan menerima. Sehingga banyak warga etnis ini hidup dalam kemiskinan parah.
Myanmar memiliki sangat banyak kelompok etnis. Banyak dari etnis-etnis itu melakukan pemberontakan bersenjata secara sporadis sejak Myanmar memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1948.
Namun etnis Rohingya tidak diakui secara resmi, antara lain dikarenakan keberadaan sebuah undang-undang 1982 yang menetapkan bahwa minoritas-minoritas mesti membuktikan diri mereka telah tinggal di Myanmar sebelum 1823 — sebelum pecah perang Inggris-Birma — untuk mendapatkan kewarganegaraan.
Para perwakilah masyarakat Rohingya mengatakan rakyat mereka berada di Myanmar jauh sebelum waktu tersebut.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, para migran Rohingya nekad melakukan pelayaran-pelayaran berbahaya menuju Malaysia atau Thailand, yang angkatan laut mereka pada waktu lalu dituduh menarik boat-boat tersebut kembali ke laut.
Permusuhan pada etnis Rohingya telah meluas bahkan menghinggapi alam bawah sadar tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan demokratis Myanmar, yang telah lama didukung oleh Barat. “Kami ingin mengatakan dengan jelas bahwa Rohingya bukan salah satu warga etnis Myanmar,” ujar Ko Ko Gyi, mantan tahanan politik terkemuka dan aktivis mahasiswa kepada AFP baru-baru ini. afp/bbc
Berita Terkait:
2 jam yang lalu
3 jam yang lalu
4 jam yang lalu
4 jam yang lalu
4 jam yang lalu
4 jam yang lalu
5 jam yang lalu
5 jam yang lalu
5 jam yang lalu
5 jam yang lalu