LENSAINDONESIA.COM : Mulai saat ini hentikan mengumandangkan jargon politik santun yang ternyata hanya memoles seorang maling menjadi malaikat, semestinya bukan polesan citra dari pemimpin tapi yang harus dicari adalah pemimpin yang berbuat kerja politik yang riil (authentic leader).
Dan jangan membohongi rakyat dengan pemimpin yang seolah-olah berperilaku santun, keren, berwibawa apalagi suka bernyanyi.
Baca juga: Terima 'Toleransi Award', SBY dinilai tak punya kejernihan nurani dan SBY dinilai tak layak dianggap berjasa majukan toleransi di Indonesia
“Cukup kita belajar dari sejarah bahwa pemimpin yang dikatakan tersebut di atas ternyata hanya kamuflase topeng yang menyengsarakan masyarakat,” kata Prof. Hamdi Moeloek, guru besar Ilmu Politik UI dalam Diskusi dengan tema ‘Politik Santun, Antara Retorika & Kenyataan’ di Rumah Perubahan 2.0, Jakarta, Selasa (19/06), tadi malam.
“Lembaga survei mempunyai andil dalam pencitraan itu tergantung berapa harga yang harus dibayar untuk memulihkan pencitraan, untuk itu saya berharap ada suatu lembaga survei yang mandiri dan independen yang tidak punya pretensi apapun dalam melakukan kajian,” tambah Dony Gharhal, pakar Ilmu Filsafat Universitas Indonesia.
Menurutnya, masyarakat berharap memilih presiden untuk menyelamatkan bangsa ini dan seperti biasa lembaga survei menjadi alat untuk pencitraan.
Jadi sungguh sangat disesalkan apabila ada ‘bargaining’ dalam menyajikan data kajian survei dari suatu lembaga. @hidayat
Berita Terkait:
11 menit yang lalu
26 menit yang lalu
31 menit yang lalu
39 menit yang lalu
40 menit yang lalu
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu
1 jam yang lalu