x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Pertama di Kota Tegal

Home Schooling Berikan Metode Pembelajaran Sesuai Kebutuhan Anak

Kamis, 21 Juni 2012 06:28 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Home Schooling Berikan Metode Pembelajaran Sesuai Kebutuhan Anak - Pertama di Kota Tegal - Ist/Siswa Home Schooling ketika belajar

Ist/Siswa Home Schooling ketika belajar

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Untuk mengembangkan kemampuan anak dalam ranah Afektif (emosi), Behaviour (tingkah laku) dan Cognitif (intelegensi), sebuah sekolah yang menerapkan sistem pembebasan dalam akademik berdiri di Kota Tegal, Jawa Tengah.

Home schooling menjadi pilihan banyak orang tua. Karena, dianggap mampu memberikan metode pembelajaran yang sesuai bagi para peserta didik secara maksimal. Selain siswa reguler, di Home Schooling ABCD juga banyak mendidik para peserta atau siswa didik yang memiliki kebutuhan khusus (autis).

Baca juga: Perampok `baik hati` masih sempat buatkan susu buat bayi korban dan Majukan pendidikan bangsa, Indonesia perlu pemimpin kuat

Pendidikan merupakan hak setiap manusia. Melalui pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang berilmu, berbudi pekerti luhur dan berperan dalam masyarakat. Pentingnya pendidikan menyebabkan munculnya harapan yang besar pada pola pendidikan yang diterapkan pada anak. Prinsip yang paling mendasar dalam pendidikan adalah pembebasan, yakni menjadi manusia yang bebas dan mandiri dalam menjalankan perannya di masyarakat sebagai dirinya sendiri.

“Untuk dapat mencapai hal itu, maka dibutuhkan kesempatan yang sebesar-besarnya dalam proses eksplorasi kebutuhan dan minat sesuai dengan kemampuan dan karakter masing-masing anak,” ujar Ajeng Wiluntantri SPsi, salah seorang psikolog Home Schooling ABCD kepada LICOM.

Pola pendidikan yang secara umum ada di Indonesia tampaknya belum mampu mengakomodir kebutuhan tersebut secara maksimal. Hingga kini, anak seringkali lebih tampak sebagai objek pendidikan daripada subjek pendidikan. Pendidikan dengan kelas klasikal menuntut anak untuk sebisa mungkin mampu mengikuti pola dan ritme belajar yang dibentuk oleh guru. Akibatnya, tidak semua anak mampu ataupun menikmati proses pembelajaran tersebut.

Masing-masing anak mempunyai cara belajar yang unik. Oleh karena itu, diperlukan penanganan secara individual. Home Schooling diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak yang berbeda. Suasana belajar dan metode pembelajaran di homeschooling didesain untuk mendukung peserta didik mempelajari hal baru dan mengembangkan kemampuan baru sesuai dengan kebutuhannya.

Home Schooling ABCD yang berdiri di Kota Tegal, Jawa Tengah, didirikan berdasarkan pada sebuah pemikiran untuk membimbing anak menjadi manusia yang mampu berperan di tengah masyarakat. Perlu disadari tidak  cukup hanya dengan pendidikan yang bersifat akademis saja. Penanaman agama, akhlak, sikap dan nilai-nilai etika diharapkan mampu membangun manusia yang tidak hanya tangguh. Namun, juga arif dalam menghadapi dunia. Nama ABCD sendiri merupakan singkatan dari Afektif (emosi), Behavior (perilaku), Cognitive (Intelegensi), Development (perkembangan).

Kurikulum atau metode belajar yang diterapkan di Home Schooling ABC’D dikemas dalam 3 program kegiatan yakni,1. Program Inti, 2. Pengembangan Diri yang meliputi mengembangkan Soft Skill peserta didik dalam bidang Agama, Outdoor, Sains (Eksplorasi Alam), English Fun, Japanese Fun, Komputer dan Teknologi, Kewirausahaan, Caracter Building, Jumat Kompetisi, Melukis, Musik dan Perkemahan Sabtu dan Minggu (Persami).3. Program Pengayaan, yakni, Sharing Orang Tua, Konsultasi Perkembangan Peserta Didik dengan Ahli di bidangnya, Program Pengayaan Peserta Didik, Peserta didik dengan kebutuhan khusus (terapi), Peserta didik dengan minat dan bakat tertentu, misalnya melukis, musik, bahasa dan lain sebagainya. Pengayaan Ilmu (bedah buku, seminar perkembangan anak dan pendidikan, kegiatan taman bacaan masyarakat, lomba-lomba).

“Anak saya mendapat kekurangan dalam hal motorik tubuh. untuk menulis, menggaris, menggambar bahkan menggenakan baju sendiripun anak saya tidak mampu untuk melakukannya. Namun, selama dua tahun dididik di Home Schooling ini banyak sekali perubahan yang terjadi pada anak saya. Alhamdulillah, saya senang dan sangat bersyukur sekali Mas,” jelas Widi, salah seorang orangtua siswa.

Lain halnya dengan Ibu Shopia, yang anaknya mengalami stroke ditangan sebelah kanan. “Sebelum di sekolahkan di Home Schooling ini, selama 24 jam full, anak saya hanya mau untuk belajar, belajar, dan belajar terus. Ia tidak mau untuk bersosialisasi atau bermain dengan teman sebayanya. Saya sangat khawatir dengan sikap anak saya.  Meski secara akademik kemampuan anak saya tidak diragukan, bisa dikatakan diatas rata-rata,” paparnya kepada LICOM.

Sementara, Jafar, salah satu siswa mengatakan, di sekolah tersebut dirinya merasa nyaman. Karena, kegiatan belajar mengajar sangat menyenangkan. Belajar sekaligus bermain banyak didapat dan dipelajari. “Segala macam hobby saya dapat tersalurkan,” tandas Jafar yang fasih dalam bahasa Inggris.

Home Schooling ABCD adalah sekolah yang pertama kali didirikan di Kota Tegal. Bahkan, ditingkat Karisidenan Pekalongan dan di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah banyak sekali mendapatkan penghargaan, mulai dari skub lokal hingga nasional. Dra Listiana Kusuma, Kepala home schooling mengatakan, dia sengaja membuka sekolah alternatif ini agar anak freedom atau bebas tidak ada tekanan dari pihak manapun dalam proses belajar mengajar. “Disini kami memberikan proses ketenangan dan kenyamanan sehingga potensi anak dapat bisa lebih ditingkatkan lagi,” tegasnya.

Listiana berharap, agar Dinas Pendidikan Pemkot Tegal dapat memberikan apresiasi yang positif dan memberikan pembinaan bagi Home Schooling ABCD.Tingkatan pendidikan yang disediakan di Home Schooling ABC’D yakni, Pra Sekolah, Sekolah Dasar (kelas 1 – kelas 6), Sekolah Menengah Pertama (kelas 7 – kelas 9) dan Sekolah Menengah Atas (kelas 10 – kelas 12). Untuk sasaran didiknya adalah Home Schooling ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), Home Schooling ABC’D menyediakan kegiatan pembelajaran dengan metode yang dirancang secara personal untuk anak dengan kebutuhan tertentu.

Home Schooling Individu Peserta Didik diberikan pilihan tempat belajar. “Mereka dapat ikut belajar disanggar belajar (Home Schooling Classical) atau belajar di rumah dibantu tutor yang disediakan atau orang tua (homeschooling tutorial dan homeschooling mandiri),” tuturnya.

Untuk legalitas di Home Schooling ABCD, memperoleh ijazah kesetaraan yang dikeluarkan oleh Depdiknas. Yakni, Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMU. Ijazah ini dapat digunakan untuk meneruskan pendidikan ke sekolah formal yang lebih tinggi. Bahkan, ke luar negeri sekalipun. Home Schooling ABC’D pada tahun 2009 telah mendapatkan SK Dinas Pendidikan Kota Tegal dengan Nomor: 421.1 / 0003. @boy gunawan

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty