x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Hasil Pinjaman Dari Dana Bagi Hasil Cukai

Pemkab Bojonegoro Kucurkan Rp 8,7 Miliar untuk Penguatan Tembakau

Senin, 25 Juni 2012 20:34 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Pemkab Bojonegoro Kucurkan Rp 8,7 Miliar untuk Penguatan Tembakau - Hasil Pinjaman Dari Dana Bagi Hasil Cukai - Petani tembakau di Bojonegoro

Petani tembakau di Bojonegoro

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengalokasikan dana pinjaman penguatan tembakau Rp8,7 miliar pada 2012 INI.

Dana berasal dari bagi hasil cukai hasil tembakau. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, anggaran penguatan tembaku tahun ini meningkat sebesar Rp7,6 miliar.

Baca juga: Di Bojonegoro, harga pupuk Urea mahal dan langka dan Perajin tahu tempe di Bojonegoro terancam gulung tikar

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro Ahmad Djupari, Senin, mengatakan, meningkatnya alokasi dana pinjaman penguatan tembakau tersebut tidak lepas dari membaiknya panen tembakau tahun lalu baik dari segi kualitas maupun harga.

Meski demikian, menurut dia, pemohon yang mengajukan pinjaman harus memenuhi persyaratan di antaranya memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) serta memanfaatkan agunan.

Pemohon yang ditolak, katanya, di antaranya karena SIUP yang dimiliki bukan bidang usaha perdagangan tembakau atau agunannya tidak sesuai.

“Peminjam tahun lalu juga tidak diperbolehkan mengajukan pinjaman sebelum melunasi tunggakannya,” katanya.

Ia menjelaskan, pemohon yang mengajukan pinjaman sebanyak 156 pemohon baik dari pengusaha tembakau dan kelompok tani.

Namun, menurut dia, setelah melalui verifikasi dari Dishutbun, Dinas Pendapatan Daerah, Bagian Hukum, dan Bank Jatim, yang memenuhi persyaratan sebanyak 136 pemohon dari pengusaha tembakau lokal dan enam kelompok tani.

“Besarnya pinjaman bervariasi mulai Rp20 juta sampai Rp220 juta per peminjam,” ucapnya.

Ia mengatakan, pengusaha yang memperoleh pinjaman berkewajiban membeli tembakau milik petani pada musim panen tahun ini sebagai usaha mendongkrak harga tembakau petani.

Menjawab pertanyaan, Djupari menyatakan pinjaman dengan memanfaatan DBH CHT itu pelaksanaannya ditangani Bank Jatim, sesuai persyaratan bunganya satu persen selama semusim. “Bunga satu persen itu untuk operasional Bank Jatim,” ucapnya.

Pengertian semusim, jelasnya, bagi kelompok tani berkewajiban mengembalikan pinjaman itu pada 30 November setelah musim panen rampung.

Namun, pengembalian pengusaha tembakau bisa dua kali yaitu pada 30 November sebesar 50 persen dari pinjaman dan 50 persen pada 30 Maret 2013.

“Pola pengembalian pinjaman pengusaha tembakau bisa dua kali karena menyesuaikan waktu jual beli tembakau,” katanya.*hidayat

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty