Pendidikan Sering Tak Berpihak pada Warga Miskin

Sekolah Gratis Hanyalah Isapan Jempol Belaka

Editor: | Selasa, 26 Juni 2012 13:00 WIB, 331 hari yang lalu



Sekolah Gratis Hanyalah Isapan Jempol Belaka - Pendidikan Sering Tak Berpihak pada Warga Miskin - Pasangan Alex-Nono

Pasangan Alex-Nono


LENSAINDONESIA.COM : Banyaknya janji-janji yang dilontarkan para kandidat Cagub DKI Jakarta pada saat kampanye sangat manis di dengar seperti janji, sekolah gratis, berobat gratis, di rumah sakit, bebas banjir, lapangan pekerjaan, namun hingga kini sekolah gratis yang diharapkan bagi warga Jakarta hanya isapan jempol, karena saat ini masih terlihat anak -anak yang masih terlantar di jalanan dan tidak bersekolah.

Hasil pantauan LIcom di lapangan masih jelas terlihat anak-anak warga miskin yang belum menikmati fasilitas sekolah secara gratis seperti apa yang dijanjikan pemimpin DKI pada saat ini.

Baca juga: Eksekusi 140 bangunan di Komplek Srikandi ricuh dan Ingin jadi pemimpin hebat? Tanam sifat kepramukaan sejak dini

Menurut Yadi (45) salah satu warga Susukan Kecamatan Ciracas mengatakan bahwa anak masih menjadi fenomena di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Pekerja anak ini ditengarai akan selalu lahir manakala kemiskinan merajalela dan pendidikan tidak berpihak kepada si miskin seperti sekolah RSBI dan negeri lainnya,”ujar Yadi kepada Licom di Susukan, Kecamatan Ciracas Jakarta Timur, Selasa (26/6/2012).

Pengamat pendidikan Bambang Wisudo mengatakan bahwa sumber utama kenapa anak jadi bekerja yaitu karena miskin. Bukan karena akses yang ada. Anak-anak yang bekerja kebanyakan karena drop out dari sekolah.

Menurut dia, kebijakan pendidikan di Indonesia tidak berpihak pada orang-orang miskin, bahkan kerap diskriminatif.
“Hanya diberi kuota 20 persen, 80 persennya untuk orang kaya,” kata  Bambang saat ditemui LIcom di Cijantung Jakarta Timur, Selasa (26/6/2012).

Selain itu pendidikan yang ada masih belum bersahabat terhadap upaya-upaya mengurangi jumlah pekerja anak, terlebih lagi upaya membebaskan mereka dari kemiskinan.

“Kebijakan negara kita lebih berpihak pada anak-anak pintar dan kaya,” sambung dia.

Pendidikan untuk pekerja anak dan anak-anak marjinal seharusnya bisa menumbuhkan kesadaran kritis, dialogis yakni bukan dengan membaca ‘kata’ tetapi membaca realitas. Anak-anak itu juga seharusnya memiliki kemampuan membaca sejarah kenapa mereka miskin dan tertindas. “Bukan sekedar tulis dan matematika,” ucap Bambang.

Sementara itu Anton (40 ) warga Kampung Rambutan Jakarta Timur juga pedagang asongan , mengatakan bahwa janji-janji soal biaya sekolah gratis oleh para kandidat cagub hanyalah isapan jempol yang mana janji hanya disampaikan pada saat kampanye saja,namun jika sudah terpilih tetap saja warga miskin tidak bisa menikmati sekolah gratis alias bayar,”pungkas Anton kepada Licom selasa(26/6/12). @ winarko



Berita Terkait:




KODAK

VIDEO