Catatan: Didiek Pudji Yuwono (mantan redaktur senior Jawa Pos)

Maling Njut, Korupsi Mak Nyess!

Editor: | Rabu, 27 Juni 2012 02:19 WIB, 358 hari yang lalu



Maling Njut, Korupsi Mak Nyess! - Catatan: Didiek Pudji Yuwono (mantan redaktur senior Jawa Pos) - Paling korup. Mak nyess..!

Paling korup. Mak nyess..!


Kita hidup di negeri yang aneh tapi nyata. Dengan predikat yang menyeramkan –negeri terkorup– namun tampaknya semua berlangsung, nyaman-nyaman saja. Mak Nyess. Kehidupan terus berlangsung dengan normal, wajar, dan begitu biasa.

Ada rasa marah namun tak berdaya. Kita pun mencoba menghibur diri, seperti seorang pengusaha yang mengaku demikian capek harus melewati belasan meja setiap hendak mengirim barang ke luar negeri. Sebagai ganti kekesalannya, dia hanya bisa bercerita tentang sebuah anekdot, yang dia tulis dalam bukunya “The Art of Corupption” —ternyata korupsi pun bisa menjadi sebuah karya seni.

Baca juga: Oh, Presiden.., Oh Gubernur.., Eh Iklan Sabun Mandi... dan Maling Njut, Koruptor "Beli" Hak Azasi

Kita tak tahu, apakah bagi sang koruptor, surga dan neraka itu ada. Yang jelas, kisah ini bermula ketika ada serombongan manusia menunggu di pintu neraka. Mereka semua sedang menunggu giliran dipanggil malaikat penjaga.

Di dinding, di atas pintu tampak puluhan jam dinding, jam seperti yang biasanya kita lihat di bandara-bandara di bumi. Bedanya, kalau di bumi jam itu menunjukkan waktu di kota-kota bandara tujuan, maka di neraka kecepatan berputar jarumnyalah yang menjadi penunjuk sesungguhnya. Masing-masing jam punya kecepatan yang berbeda.

Seorang yang tampak bingung bertanya kepada malaikat kenapa bisa begitu. ’’Oh, itu menunjukkan tingkat kejujuran negara Anda. Makin lambat ia berputar makin jujur, makin cepat makin korup negeri Anda, ’’ jawab sang malaikat.

’’Coba lihat,’’ kata seorang yang antre, ’’Jam Filipina berputar kencang, berarti benar di negeri Marcos itu banyak korupsi.’’

’’Itu lagi, jam Kongo tak kalah cepat dibanding jam Filipina,’’ kata seseorang.

Mereka semua tampak menikmati pemandangan istimewa ini. Sampai kemudian seseorang yang tampak mengenakan batik kemudian bertanya, ’’Lho, di mana jam Indonesia? Kok tidak nampak?’’

Malaikat yang ditanya menjawab, ’’Oh, jam Indonesia? Kami taruh di belakang dapur, sangat cocok dijadikan kipas angin.’’

Masalahnya, sekali lagi, apakah—bagi sang koruptor—surga dan neraka itu ada? Sebab, seperti kata Dostoevsky, bila surga dan neraka tak ada, maka semuanya jadi halal…

Lalu, di mana letak negeri ini sebenarnya? Jangan bilang tanyalah rumput yang bergoyang! Semua orang juga sudah tahu! (2-tamat)



Berita Terkait:




KODAK

VIDEO