Presiden Rusia, Vladimir Putin
LENSAINDONESIA.COM: Eskalasi pertaruangn Rusia dan Barat pimpinan Amerika Serikat, tampak dengan makin kencangnya ancaman serangan militer ke Suriah.
Namun, sikap tegas Rusia dan China yang memveto semua tindakan Dewan Keamanan PBB menjadi ganjalan bagi Amerika dan kawan-kawan untuk melaksanakan ambisinya menjadikan Suriah seperti Libya.
Baca juga: Putin bangun helipad di Kremlin seharga $ 6,4 Juta dan Produsen Rusia tawarkan tank T-90S ke Peru
Tak hanya memveto, Rusia juga menyatakan kesiapan militernya dengan manuver peluncuran rudal balistik “Bulava”.
Analis politik menyebut, peluncuran rudal nuklir generasi terbaru Rusia itu memberi pesan politis, juga karena rudal tersebut terlihat jelas di sebagian besar kawasan Timur Tengah.
Peluncuran Bulava sengaja ditunjukkan ke seluruh kawasan Timur Tengah dna menjadi peringatan tegas bahwa Rusia siap berperang untuk
membela Suriah.
Sumber-sumber inteligen juga menyebutkan, langkah-langkah tersebut sudah dikoordinasikan dengan pemerintah Suriah.
Bahkan, karena permintaan Rusia, maka pemerintah Suriah melancarkan gempuran mematikan ke kawasan-kawasan yang dikuasai pemberontak, salah satunya di Kota Aleppo.
Rusia dikabarkan tengah menyiapkan unit-unit militernya untuk terjun langsung dalam medan perang Suriah.
Mengutip pejabat militer Rusia, Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan para komandan perangnya untuk mempersiapkan operasi militer di luar Rusia, termasuk di Suriah.
Unit-unit militer Rusia yang telah dipersiapkan dalam operasi tersebut adalah Divisi ke-76 Pasukan Terjun, Divisi ke-15 AD, termasuk juga pasukan khusus dari Armada Laut Hitam yang memiliki pangkalan di Tartus, Suriah.
Detil dari operasi tersebut tengah dalam pembahasan di meja komando Collective Security Treaty Organisation (CSTO) sebagaimana juga Shanghai Cooperation Organization dimana Cina juga tergabung.
Menurut laporan tersebut penggelaran pasukan akan ditentukan oleh pemerintah Rusia atau atas permintaan PBB.
Namun rencana tersebut juga memberikan pilihan penggelaran pasukan tanpa persetujuan PBB.
Kehadiran tiga kapal perang Rusia masuk ke perairan Suriah menunjukkan kepada Amerika dan NATO bahkan Rusia siap perang di Suriah.
Sekjen CSTO Nikolai Bordjusha juga mengisyaratkan kesiapannya menggelar pasukan di Suriah.
“Tugas di Suriah kemungkinan terbesar akan ditujukan kepada pemberontak, yang telah menggunakan senjata untuk menyelesaikan masalah politik,” tegasnya, Jumat (03/08). @it/mz/vtr
Berita Terkait:
6 jam yang lalu
6 jam yang lalu
6 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu