Ist/Ilustrasi pengemis
LENSAINDONESIA.COM: Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai desa yang warganya banyak menjadi pengemis. Mereka beroperasi di kota-kota besar, terutama di Ibukota Jakarta. Namun, Kepala Desa Grinting menampik anggapan jika desanya disebut sebagai desa pemasok pengemis.
Untuk sampai di Desa Grinting, dari jalur Pantura masuk ke arah utara, jaraknya kurang dari 1 kilometer. Jalanan di desa yang luasnya 1300 hektar ini sebagaian besar sudah beraspal. Bahkan, akses jalan yang menuju areal persawahan maupun pertambakan pun sudah diaspal meski sebagian kondisinya rusak.
Baca juga: Pakar transportasi berharap pemimpin Jateng mampu benahi infrastruktur dan Diduga kelelahan, Bupati Tegal meninggal dunia
Benarkah Desa Grinting ini sebagai penghasil pengemis? Tak mudah untuk memperoleh keterangan yang jelas dari para warga sekitar. Mereka enggan bicara jika ditanya perihal desa mereka yang selama ini dipersepsikan sebagai desa pengemis. Bahkan, Kepala Desa (Kades) Grinting, Sahroni membantah keras. Roni, panggilan akrab Sahroni mengaku, bahwa warganya banyak yang merantau atau menjadi urban di kota-kota besar terutama di Jakarta. Namun, dia membantah jika warga desanya banyak yang berprofesi pengemis di kota besar.
Menurut Roni, jumlah warganya kini sebanyak 17.000 jiwa. Dan 17 persen menjadi urban di Jakarta dengan aneka profesi, yang paling banyak menjadi pemulung. Para pemulung itu membentuk komunitas dan tinggal di sejumlah wilayah di Jakarta. Roni menduga hanya karena penampilan para pemulung ini yang lebih mirip dengan para pengemis, sehingga mereka dianggap sebagai pengemis. Meski, Roni juga mengakui warganya sebagian memang menjadi pengemis, namun jumlahnya tak seberapa.
Menurutnya, di daerah atau desa manapun pasti ada warganya yang berprofesi sebagai pengemis. Dan warga Desa Grinting ini tentunya juga ada. “Tapi, menurut saya tidak sebanyak seperti yang disebutkan orang-orang selama ini,’ ungkapnya.
Bahkan, untuk meyakinkan LICOM, Roni mengajak berkeliling memperlihatkan kondisi desa serta tempat-tempat usaha yang dilakukan para warga Grinting. Diantaranya, terdapat area pertambakan, peternakan ayam serta lapak bawang merah yang menggambarkan dinamika perekonomian warga Grinting di kampung halaman mereka.
“Di kampung halaman pun tidak kurang lapangan pekerjaan dan mengapa harus menjadi pengemis di Jakarta,” ujarnya. @boy
Berita Terkait:
55 menit yang lalu
1 jam yang lalu
2 jam yang lalu
2 jam yang lalu
2 jam yang lalu
2 jam yang lalu
2 jam yang lalu
3 jam yang lalu
3 jam yang lalu
3 jam yang lalu