x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Pemilih Jakarta Diyakini 'Terserang' Sindrom

Warga DKI Makin Cerdas, Jokowi Dianggap Satria Piningit

Kamis, 30 Agustus 2012 20:58 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Warga DKI Makin Cerdas, Jokowi Dianggap Satria Piningit - Pemilih Jakarta Diyakini 'Terserang' Sindrom - Calon Gubernur DKI Jokowi diaykini dianggap satrio piningit lantaran warga DKI dianggap terserang sindrom. *ist

Calon Gubernur DKI Jokowi diaykini dianggap satrio piningit lantaran warga DKI dianggap terserang sindrom. *ist

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Masyarakat haruslah cerdas dalam memilih sosok Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, 20 September mendatang. Warga Jakarta diimbau agar tidak asal memilih pemimpin yang baru. Pasalnya, pemimpin baru belum tentu dapat menuntaskan persoalan Jakarta.

Hal tersebut diungkapkan oleh dosen Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis dalam acara diskusi publik Pemilihan Kepala
Daerah Jakarta 2012-2017 “Sindrom Satria Piningit”, di Universitas Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI), Jakarta Timur, Kamis (30/8/12).

Baca juga: Detik pergantian tahun segera tiba, Jakarta bergoyang dan Ahok gembira didukung wakil rakyat, bikin banyak taman terbuka

Habby menjelaskan, saat ini budaya masyarakat yang sudah terbiasa dengan memilih sosok pemimpin yang baru, meski pemimpin baru tersebut belum tentu dapat membawa perubahan yang signifikan bagi Jakarta.

“Kita bisa lihat bahwa budaya warga terlalu cenderung ingin memilih pemimpin yang baru karena sudah jenuh terhadap yang lama. Padahal belum tentu yang baru tersebut bisa menyelesaikan masalah Jakarta saat ini seperti kemacetan, banjir dan permasalahan ekonomi,” papar Habdy Lubis.

Habdy juga mengimbau kepada masyarakat untuk bertanya kepada calon-calon pemimpin DKI akan janji politik yang selama ini
dilontarkan oleh para calon gubernur dan wakil.

Hal yang sama juga diutarakan oleh dosen STEKPI, Agur Nur. Dia mengatakan bahwa masyarakat kurang berdaya dan selalu berharapa akan ada sosok pemimpin yang baru. Kejenuhan masyarakat akan pemimpin yang lama membuat calon pendatang dapat masuk dengan strategi menggunakan budaya simbol yang gampang diingat masyarakat.

“Seperti pasangan Jokowi dan Basuki Thahja yang menggunakan simbol baju kotak-kotak yang membuat masyarakat dapat gampang mengingat akan simbol tersebut, dan masyarakat tidak melihat apakah pemimpin tersebut
bagus atau tidak,” ucapnya.

Agung mengatakan bahwa budaya baru seperti ini masyarakat tidak  melihat apakan bagus tidaknya pemimpin tersebut dan cenderung melihat itu belakangan.

“Justru seperti ini bisa dikategorikan pemilih yang tidak cerdas,” lanjut agung. @ari

 

 




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty