Refleksi: Catur Prasetya
LENSAINDONESIA.COM: Tak hanya pentas ISL maupun IPL saja, sepakbola Pekan Olahraga Nasional yang berlangsung di Riau juga tak luput dari kericuhan. Inilah sedikit catatan tentang perjalanan sepakbola di PON XVIII Riau 2012.
Baca juga: Voli Indoor Jatim Pertahankan Tradisi Emas Selama 4 Kali dan Tiket Penutupan PON Hampir Habis Terjual
Beberapa polemik muncul sehingga memicu protes keras dari beberapa tim yang merasa dirugikan atas keputusan dewan hakim yang dianulir oleh PB PON, Tono Suratman. Jatim yang merasa dirugikan langsung melayangkan surat protes ke Dewan Hakim, sayang usaha untuk bisa lolos ke babak berikutnya belu menemui keberuntungan.
Jabar akhirnya dinyatakan lolos ke babak enam besar, sayang sepakbola Jabar bermain layaknya sepak bola antar kampung. Permainan pun tak mutu dan anarki. Itulah tim sepakbola Jawa Barat. Mereka bak tim tarkam. Merusak citra PON XVIII-2012.
Jabar menghadirkan tim tarkam di cabor sepakbola PON XVIII-2012. Kesan itu mencuat saat melihat mereka tampil. Tak cuma cacat secara administrasi, tapi juga permainan yang sama sekali tak bermutu alias acakadut.
Secara administrasi, mereka tak layak karena tim yang tampil di PON XVIII-2012 bukanlah tim hasil bentukan Pengprov PSSI Jabar yang sah sesuai keputusan Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) dan KONI Pusat.
Sejatinya, tim sepakbola Jabar yang layak dan sah main di multievent 4 tahunan berskala nasional itu adalah tim bentukan Pengprov PSSI Jabar pimpinan Tonny Aprilani.
Sebaliknya, tim yang tampil di PON XVIII-2012 adalah tim bentukan caretaker Ketua Pengprov PSSI Jabar Bambang ‘Suko’ Sukowiyono hasil rekayasa liar PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.
Parahnya lagi, selain tak pernah berjuang di fase kualifikasi, proses lolosnya tim Jabar ke fase II grup PON XVIII-2012 juga kontroversial. Mereka seharusnya terdiskualifikasi lantaran tak patuh pada putusan Dewan Hakim PON XVIII-2012 yang telah menunjuk Tonny sebagai tim manajer sepakbola Jabar.
Pada laga Jabar kontra Gorontalo yang dihelat 10 September 2012, tidak ada nama Tonny dalam jajaran ofisial tim Jabar. Dan, sesuai keputusan Dewan Hakim yang keluar pada 9 September 2012, tim sepakbola Jabar otomatis terdiskualifikasi jika tak patuhi keputusan itu.
Mereka selamat dari jeratan diskualifikasi karena intervensi Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman. Melalui surat tugas KONI Pusat tertanggal 12 September 2012, Tono memerintahkan panpel cabor sepakbola PON XVIII-2012 untuk tetap meloloskan tim sepakbola Jabar ke fase II grup.
Lembaran hitam tim sepakbola Jabar di PON XVIII-2012 pun bertambah ketika mereka menunjukkan permainan tak berkelas layaknya tim tarkam. Penampilan tim Jabar di hadapan tim Kalimantan Timur, Sabtu (15/9), mencerminkan mereka tim kampungan yang biasa main di turnamen tarkam alias antarkampung.
Permainan model begitu dipertontonkan di Stadion Kaharudin Nasution, Sabtu (15/9), saat mereka tertinggal 2 gol dari Kaltim. Jabar yang frustrasi tak bisa menembus barisan pertahanan Kaltim mulai menunjukkan perilaku kampungan.
Bukan cuma kasar, anak asuh Mustika Hadi itu bahkan bermain anarkis.Pemain lawan dipukul, hakim garis juga jadi korban.
Tercatat 3 pemain Kaltim mengakhiri pertandingan dalam keadaan bonyok. Mereka adalah Mari Siswanto, Zainal Fanani, dan Sevan Lingga. Hakim garis yang jadi korban adalah H Dwi yang ibu jarinya cedera akibat diplintir messeur tim sepakbola Jabar Roby S.
Pertandingan itu sendiri berakhir 2-0 buat kemenangan Kaltim. Dua gol Kaltim dicetak Bayu Gatra pada menit 39 dan Lerby Eliandy pada menit 50. Dengan hasil itu, Kaltim maju ke semifinal PON XVIII-2012 sebagai runner-up Grup A mendampingi Papua yang jadi juara grup.
Seusai pertandingan, pelatih Kaltim Rudy Willem Keeltjes pun mengaku kecewa dengan permainan kampungan yang disuguhkan tim Jabar.
“Permainan busuk! Mereka tidak mengerti aturan main. Sportif dong! Ini sepakbola, bukan tinju. Sesabar-sabarnya pemain saya, pasti juga ada batasnya,” tegas Rudy.
Begitulah penggalan ironi yang mengusik hajat PON XVIII-2012. Ironi yang dimunculkan dengan sadar dan niat, bukan karena force majeur. Ironi sarat kepentingan yang ujung-ujungnya cuma meracuni sportivitas, tonggak inti jiwa dan sikap olahragawan sejati.
Pertanyaannya: kenapa terjadi pembiaran atas kebobrokan seperti itu?
Menamatkan pendidikan S1 Sastra Inggris Universitas Dr. Soetomo, redaktur yang juga penghobi berat bulutangkis…
Berita Terkait:
8 jam yang lalu
8 jam yang lalu
8 jam yang lalu
8 jam yang lalu
9 jam yang lalu
9 jam yang lalu
9 jam yang lalu
9 jam yang lalu
9 jam yang lalu
10 jam yang lalu