x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Ancaman Degradasi dari Puslatda

Evaluasi KONI Jatim Cabor Gagal di PON Riau

Minggu, 07 Oktober 2012 07:59 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Evaluasi KONI Jatim Cabor Gagal di PON Riau - Ancaman Degradasi dari Puslatda -

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Beberapa cabang olahraga (cabor) Jawa Timur (Jatim) yang gagal menuai medali emas, maupun yang mendapat jauh dari target yang ditetapkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau, kembali menuai kritik. Ada usulan, bila cabor tersebut didegradasi saja dari program Pemusatan Pelatihan Daerah (Puslatda).

Usulan itu diungkapkan oleh Mantan Gubernur dan Ketua Umum KONI Jatim, Imam Utomo. Ia meminta, KONI Jatim dapat bersikap tegas terhadap cabor yang dianggap gagal tersebut dan mencoretnya dari Puslatda. Ia juga menilai, KONI Jatim tidak usah melindungi cabor yang tidak berprestasi tersebut.

Baca juga: Target juara umum PON XIX, Jabar galang potensi dan Ski Air Jatim Mendapat Award dari PT Semen Gresik

“Tidak boleh ada toleransi. Kalau sudah gagal mendapat emas PON, ya harus didegradasi,” tegas  Imam Utomo.

Menurutnya, promosi-degradasi (promdeg) Puslatda harus dilaksanakan oleh KONI Jatim, jika ingin melihat prestasi olahraga di ruang lingkupnya bagus. Cabor-cabor yang gagal meraih emas di PON, harus didegradasi dari Puslatda Jatim tahun depan. Sebab jika KONI Jatim masih memberikan toleransi kepada cabor yang gagal, maka pembinaan olahraga di Jatim tidak akan maju.

“Tidak boleh ada anggapan kasihan. Yang gagal, ya harus tersingkir dari Puaslatda. Biar atletnya mempunyai semangat lagi untuk mengejar prestasi,” jelasnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua PMI Jatim itu juga menyarankan, agar KONI Jatim segera melakukan evaluasi secara menyeluruh. “Nanti saya akan ikut ngomong. Evaluasi secepatnya dilakukan. Karena tantangan PON 2016 di Jawa Barat (Jabar) lebih berat. Jabar pasti ingin menjadi juara umum,” ingat Imam.

Menghadapi PON 2016 di Jabar, Imam meminta KONI Jatim memantau cabor dan nomor apa saja yang akan dipertandingkan. Dengan begitu, KONI bisa secepatnya melakukan persiapan sedini mungkin.

“Yang berhak menentukan cabor dan nomor dipertandingkan itu PB. Jadi, KONI harus mendengarkan apa yang diputuskan PB,” bebernya.

Mantan Pangdam V/Brawijaya ini juga mengkritik kinerja tim monev (monitoring dan evaluasi) KONI Jatim. Imam menilai peran monev tidak maksimal dan banyak yang tidak mengerti secara teknis.

Imam juga menyarankan supaya KONI Jatim lebih fokus dan memprioritaskan terhadap cabor-cabor yang banyak memperebutkan medali emas di PON. Seperti atletik, renang, selam, panjat tebing, dayung dan panahan.

“Cabor-cabor yang menyediakan banyak emas harusnya lebih diperhatikan. KONI juga harus mengajak kerjasama dengan tokoh dan pakar-pakar olahraga Jatim. Profesor Toho (Cholik Mutohir), Profesor Hari Setijono harus diajak ngomong,” saran Imam.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagyo mengatakan, saat ini sudah banyak cabor yang sudah menyerahkan laporan evaluasi hasil di PON Riau kemarin.

“Paling tinggal sekitar sepuluh cabor yang belum menyerahkan. Kalau memang saya diminta secepatnya memanggil cabor, saya sudah siap,” aku Ibag-sapaan akrab dari Irmantara Subagyo.

Ia juga sepakat dengan saran Imam Utomo supaya lebih fokus membina cabor banyak medali emas. “Itu ide bagus. Kita memang harus lebih fokus dan fight terhadap cabor banyak nomor. Seperti atletik, renang, dayung dan panjat tebing,” pungkas Irmantara.

 

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty



Editor: +Catur Prasetya

Menamatkan pendidikan S1 Sastra Inggris Universitas Dr. Soetomo, redaktur yang juga penghobi berat bulutangkis…

Facebook Twitter Google+ Index Berita 



code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty