x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Pentingnya Anak Terlibat Aktif di Lingkungan

Orang Tua Miskin Wawasan Picu Tingkat Kriminalitas Anak

Jumat, 23 Nopember 2012 15:35 WIB (1 year yang lalu)Editor:
Orang Tua Miskin Wawasan Picu Tingkat Kriminalitas Anak - Pentingnya Anak Terlibat Aktif di Lingkungan - Kriminalitas Anak (ilustrasi)

Kriminalitas Anak (ilustrasi)

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Rendahnya wawasan warga terhadap perlindungan anak, diduga memicu tingginya tingkat kriminalitas anak di Pacitan.

“Seperti dalam hal pengasuhan anak, pendidikan, sosial, dan kesehatan,” terang Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKB & PP) Kabupaten Pacitan, Dr Eko Budiono, Jumat (23/11/2012).

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemahaman yang belum maksimal tersebut, misalnya para orang tua yang kerap memposisikan anak sebagai obyek. “Dengan begitu, mereka belum ikut berpartisipasi dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat,” tuturnya.

Padahal seharusnya, anak-anak perlu mendapatkan porsi untuk terlibat aktif di lingkungan hidupnya. “Akibatnya, mereka yang berusia dibawah 18 tahun rentan terlibat dalam tindak kriminal,” katanya.

Hingga saat ini, BKB & PP telah mencatat belasan kasus kriminalitas anak. Baik anak-anak sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Kriminalitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari persetubuhan, pencurian, pencabulan, hingga penganiayaan.

Penyebab lain, lebih seringnya anak diasuh oleh kakek dan neneknya. Sedangkan kedua orang tuanya pergi bekerja ke luar kota dalam jangka waktu yang relatif lama.

“Kurangnya dukungan dan perhatian orang tua serta adanya kecenderungan pola asuh yang diterapkan kakek neneknya kerapkali tidak sesuai dengan perkembangan mental anak,” bebernya.

Dr Eko Budiono menegaskan pentingnya mendengar anak, menampung aspirasi anak, dan apa yang menjadi keinginan mereka merupakan antisipasi terjadinya tindak pidana anak.

Sementara itu, Sri Endah Nurhidayati, sekretaris pusat study gender Universitas Airlangga Surabaya menambahkan, orang tua memiliki peran penting dalam perkembangan anak.”Orang tua harus lebih selektif dalam memberikan fasilitas bagi anak,” katanya.

Sebelum memberikan fasilitas pada anak, orang tua seharusnya berdiskusi dulu dengan anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa nyaman dekat dengan orang tua dan lebih terbuka.

“Sehingga antara anak dan orang tua bisa menjadi mitra tanpa menghilangkan peran masing-masing,” lanjutnya.

Sri menandaskan, mendengarkan anak bukan berarti memanjakan dan selalu menuruti apa kemauannya. “Jika seorang anak baru kelas empat sekolah dasar lantas minta dibelikan blackberry ya  orang tua harus bisa mengarahkan. Anak seumuran itu kan belum butuh fasilitas canggih,” pungkasnya.@rachma





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty