x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Komisi X DPR Menolak dan Siap Melawan

Gawat, Kurikulum Bahasa Inggris SD Dihapus di Tahun 2013

Selasa, 11 Desember 2012 13:27 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Gawat, Kurikulum Bahasa Inggris SD Dihapus di Tahun 2013 - Komisi X DPR Menolak dan Siap Melawan - Siswa Sekolah Dasar /*ilustrasi

Siswa Sekolah Dasar /*ilustrasi

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghilangkan pelajaran Bahasa Inggris dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2013, mendapat perlawanan dari anggota Komisi X DPR, Rully Khairul Azwar.

Wacana tersebut harus dikaji secara mendalam agar tak berdampak pada menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Baca juga: Mendikbud ikuti penanganan kasus "kunci jawaban UN" dijual Rp150 ribu dan Ini alasan Kemendikbud minta sekolah tidak beli buku kurikulum 2013

Wasekjen Partai Golkar itu menyatakan, bahasa Inggris sangat penting diajarkan pada usia anak SD. Apalagi, Indonesia akan dihadapkan pada era keterbukaan dan pergaulan global. Jika tidak dipersiapkan kemampuan bahasa Inggris sejak dini, maka akan berpengaruh pada kualitas pergaulan siswa di masa mendatang.

“Fase usia SD penting sebagai pembekalan dasar,” tegas Rulli kepada LICOM, di gedung DPR, Selasa (11/12/2012).

Jika alasan Kemendikbud hanya karena khawatir terlalu bengkaknya kurikulum SD. Rully menganjurkan, pemerintah harus punya cara dengan tidak mengorbankan bahasa Inggris.

Misalnya, dengan menggabung pelajaran yang dianggap saling punya keterkaitan. “PPKN dan sejarah bisa digabungkan menjadi satu pelajaran saja. Sehingga kurikulum tidak membenngkak,” paparnya.

Meski begitu, Rully berharap keberadaan bahasa Inggris jangan sampai menjadi ancaman lunturnya kemampuan anak didik terhadap bahasa Indonesia. Kemendikbud harus lebih serius lagi dalam menyeleksi guru-guru handal yang bisa mengatur hal itu.

“Bahasa Indonesia tetap lebih penting. Intinya bahasa Inggris ini hanya untuk menambah wilayah pergaulan anak-anak,” pungkas Rully. @hairul

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty



Editor: +Rizal Hasan

RIZAL HASAN has been a reporter for more than 12 years, now he as…

Facebook Twitter Google+ Index Berita 



code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty