x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Komnas Perlindungan Anak: Hanya dijerat KUHP Pula!

Polres Jaksel Main-main! Pelaku Pencabulan Tiga Anak Dibiarkan Berkeliaran

Rabu, 12 Desember 2012 06:13 WIB (2 years yang lalu)Editor:
Polres Jaksel Main-main! Pelaku Pencabulan Tiga Anak Dibiarkan Berkeliaran - Komnas Perlindungan Anak: Hanya dijerat KUHP Pula! - Komnas PA: Polisi gemar gunakan KUHP karena ada celah damai. Ini melukai hak anak. /*winarko

Komnas PA: Polisi gemar gunakan KUHP karena ada celah damai. Ini melukai hak anak. /*winarko

code: 160x600, idcomsky1com is empty


Keluarga tiga orang korban pencabulan, S (16), AL(14) dan AK (17) mengadu kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Mereka mengadukan keganjilan atas tidak ditahannya tersangka pelaku pencabulan tersebut oleh Polres Jakarta Selatan.

Selain itu, mereka juga menilai Polisi hanya ‘main-main’ karena menjerat pelaku dengan pasal 290 KUHP bukan dengan pasal 82 UU Perlindungan Anak. Didampingi oleh pengacara dan saksi, mereka mendatangi kantor Komnas PA di Pasar Rebo Jakarta Timur, Selasa (11/12/12).

Baca juga: Korban dugaan pencabulan Raja Surakarta lakukan visum dan Minggat, ABG malah dicabuli pengawas kolam pancing

S, AL, dan AK merupakan santri Yayasan DIA IY yang berada di Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan. Ketiga anak yatim tersebut mengalami pelecehan seksual yang dilakukan MM (30), Ketua Dewan Pembina sekaligus ustad  dari Yayasan tersebut, sejak Januari hingga September 2012.

“Perlakuan cabul itu dilakukan berulang-ulang  kali dengan berbagai bentuk, dari mulai oral hingga penetrasi. Awalnya mereka sering dipanggil dan sang Ustad minta dipijat bagian kaki, bahu dan dada. Lama-lama dia melakukan pencabulan dengan cara dihipnotis,” kata pengacara para korban, Abu Bakar J. Lamatapo, SH.

Menurut Abu, M biasanya memanggil korban ke ruang Sekretariat Yayasan dan berdalih mengajari hypnoterapi. Nyatanya, selagi hypnoterapi berlangsung, pria beranak dua itu melancarkan aksi cabulnya dengan keadaan korban setengah sadar. AL, misalnya, diminta membayangkan idolanya lalu diperintah mencium sang ustad. Bahkan, AL pernah diminta memegang kelamin pria tersebut.

Pencabulan terparah dan tersering dialami oleh S yang memang bertempat tinggal di pesantren tersebut. Tahap pencabulan oral hingga penetrasi pernah dialaminya dalam keadaan setengah sadar. Karena sudah tak tahan, S akhirnya mengadukan perbuatan M pada salah satu guru perempuan di pesantren itu, Riri (24).

“S mengadu pada saya diikuti oleh AL dan AK yang ternyata bernasib sama. Saya langsung mengadukannya pada paman Ustad M. Ustad M berkeras tak mengakui dan kami malah dimaki-maki,” tuturnya.

Ia menjelaskan, awal Oktober 2012, ketiga korban mengadukan nasib mereka pada orang tua masing-masing. Ketiga orang tua anak tersebut bersama-sama meminta bantuan hukum pada Abu dan timnya. Mika pun dipolisikan pada 9 Oktober lalu ke Polres Jakarta Selatan.

“Mereka awalnya takut melapor karena Ustad M terkenal suka memaki, kedua, karena faktor ekonomi juga. Mereka berpikir,  bagaimana masa depan mereka kalau keluar dari yayasan, tak ada yang biayai lagi,” jelas Abu.

Abu mengatakan, Polisi menjerat M dengan Pasal 290 KUHP dengan ancaman hukuman  tujuh tahun penjara. Selain itu, Abu juga melaporkan kasus tersebut pada Komnas PA dan Komnas Perempuan.

“Tanggal 26 November, MM sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian tapi anehnya kenapa orang itu tidak ditahan dan hingga kini bebas berkeliaran,” tukasnya.

Sementara itu Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengecam Polres Jaksel yang di nilainya sangat tidak adil. Pasalnya, selain tidak segera melakukan penahanan terhadap tersangka, polisi juga tidak menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) tahun 2002 untuk kasus itu.

“Dalam UUPA, M seyogyanya di jerat dengan Pasal 82 dengan ancaman hukuman 5 sampai 15 tahun penjara. Jelas-jelas mereka adalah anak, harusnya langsung menggunakan UUPA,” tegas Arist.

Kepolisian gemar menggunakan KUHP, menurut Arist, karena adanya celah damai. Pasalnya, dalam KUHP terdapat unsur ‘suka sama suka’ yang biasanya berujung damai.

“Kami sudah layangkan surat ke Polres Jaksel pada 1 November lalu agar menggunakan UUPA, namun belum digubris. Kami akan segera layangkan surat kembali,meminta agar sang ustad ditahan,” ujar Arist.

Sementara proses hukum berjalan, Ibunda AL, Roswita (49)mengatakan terapi psikologis terhadap korban tetap diupayakan melalui Komnas Perempuan. Pasalnya, ketiga korban mengalami gangguan psikis yang cukup berat. Ketiga anak yatim itu diketahui memiliki prestasi belajar yang terus menurun.

“Anak saya misalnya, jadi sering melamun, sensitif, suka marah-marah, dan malas belajar,”tuturnya.@winarko

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty



Editor: +Khairul Fahmi

I am an inventor, a writer and wordsmith.…

Facebook Twitter Google+ Index Berita 



code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty