x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Jatim Harus Tolak Impor Tembakau

PP 109/2012 Matikan Industri Rokok Kretek

Jumat, 15 Februari 2013 10:43 WIB (2 years yang lalu)Editor:
PP 109/2012 Matikan Industri Rokok Kretek - Jatim Harus Tolak Impor Tembakau - Para pengusaha industri kretek sepakat menolak PP 109/2012

(Foto: Panji/LensaIndonesia.com)Para pengusaha industri kretek sepakat menolak PP 109/2012

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Para pelaku industri rokok kretek serta petani tembakau dan cengkeh forum penyelamat kretek sebagai produk asli Indonesia di Jatim sepakat melakukan penolakan terhadap impor tembakau dari luar. Pasalnya, penolakan tersebut akan berimbas matinya industri kretek yang menjadi ciri khas rokok Indonesia.

Tim Revitalisasi Industri Tembakau, Kabul Santoso, menatakan, Peraturan Pemerintah (PP) nomor 109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau di 2014 secara umum sangat mematikan industri pertembakauan.

Baca juga: FKPT: Propaganda palsu ancaman bagi kehidupan petani tembakau dan PIB : Hasil cukai tembakau tidak adil dan berpotensi dikorupsi

Selanjutnya, PP yang dituju atau disahkan tidak terlalu jauh melenceng dari RPP yakni keberatan dari berbagai komponen element masyarakat terutama pertembakauan tidak banyak di dengar pemerintah.

“PP ini dibuat seolah tidak membatasi penanaman tembakau, seolah-olah tidak ada kaitannya dengan para petani yang ,emama, tembakau. Padahal secara logika waras bahwa jika industri tembakau dimatikan maka petani tembakaupun akan mati pula karena produknya todal alam ada yang memanfaatkan,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (15/2/2013).

Sementara itu, volume impor tembakau terus naik seiring dengan peralihan rasa dari rokok kretek menjadi putihan dan mild lantaran masuknya tembakau jenis virginia yang impor dari luar sebagai perubahan taste pada rokok kretek.

Disebutkan, saat ini volume impor tembakau virginia mencapai 66.000 ton 120.000 ton per tahun, wilayah Jatim berada di dikisaran 31.000 ton hingga 41.000 ton per tahun.

Sedangkan di lain pihak, tembakau virginia impor ini hanya dibutuhkan oleh perusahaan rokok besar yang memproduksi rokok putihan dan mild seperti Sampoerna.

Padahal, tembakau jenis virginia di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB),Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) dan beberapa di Jatim jauh lebih bagus kualitasnya dibandingkan impor dari luar negeri.

“Anehnya malah perusahaan rokok besar impor tembakau virginia sedangkan kita sendiri juga mengekspor tembakau virginia ke luar negeri. Kenapa perusahaan rokok tidak pakai virginia asal Indonesia saja? toh sama-sama menguntungkan kedua belah pihak khususnya petani tembakau,” pungkas akademisi yang juga rektor Universitas Negeri
Jember ini.

Sementara itu, Ketua pokja penyelamatan kretek sebagai produk asli Indonesia, Dedy Suhajadi, menyatakan, pihaknya bersama sejumlah elemen pelaku pertembakauan dan industri rokok menolak impor tembakau khususnya jenis virginia masuk ke Jatim.

Kontribusi dari pajak rokok misalnya, nilainya lebih besar dari minyak bumi, namun karena ketidak berpihakan pemerintah terhadap pertembakauan nasional, akhirnya tembakau impor yang masuk Jatim membesar dan perkembangan industri tembakau nasional kian terhambat.

Terlebih ketika saat ini pemerintah justru menandatangani PP Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau.

Untuk menyelamatkan pertembakauan Jatim, ia menyatakan, pihaknya diajak Gubernur Jatim, Soekarwo merealisasi RUU Pertembakauan yang di dalamnya mengambil konsep yang membela petani hingga pengusaha.

“Tembakau impor dilarang masuk Jatim. Kalau kita berani ngomong stop sapi impor dan buah-buahan, kita juga harus berani katakan stop tembakau impor. Karena tembakau lebih besar kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia, khususnya Jatim dibanding sapi. Kami berharap RUU Pertembakauan akan menyejahterakan petani tembakau di Jatim,” sahut Dedy. @Panjichuby_666

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty



Editor: +Rizal Hasan

RIZAL HASAN has been a reporter for more than 12 years, now he as…

Facebook Twitter Google+ Index Berita 



code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty