x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Korupsi yang Libatkan Hartati Murdaya dan Amran Batalipu

Kasus Suap Buol Terjadi Karena Aparatur Tidak Taat Hukum

Selasa, 19 Maret 2013 18:26 WIB (1 year yang lalu)Editor:
Kasus Suap Buol Terjadi Karena Aparatur Tidak Taat Hukum - Korupsi yang Libatkan Hartati Murdaya dan Amran Batalipu - Amran Batalipu

(Foto: Istimewa)Amran Batalipu

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Aparat birokrasi dan penegak hukum hendaknya menjadi contoh untuk taat hukum. Jika aparat tidak memberi contoh, maka masyarakat akan mengabaikan aturan-aturan hukum.

Demikian disampaikan Pakar hukum pidana Universitas Indonesia, Prof Dr Romli Atmasasmita dalam Simposium Nasional Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminal Indonesia dan ditulis kembali dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (19/3/2013).

Baca juga: Rakyat ditipu, KPK jangan diamkan Kementerian "maling" Bansos Rp2,1 T dan Kejari se-Jatim diwajibkan naikkan satu perkara korupsi dalam sebulan

“Namun, sayangnya, selama ini justru aparatur negara tidak memberikan contoh yang baik, bahkan tidak sedikit yang justru menjalin kontak dengan masyarakat untuk melakukan pelanggaran hukum,” kata Romli lagi.

Kontak paling sering antara aparatur negara dengan masyarakat adalah dalam hal mengurus perizinan usaha. Menurutnya, jika birokrat bekerja sesuai dengan perundang-undangan, perizinan akan mudah dan murah.

“Tapi, faktanya seringkali birokrat mempersulit keluarnya perizinan dengan maksud supaya pemohon mengeluarkan uang pelicin. Kondisi seperti inilah yang membahayakan birokrat dan masyarakat pemohon. Kalau transaksi itu terjadi, bisa dikenakan pasal penyuapan,” tambahnya.

Di kehidupan nyata, imbuhnya, sikap buruk aparatur itu menjadi masalah hukum seperti dalam kasus Buol yang menyeret pengusaha Hartati Murdaya. Padahal, untuk melihat kasus ini sangatlah sederhana, kalau Bupati Buol tidak meminta, tentu kasus ini tidak akan pernah ada.

Oleh sebab itu dalam kaitan tersebut maka hendaknya aparat penegak hukum berpegang pada hati nurani dan secara profesional mengambil langkah hukum yang tepat dan bijak.

Menurut Prof Romli Atmasasmita, fakta seperti dalam kasus Buol itu membuktikan bahwa jika aparatur negara terutama di puncak kekuasaan tidak memberikan contoh, hal itu bakal mengorbankan banyak elemen bangsa.

“Contoh yang lebih besarnya begini, jargon antikorupsi salah satu parpol tidak berhasil dengan efektif, bahkan melibatkan banyak anggota parpol itu dalam korupsi. Bagaimana rakyat taat dan patuh termasuk aparatur birokrasi jika orang-orang di sekitar presiden juga melibatkan dirinya dalam kasus korupsi,” tegasnya.

Rmoli katakan, aparatur penegak hukum dan aparat birokrasi seharusnya menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran hukum. Hal ini sangat penting di tengah makin tidak pedulinya masyarakat pada penegakan hukum.

“Sikap masyarakat kita terhadap hukum masih mengikuti pola patron-client. Masyarakat sangat bergantung pada atasan atau penguasa. Dengan pola seperti ini seharusnya para aparatur negara memberikan contoh sehingga ditiru masyarakat. Jika yang terjadi sebaliknya, tentu masyarakat juga akan berperilaku negatif terhadap hukum,” terang dia.

Lebih lanjut dikatakan, untuk memperkuat kesadaran hukum, perlu juga dibangun pandangan bahwa hukum jangan hanya dipandang sebagai sistem norma dan perilaku, tetapi juga sebagai sistem nilai.

“Ini artinya, dalam proses pembentukan Undang-Undang ataupun putusan pengadilan maupun di dalam penegakan hukum, filsafat Pancasila harus menjadi rujukan,” demikian Prof Romli. @ari

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty



Editor: +Ari Purwanto

Hanya orang biasa.…

Facebook Twitter Google+ Index Berita 



code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty