x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Jelang panen raya bulan Juli

Asosiasi Petani Bawang Merah minta impor dikurangi

Jumat, 05 April 2013 15:36 WIB (1 year yang lalu)Editor:
Asosiasi Petani Bawang Merah minta impor dikurangi - Jelang panen raya bulan Juli - Ilustrasi panen raya bawang merah

(Foto: ist)Ilustrasi panen raya bawang merah

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Dikarenakan bulan Juli-Agustus akan berlangsung panen raya bawang merah di wilayah Jatim, maka Asosiasi Petani Bawang Merah Jawa Timur mengimbau pemerintah untuk menyetop impor bawang merah pada bulan Juli 2013 mendatang. Hal itu menyikapi rencana pemerintah untuk memberi ijin impor bawang merah sebanyak 60.000 ton yang ditujukan untuk meredam gejolak kenaikan harga.

Namun pihak Asosiasi Petani Bawang Merah menolak dibilang menolak adanya impor. “Kami tidak menolak upaya pemerintah untuk memberikan ijin impor 60.000 ton bawang merah, hanya saja kami meminta agar nanti di bulan Juni pemerintah sudah mulai mengurangi volume impor. Karena pada bulan berikutnya (Juli), panen raya bawang merah di Jatim digelar,” terang Ketua Asosiasi Petani Bawang Merah Jatim, Akad.

Baca juga: Awas! jeruk dan anggur selundupan China tidak dijamin sehat dan Produksi bawang merah mencapai 222,86 ribu ton

Dirinya menambahkan bahwa adanya gejolak kenaikan harga bawang merah beberapa lama ini disebabkan minimnya pasokan dalam negeri. Selain itu juga dikarenakan adanya ketidak stabilan antara jumlah pasokan dan kebutuhan. “Lihat saja diawal tahun, dimana luas lahan tanam bawang cenderung rendah. Selain itu memang untuk menyiasati musim, karena musim penghujan adalah saat tanam bawang merah resikonya sangat tinggi,” pungkasnya.

Akad mencontohkan di wilayah Nganjuk diperkirakan ada lahan dengan luas lahan tanam mencapai 4.000-5.000 hektar. Saat ini luas tanam hanya tinggal 20% saja, atau sekitar 1.000 hektar. Dibandingkan di Probolinggo, kondisinya juga sama, dari luas lahan normal sekitar 3.000 hektar, sekarang hanya tinggal 500 hektar saja.

“Tahun ini sebenarnya sudah dimulai pengembangan daerah untuk penanaman bawang merah. Di beberapa wilayah yang sudah mulai tanam adalah Bojonegoro, Magetan dan Ponorogo, masing-masing dengan luasan sekitar 2.000 hektar,” pungkasnya. @dhimasprasaja




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty