x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Resensi: Joko Irianto hamid (jurnalis Lensaindonesia.com)

Dahlan “dakhilun” Iskan, Gus Dur dan KH Ahmad Dahlan (bag. 2)

Kamis, 02 Mei 2013 04:42 WIB (12 months yang lalu)Editor:
Dahlan “dakhilun” Iskan, Gus Dur dan KH Ahmad Dahlan (bag. 2) - Resensi: Joko Irianto hamid (jurnalis Lensaindonesia.com) - Dahlan Iskan, Sang Pendobrak. Buku setebal 299 halaman ini ditulis Sholihin Hidayat, mantan pemred Jawa Pos, yang kini dewan pakar redaksi lensaindonesia.com.

(Foto: dok istimewa)Dahlan Iskan, Sang Pendobrak. Buku setebal 299 halaman ini ditulis Sholihin Hidayat, mantan pemred Jawa Pos, yang kini dewan pakar redaksi lensaindonesia.com.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


BUKUberjudul “Dahlan Iskan Sang Pendobrak” ini, penulis –Sholihin Hidayat dan Abdul Ghofar Mistar–mengidentifikasi  wartawan sejati Dahlan Iskan sebagai sosok pembaharu. Atau, ‘pendobrak’, seperti namanya yang merupakan etimologi dari bahasa Arab; “dakholan”, yang berarti terobosan. Alias  “dakhilun” (subyek) artinya, pembuat terobosan, pendobrak, pembuka jalan pencerahan.

Baca juga: Freeport untung Rp6 T tapi pelit, Dahlan ngotot minta dividen interim dan Kader Demokrat tidak boleh malu belajar dari Dahlan Iskan

Dahlan dideskripsikan sebagai wartawan ber-multitalenta. Gaya jurnalisme-nya berhasil mengubah mindset jutaan masyarakat Indonesia –pengonsumsi surat kabar grup Jawa Pos— seakan menjadi “Jawa Pos-isme”.Atau, pembaca mediaGrup Jawa Pos “minded”.

Sebagai jurnalis “anak didik” Pemred Majalah Tempo, Gunawan Muhammad –Dahlanmengawali karier sebagai reporter koran lokal di Samarinda (1975), kemudian menjadi  wartawan Majalah Tempo (1976-1981)–, talentanya sebagai wartawan kreator –salah satu karya  besarnya — dibuktikan dengan berani memelopori mendobrak –budaya– format lembaran koran konvensional di Indonesia dirombak berukuran jumbo. Ini cuma salah satu dari sederet karya kepeloporan Dahlan Iskan di dunia jurnalistikdi tanah air.

Ada satu lagi yang paling mencengangkan, yang sepertikurang diungkap mendalam di buku ini. Dahlan berani mendobrak kesejarahan profesi jurnalis di tanah air. Konsep “gila”-nya mempertaruhkan nasib Jawa Pos sebagai media besar nasional dengan mengangkat tenaga “lay out” menjadi pemimpin redaksi. Tentu, bukan cuma mendobrak paradigma profesi  kewartawan,  tapi sekaligus menabrak AD/ARTapa pun nama lembaga organisasi profesi kewartawanan di Indonesia.

Faktanya, sang “layouter” Leak Kustiya,meski tidak pernah punya pengalaman empiris sebagai wartawan pencari berita, apalagi redaktur pengelola berita, toh mampu mengendalikan keredaksian Jawa Pos tertap harmoni di eranya.

Pendalilan  Dahlan memproporsionalkan  profesi   “lay out” di surat kabar identik dengan jurnalis visual koran yang memiliki kesetaraan peran dengan jurnalis berita atau jurnalis foto, tidak meleset. Terbukti lagi, Leak yang berbekal pengalaman berkinerja dengan awak Jawa Pos, dan skill sebagai jurnalis visual koran, serta knowledge mendampingi enam Pemred Jawa Pos (Margiono, Sholihin Hidayat, Dhimam Abror, Arif Afandi, Azrul Ananda, Rohman), menjadikannya sadar karakter dan sistemmanajemen ala  Jawa Pos, serta punya kearifan leadership mengendalikan awak media besar. Alhasil, Pemred ‘terobosan’ ini terbilang pemecah rekor terlama dibanding Pemred konvensional di Jawa Pos yang lain.

Penulis juga membeberkan kebeningan Dahlan sebagai pebisnis, dibuktikan dari kepiawaian mengawali mengelola koran Jawa Pos (dibeli  PT Grafiti Pers, penerbit Majalah Tempo dari pebisnis The Chung Sen),yang semula hanya beroplah satu becak  (1982), kemudian melesat menjadi ratusan ribu eksemplar atau diangkut puluhan truk.

Dari koran yang semula satu becak itu–berkat tangan dingin Dahlan– kini beranak pinak menjadi 205-an anak perusahaan surat kabar (lengkap dengan usaha percetakan), tabloid, dan majalah di seluruh Indonesia. Ini masih ditambah lagi 42 stasiun televisi lokal di tanah air, bisnis gedung perkantoran Graha Pena tersebar di banyak kota provinsi, pabrik kertas, bahkan perusahaan pembangkit listrik, dan masih banyak lagi.(hal. 90)

Sebagai wartawan pendobrak, Dahlan Iskan dalam buku ini tidak diidentikkan simbol perlawanan ideologi. Sebaliknya, Sholihin  ingin menyampaikan  bahwa Dahlan Iskan figur inspirator, inovator, motivator, sekaligus konseptor yang  dapat memberikan ketauladanan perlawanan terhadap kebekuan, ketidakberdayaan, ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, bahkan  simbol wartawan progresif.

Semua itu dibuktikan  dari ketangguhan Dahlan ‘start’ dari masa kecilyang hidup di tengah keluarga miskin di Dukuh Kebondalem, Desa Tagalarum, Kec Bendo, Magetan. Dahlan kecil biasa ikut rebutan nasi kenduri di acara tradisi “nyadran”  di kuburan, maupun di langgar. (kata pengantar Dahlan Iskan).

Ketauladanan terobosan Dahlan lainnya, yang kurang  disinggung mendalam oleh penulis, bahwa Dahlan  tidak cuma teruji melahirkan wartawan-wartawan andal di negeri ini, yang salah satunya, Margiono CEO Rakyat Merdeka Group dan Ketua Umum PWI Pusat. Dahlan juga piawai jadi ‘guru’ mendidik karyawannya dari seorang pesuruh atau sopir pengangkut koran, misalnya,  hingga nasibnya berubah jadi Dirut yang berhasil mengelolah media anak perusahaan Jawa Pos, juga ada yang sukses jadi pengelola perusahaan percetakan media.

Banyak pengusaha yang gagal mengembangkan bisnisnya, disebabkan karakter pribadinyalebih menyerupai penjudi daripada pengusaha. Banyak ilmuwan yang ilmunya tidak menyerdaskan siapa pun, malah menyesesatkan masyarakat, karena sejak di bangku sekolah dia hanya memimpikan jabatan dan kekayaaan. Ilmunya tidak bermanfaat, karena tertutup oleh keserakahan hawa nafsunya. Dia ibarat tawon gung yang ke mana-mana cuma menebar ancaman bagi siapa saja. (hal 136)

Dan celakalah bila ada pengusaha, pejabat, atau politisi yang kesenangannya hanya singing, eating, dan touring. Pasti pikiran-pikiran korup akan selalu mengendap dalam benak mereka. (hal. 62)

Rupanya, inilah kelebihan penulis, melengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi “uzlah” (kontemplatif). Gaya penyajian yang mengingatkan jurnalisme testimoni, menjadi cair, tidak mengencangkan kening, meski  alurnya di bagian-bagian tertentu mengembang.

Pendobrakan  Dahlan,  diungkap pula, bukan cuma bisa membuat Jawa Pos beranak pinak menjadi  lebih seratus surat kabar di seluruh Indonesia. Namun, Dahlan juga mampu mencerahkan atau menghidupkan  industri pers di seluruh provinsi, kota-kota besar dan kota terpencil di negeri ini, yang sempat mengalami stagnasi dalam perjalanan paruh Orde Baru. Kehidupan pers daerah bernasib “hidup segan mati tak mau”.

Berkat terobosan Dahlan Iskan membangkitkan industri pers daerah, alhasil, lahir pula ribuan wartawan andal menyebar di seluruh tanah air, dan kini menjadi pelaku salah satu pilar demokrasi di negeri ini. 

Begitulah sebagian dari sederet potret ‘sang pendobrak”  Dahlan Iskan yang ingin disampaikan Sholihin Hidayat.Dipaparkan dengan model jurnalismetestimoni yang dilengkapi metafora sarat kontempasi, komunikatif, ‘gayeng’.

Mafhum, kalau di bagian 1 buku ini, Sholihin Hidayat membingkai Dahlan Iskan sebagai sang pendobrak di dunianya, lantas ia tarik benang merah dengan kesejarahan Gus Dur yang diberi gelar oleh sejarahwan dengan sebutan Abdurrahman “Ad-dakhil”. Atau, Abdurrahman sang pendobrak, sang  pembuka jalan baru sejarah Islam di benua Eropa.

Tidak cuma  itu. Sholihin juga mengapresiasi  figur  wartawan Dahlan Iskan –dalam kapasitasnya– dengan sebutan “sang pendobrak”  yang pernah melekat pada KH Ahmad Dahlan, pendiri perserikatan Muhammadiyah, yang juga pemimpin gerakan pembaharu Islam dan oleh Belanda dijuluki “Harimau Jawa”. 

Penulis buku ini tidak bermaksud menyetarakan Sosok  Dahlan Iskan, Gus Dur, dan KH Ahmad Dahlan. Masing-masing  adalah keniscayaan ‘hidayah”. *** (bersambung




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty