Petani di Sumenep trauma tanam tembakau

LENSAINDONESIA.COM: Anjloknya harga tembakau tahun lalu mengakibatkan sebagian petani di Kabupaten Sumenep, Madura trauma untuk menanam lagi.

Harga tembakau tahun lalu berkisar Rp 19 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram, jauh dari harga yang diharapkan. Sehingga tahun ini, tidak sedikit petani yang enggan menanam tembakau.

Fathorrahman (30) petani asal Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi, mengakui, kerugian yang diakibatkan anjloknya harga tembakau tahun lalu mencapai puluhan juta rupih. Karena kerugian itu, dia menanggung beban hutang yang belum terlunaskan hingga saat ini. “Tak sedikit kerugian yang saya alami,” jelasnya. Sementara modal untuk menanam tembakau, ia dapatkan dengan berhutang.

Namun Fathor masih bersyukur, sebab orang yang memberikan pinjaman merupakan saudara sendiri. “Mujur, dia masih saudara sendiri,” ucapnya. Hingga dia mengaku tidak begitu tertekan, apalagi saudara yang memberikan pinjaman modal tidak mendesak untuk segera dilunasi. “Tapi bagaimanapun, saya tidak enak,” tambahnya.

Apalagi, imbuhnya, pihak pabrikan seakan memang tidak mau menghargai jerih payah petani. Terbukti, ketika mau mengambil contoh tembakau yang ingin dijual petani, pihak pabrikan mengambil contoh di atas batas kenormalan.

“Masa kalau hanya mau ngambil contoh tembakau sampai sekilo? Ini kan jelas, pengusaha hanya akan menggerogoti petani,” tukasnya. Karenanya, tahun ini Fathor enggan menanam tembakau lagi jika harga dan sistem di pihak pabrikan jauh dari yang diharapkan petani.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Sumenep Ahmad Jauhari menghimbau masyarakat agar tetap optimis memasuki masa tanam tembakau. Sebab, anggota dewan selalu berjuang agar harga tembakau tidak anjlok. “Anggota dewan senantiasa menyuarakan itu,” ucapnya. Apalagi, menurutnya, tahun lalu harga tembakau sudah pernah direncanakan dijadikan peraturan daerah (perda).

“Tahun lalu pernah ada upaya ke situ. Jika tidak salah, harga minimal perkilo tembakau seharga 30 ribu,” imbuhnya. Tapi karena tidak kesepakatan dengan dinas terkait dan pihak pengusaha, akhirnya rencana itu digagalkan.

“Tahun ini saya siap mengawal pembuatan perda harga tembakau itu,” janjinya. Tapi dia meminta kepada petani agar benar-benar menjaga kualitas tembakaunya. Sebab, jika kualitas tembakau bagus, sangat mungkin bagi anggota parlemen untuk mendesak Dinas Perhutanan dan Perkebunan juga pihak pabrikan menyetujui pembuatan perda itu.@rhahmatullah