x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Dugaan ruislag tanah Kodam V Brawijaya

Dituduh terima uang, Djaja Suparman bantah pengakuan saksi

Selasa, 04 Juni 2013 17:36 WIB (11 months yang lalu)Editor:
Dituduh terima uang, Djaja Suparman bantah pengakuan saksi - Dugaan ruislag tanah Kodam V Brawijaya - Djaja Suparman saat menjalani persidangan terkait ruislag tanah Kodam V Brawijaya

(Foto: ist)Djaja Suparman saat menjalani persidangan terkait ruislag tanah Kodam V Brawijaya

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Sidang kasus dugaan ruislag Letjen Purn Djaja Suparman dengan PT Citra Marga Nusapala Persada (CMNP) dengan kerugian negara sebesar Rp 13,644 miliar di Pengadilan Militer Tinggi (Mahmilti) III Surabaya kembali berlanjut.

Dalam sidang yang diketuai Letjen TNI Hidayat Manao kali ini menghadirkan beberapa saksi, termasuk mantan Asisten Logistik (Aslog) Kodam V Brawijaya Kol Inf (Purn) Sujarwo. Dalam kesaksiannya, Sujarwo menilai terdakwa diduga menerima dana Rp 17 miliar terkait kasus ini.

Baca juga: Pangdam dan Kiai Jawa timur doa bersama kawal Pemilu damai dan 111 perwira Kodam V/Brawijaya naik pangkat

Dia menguraikan, bahwa selama menjadi Aslog di Kodam V Brawijaya selama 2,5 tahun, dia memang tak tahu kasus yang menimpa terdakwa Letjen (Purn) Djaja Suparman. “Saya tak tahu tentang hal itu,” paparnya menjawab pertanyaan majelis hakim seputar ruislag itu, Selasa (4/6/2013).

Diungkapkan, pihaknya sempat mendengar kasus itu dari mantan Kepala Zeni Kodam (Kazidam) V/ Brawijaya yang juga menjadi saksi dalam sidang sebelumnya, Kol Czi (Purn) Maskup. Maskup sempat mengeluh pada Sujarwo terkait pertanggungjawaban uang Rp 17 miliar, padahal yang diterima hanya Rp 4 miliar. “Tapi kalau masalah detil, saya tak tahu karena dia tertutup,” tuturnya.

Saksi baru mengetahui masalah itu, ketika dia dimutasi ke Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sekitar 2002 lalu. Kemudian pada 2005, ada hasil audit dari Inspektur Jendral TNI AD (Irjenad) terkait kasus ini, dimana namanya masuk dalam berkas pemeriksaan itu. “Saya waktu itu diberitahu bahwa ada nama saya pada kasus itu. Ketika saya cek, ternyata ini yang dikeluhkan Pak Maskup waktu itu,” katanya.

Setelah itu, Sujarwo pun ikut dipanggil dan diperiksa sebagai saksi dalam kasus ini. Ketika didesak terkait aliran dana sebesar Rp 17 miliar, dia mengaku tak tahu. Dia juga tak tahu sumber dana sebesar Rp 17 miliar itu. Hanya saja, dia memberi pernyataan bahwa patut diduga terdakwa menerima dana sebesar Rp 17 miliar itu, karena saat itu terdakwa menjabat sebagai Pangdam V/Brawijaya. “Saya memang baru tahu kejadiannya setelah ada audit dari Irjenad dan keluhan Kazidam. Sebelum itu saya tak tahu tentang kasus ini,” paparnya.

Ketika majelis hakim menanyakan keterangan saksi, terdakwa Djaja Suparman membantahnya dan apa yang diutarakan saksi tak benar. “Itu tak benar,” tegasnya.

Untuk diketahui, adanya ruislag itu dilakukan Kodam pada 1998 berupa tanah yang sekarang dipakai jalan tol Perak-Waru. Diduga terdakwa melakukannya tanpa izin KSAD dan pembeli tanah sekaligus yang membangun jalan tol, yakni PT CMNP.@ian_lensa




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty