PT Smelting Gresik sebar gas beracun

LENSAINDONESIA.COM:Hingga Minggu (07/07/2013) malam ratusan warga Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih belum berani mengungsi ke kampung halamannya akibat trauma bocornya gas beracun milik PT Smelting di desa setempat.

Kepala Desa Romoo, Rusdianto, mengatakan hujan asam sulfat (SO2) dari perusahaan pengolah biji tembaga itu terjadi sekitar pukul 12.30 Minggu (07/07/2013). Bahkan kebocoran gas beracun milik PT Smelting itu tercium hingga radius lima kilometer.

“Bau menyengat memang cepat menyebar karena saat itu angin berembus cukup kencang,” kata Rusdianto.

Akibatnya, warga mengalami mual dan muntah. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengalami sesak nafas. Mengantisipasi situasi yang makin gawat, Rusdianto kemudian memutuskan mengungsikan hampir seisi desa setelah berkoordinasi dengan Muspika Manyar.

Kapolsek Manyar, AKP Darsuki, kepada wartawam menyatakan gas yang dihirup warga berbahaya, karena membuat ratusan warga merasa mual dan sebagian lainnya terpaksa dirawat di rumah sakit. Agar tak jatuh korban lebih serius, pihaknya kemudian langsung memerintahkan PT Smelting untuk mematikan mesinnya. “Agar korban tidak bertambah banyak,” tegas Darsuki.

Menurut dia, saat itu juga pihak Polsek Manyar langsung melakukan komunikasi dengan PT Smelting terkait penyebab bocornya gas beracun yang keluar dari perusahaan itu.

Sementara sejumlah warga di lokasi bocornya gas beracun milik PT Smelting, menjelaskan serangan mual dan sesak mulai dirasakan mulai pukul 13.00 WIB. Sejumlah warga juga mengaku tidak bisa menelan ludah, sehingga merasa pusing dan sebagian pingsan.

“Banyak penduduk merasa pusing dan tidak bisa menelan ludah, selain itu sejumlah warga lainnya ada yang pingsan,” terang Mubiyanto dan Zaenuri disamping puluhan warga lainnya.

Untuk mengantisipasi situasi makin berbahaya, ratusan warga kemudian diungsikan ke berbagai tempat mulai SPBU dan tempat lain yang dianggap aman, serta GOR Tridharma Gresik yang terletak tak jauh dari desa `neraka` itu.

“Situasinya benar-benar mencekam. Seluruh penduduk mengungsi dan desa dalam keadaan kosong. Anak-anak dikumpulkan di sekitar pom bensin Manyar,” terang warga lainnya.

Warga yang dievakuasi, selanjutnya akan dibawa ke rumah sakit Petrokimia Gresik.

Sedangkan Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto, menyatakan kekewaannya terhadap manajemen PT Smelting. Sebab hingga sejauh ini belum bisa dimintai pertanggungjawaban.

“Pascainsiden kebocoran gas itu, tidak ada satupun dari manajemen PT Smelting yang turun mendata warga yang terkena dampak gas,” kata Sambari agak emosional di tengah mediasi dengan warga.
“Saat ini mulai dievakuasi menggunakan mobil dari Smelting juga ada bantuan dari rumah sakit petro,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Smelting Gresik Budi Setiawan, mengakui adanya kebocoran gas S02 dari salah satu mesin, dan pihaknya sudah menerjunkan tim untuk mengatasi kebocoran. ‘Kita sudah bagi-bagikan masker kepada warga,” kata dia.
Budi juga menjamin kondisi bocornya gas SO2 dari pabriknya sudah teratasi.

Namun pernyataan Budi dibantah warga dengan mengatakan, pembagian masker itu sangat terlambat karena situasinya sudah terlanjur kisruh. “Tindakan pencegahan dan pembagian masker baru dilakukan setelah seisi desa kosong,” tandas Muhayat.

Sebelumnya, gas SO2 milik PT Smelting sudah pernah mengalami kebocoran. Jadi kebocoran ini bukan kali pertama. Jadi sangat wajar ketika kemudian menjadi trauma dan berani kembali desanya. Mereka takut sewaktu-waktu kejadian itu terulang lagi.

Sedangkan Camat Manyar, Jairuddin, mebnjelaskan saat ini terdapat 200 KK yang mengungsi sementara ke tempat aman akibat adanya gas bocor milik PT Smelting.

Berdasarkan pelbagai catatan yang ada, gas belerang dioksida (SO2) mempunyai sifat tidak berwarna, tetapi berbau sangat menyengat dan dapat menyesakkan napas meskipun dalam kadar rendah. Gas ini dihasilkan dari oksidasi atau pembakaran belerang yang terlarut dalam bahan bakar miyak bumi, serta dari pembakaran belerang yang terkandung dalam biji logam yang diproses pada industri pertambangan. Penyebab terbesar berlebihnya kadar oksida belerang di udara adalah pada pembakaran batu bara.

Akibat yang ditimbulkan oleh berlebihnya oksida belerang memang tidak secara langsung dirasakan oleh manusia, akan tetapi menyebabkan terjadinya hujan asam.

Hujan yang banyak mengandung asam sulfat ini memiliki pH< 5, sehingga menyebabkan sangat korosif terhadap logam dan berbahaya bagi kesehatan. Di samping menyebabkan hujan asam, oksida belerang baik SO2 maupun SO3 yang terserap ke dalam alat pernapasan masuk ke paru-paru, juga akan membentuk asam sulfit dan asam sulfat yang sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan, khususnya paru-paru.@Bro*)