x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



Migrant IDF: Pemerintah jangan baru bertindak kalau sudah dihukum

TKI mengeluh, di Kuwait dijadikan budak seks, sales Narkoba

Sabtu, 28 September 2013 08:21 WIB (7 months yang lalu)Editor:
TKI mengeluh, di Kuwait dijadikan budak seks, sales Narkoba - Migrant IDF: Pemerintah jangan baru bertindak kalau sudah dihukum - TKI Siti dari Kuwait telepon keluarga di Cianjur, curhat dipekerjakan budak seks dan sales narkoba.

(Foto: ilustrasi/ist.)TKI Siti dari Kuwait telepon keluarga di Cianjur, curhat dipekerjakan budak seks dan sales narkoba.

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: TKI bernama Siti Waniah kelahiran Indramayu, 28 Juni 1991, minta pertolongan keluarga di Indonesia, karena mengaku dijadikan penjual narkoba dan Pekerja Seks Komersil (PSK) oleh majikannya di Kuwait. Siti menyampaikan itu  di tengah  pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga di negara Timur Tengah tersebut.

Hal itu diungkapkan Nur Salim, Koordinator Crisis Center Migrant Institute, setelah menerima pengaduan dari Ny Samaroh, ibunda Siti Waniah. Ibunda TKI Siti yang tinggal di Tegalurung, Kec. Balongan, Kab. Indramayu, Jawa Barat ini, juga mengungkaop panjang lebar kepedihan anaknya yang menjadi TKI di negara Timur Tengah itu.

Baca juga: 4,5 juta pengungsi Suriah tragis, ACT Indonesia kirim tim kemanusiaan dan Kasus Satinah ciutkan nyali para perempuan di desanya jadi TKI

“Menurut Samaroh, anaknya tersebut sudah bekerja selama 5 tahun (di Kuwait) dan dipekerjakan sebagai penjual Narkoba, serta pekerja seks oleh seorang majikan yang juga menjadi bandar narkoba bernama Arsaybe Sya Ban Haophan di Kuwait,” jelas Nur Salim, Koordinator Crisis Center Migrant Institute dalam keterangan persnya kepada LICOM, Sabtu (28/9/13).

Menurut pengakuan korban, dia setiap hari dipaksa melayani dua sampai tiga laki-laki hidung belang. Selain itu,  juga dipaksa berjualan Narkoba kepada lelaki hidung belang yang ingin dilayaninya itu.

Berdasarkan informasi yang didapat Ibu korban, Siti Waniah baru menceritakan problem hidupnya itu saat menghubungi keluarga di Indramayu via telepon pada Agustus lalu. “Sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah cerita mengenai kondisinya kepada kami, mungkin takut kami di sini bersedih,” tutur Samaroh saat mengadukan ke Migrant Institute.

Kini, yang menggalaukan keluarga TKI Siti itu, sejak dia menelpon keluarga sebelum Lebaran lalu, sudah tidak pernah lagi menelepon. Bahkan, keluarga Samaro pun mengakui kesulitan berkomunikasi dengan Siti lantaran nomor telpon  ganti.

“Saat keluarga berusaha menghubungi kembali, nomor telepon yang digunakan korban selalu tidak bisa dikontak,” ungkap Nur Salim.

Pengakuan orang tua Siti, kendati anaknya itu sudah lima tahun meninggalkan rumah keluarga di Indramayu, dan kerja jadi TKI di Kuwait, namun mengirim uang pada keluarga cuma dua kali.

Sementara itu, Migrant Institute berharap pemerintah bisa segera menangani dengan memanggil pihak PPTKIS yang berangkatkan Siti Waniah. Sehingga, pemerintah dapat menelusuri keberadaan Siti Waniah di Kuwait. Jangan sampai, pemerintah Indonesia baru turun tangan menunggu ada kabar, misalnya Siti dihukum berat terkait jaringan Narkoba Internasional, atau terlibat kasus kriminal layaknya para TKI yang mengalami hukuman penjara berat di negari orang.

Hal itiu, kata Nur Salim,  sesuai harapan keluarganya (di Indramayu), yang menginginkan agar anak mereka, Siti Waniah dapat segera dipulangkan dan bisa kumpul dengan keluarga mereka. “Selama ini, kami bingung harus mengadukan hal ini ke mana karena kami tidak memiliki salinan dokumen keimigrasian anak kami tersebut,” keluah Sumaroh sebagaimana ditirukan Nur Salin dari Migrant Institue. @licom




code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty