x
 

menu
search icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etcsearch icons, etc

menu


 
  1. Global
  2. Demokrasi
  3. Protonomi
  4. Jatim
  5. Jakarta
  6. Ekonomi
  7. Hiburan
  8. Techno
  9. Sport
  10. Kesehatan
  11. Edukasi
  12. Lensa Perempuan
  13. Kolom LICOM
  14. Kodak
  15. Opini Bebas
  16. Video
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Google+
  1. Android App
  2. Blackberry App
  1. Disclaimer
  2. Kontak Kami
  3. Tentang Kami


code: 728x90, idcomboard1com is empty



code: 320x50, idcomadsmobileheadcom is empty


Pengguna jalan harus memutar 15 Km

Jalur Pulung-Ngebel Ponorogo putus total akibat longsor

Rabu, 25 Desember 2013 01:35 WIB (7 months yang lalu)Editor:
Jalur Pulung-Ngebel Ponorogo putus total akibat longsor - Pengguna jalan harus memutar 15 Km - Longsoran tanah hampir merobohkan rumah warga

(Foto: Arso-LICOM)Longsoran tanah hampir merobohkan rumah warga

code: 160x600, idcomsky1com is empty


LENSAINDONESIA.COM: Hujan deras yang melanda Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur selama beberapa hari terakhir menyebabkan tanah longsor. Akibatnya, jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Pulung-Ngebel putus total. Longsoran tanah setinggi 60 meter tersebut berada tepat di jalur arus kendaraan Dusun Plaosan, Desa Kesugihan, Kecamatan Pulung.

Akibat putusnya jalan tersebut, para pengendara roda empat dari kedua kecamatan ini terpaksa memutar hingga 15 Kilometer. Sementara untuk pengendara roda dua masih dapat melintas namun harus melewati tanah penduduk, bahkan masuk dapur rumah warga.

Baca juga: Longsor di Ngrayun, Ponorogo, juga robohkan rumah warga dan BPBD Ponorogo siapkan dua tenda untuk 90 pengungsi

Tidak hanya itu, tercatat, empat rumah warga yakni milik Wisono, Marjio, Sukijo dan Nano yang berada tepat dekat lokasi longsor juga terancam roboh jika longsor terjadi terus menerus dan tidak segera ada tindakan. “Jalannya sudah putus. Ini motor satu dua lewat pekarangan rumah warga, bahkan harus lewat dapur rumah,” ungkap Mujianto, Ketua RT 02/1, Dusun Plaosan.

Dijelaskan Mujianto, longsornya tanah tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak enam bulan lalu. Hanya saja saat itu, kendaraan bermotor masih bisa lalu lalang. Kondisinya kini bertambah parah, lantaran saat musim hujan, longsor terus bertambah. Hingga beberapa hari lalu, longsor juga mengikis dua meter sisa jalan. “Lokasinya disini titik terendah dari jalan sebelah utara dan selatan. Jadi saat hujan, air ngumpul dan mengalir ke bawah yang menyebabkan tanah terus tergerus,” paparnya.

Saat ini warga sudah mengumpulkan dana swakelola, namun jumlahnya belum bisa memenuhi kebutuhan tangkis ataupun talut dengan ketinggian tanah mencapai 60 meter itu. “Kami melalui musyawarah desa, sudah mengajukan proposal untuk membangun talut atau tanggul supaya tidak longsor. Tapi sampai sekarang belum ada respon juga dari pemerintah,” cetus dia.

Selain mengancam rumah warga, putusnya ruas jalan utama penghubung Kecamatan Pulung-Ngebel itu juga mengganggu roda perekonomian masyarakat. Hal ini, karena sebagian besar pengguna jalan adalah para pedagang yang biasa berjualan di Pasar Kesugihan, Pulung maupun Pasar Ngebel. @arso**

code: 300x250, idcomadsmobilecom is empty





code: 300x250, idcomsensebox1com is empty


code: 300x250, idcomright1com is empty


code: 300x250, idcomright2com is empty



code: 728x90, idcom2com is empty