Mengejutkan? Hasil Pilgub DKI tentukan peta Gus Ipul, Khofifah, Risma di Pilgub Jatim 2018

Diskusi "Sabtuan" sambut HUT ke-7 LensaIndonesia.com

lensaindonesia
Politikus senior Golkar Jatim, Ridwan Hisjam yang juga Anggota Komisi X DPR RI diskusi dengan awak media di Kantor LensaIdonesia.com.

LENSAINDONESIA.COM: Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Menteri Pemberdayaan Wanita Khofifah Indar Parawansa, masih menduduki posisi peluang terkuat menjadi calon Gubernur Jatim pada Pilkada 2018 mendatang. Namun, peta politik diprediksi bakal berubah ‘mengejutkan’ jika sampai muncul figur ‘kuda hitam’ dari Partai Demokrat.

Kalkulasi politik itu menyeruak dalam diskusi “Sabtuan LensaIndonesia.com” menyambut
HUT ke-7 LensaIndonesia.com, 9 Februari 2017, di Kantor LensaIndonesia Media Group Jalan Sidosermo Pdk Va-19, Surabaya, Sabtu (11/1/2017).

Siapa ‘kuda hitam’ dari Partai Demokrat?

Politikus senior Jawa Timur, yang juga Anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam sebagai narasumber diskusi, enggan menanggapi prediksi yang menjadi isu hangat di kalangan wartawan. Ia lebih memilih menguraikan peta politik kenapa Gus Ipul, Khofifah, dan Risma berpeluang kuat maju Pilkada Jatim, berebut kursi gubernur yang akan ditinggalkan Soekarwo setelah dua periode memimpin masyarakat Jawa Timur.

“Khofifah dan Saifullah (Wagub Gus Ipul, red) punya kans besar karena on the track di Pilkada Jatim. Risma juga berpeluang karena popularitasnya melejit setelah disandingkan Ahok,” kata Mas Tatok, panggilan akrab Ridwan Hisjam. Maksudnya, Risma diuntungkan menjadi ‘media darling’ nasional ketika PDIP memunculkan figur Walikota Surabaya ini masuk bursa bakal Cagub DKI bersaing kuat dengan Ahok.

Wapemred Koran Lensa Indonesia, Novianto dan wartawan Indeks.com, Supriadi menginterupsi pembicaraan Ridwan Hisyam, sembari mendesak agar politikus Golkar yang pernah maju Cawagub Jatim ini bersedia menanggapi isu yang berkembang terkait skenario “kuda hitam” Demokrat.

“Isunya  memang Agus akan diusung Demokrat maju ke Pilgub Jatim 2018, kalau gagal di Pilgub DKI. Bahkan, isu itu sudah menyebar,” kata Supriadi. Tapi, kalau Agus Harimurti Yudhoyono menang Pilgub DKI, tentu skenario Demokrat di Pilgub Jatim 2018 akan berubah.

Novianto menambahkan, isu skenario soal Agus itu menyebut karena DPP Demokrat tidak akan menyia-nyiakan modal kekuatan politik dan peluang besar Demokrat merebut kembali kursi Gubernur Jatim yang sudah diduduki Ketua DPD Demokrat Jatim Soekarwo. Mengingat,
demografi Jawa Timur yang sudah dua periode dipimpin Soekarwo, merupakan provinsi yang sangat strategis dan prestisius dalam peta politik nasional setelah Jakarta.

“Semua partai besar, bahkan politik Istana pun sangat mungkin punya syahwat tinggi terhadap kursi Gubernur Jatim,” ungkapnya, usai diskusi.

Perolehan kursi Demokrat di DPRD Jatim sebanyak 13 kursi, untuk bisa memenuhi syarat mengusung calon gubernur harus punya 20 kursi di DPRD, praktis Demokrat hanya
butuh menggandeng 1 atau 2 partai. Kalau pun pilihannya cukup satu, yang berpeluang digandeng bisa PAN (7 kursi), partai yang pernah dipimpin Hatta Rajasa, besan SBY.

Jika nasib Agus sang putera mahkota SBY ternyata keniscayaannya harus menjadi Cagub Jatim, dipastikan peta politik Gus Ipul, Khofifah, termasuk Risma mau tidak mau harus berubah.

Soal itu, Ridwan Hisjam bergeming. Ia tetap meyakini kekuatan figur Cagub Jatim ada di Khofifah, Gus Ipul, dan Risma. Ketiganya memiliki modal politik untuk berebut suara, paling mumpuni dibanding figur-fgur lain di Jawa Timur. Pemetaannya, menurut Ridwan Hisjam, Gus Ipul –jadi Cagub mendampingi Soekarwo– dua kali di Pilgub Jatim, sedang Khofifah –jadi Cagub– di Pilgub Jatim juga dua kali. Praktis, keduanya selain memahami karakter pemilih dan demografi Jatim, juga punya modal network politik dengan masyarakat cukup mengakar.

“Saya memang pernah jadi Cawagub (diusung Golkar, red) berpasangan dengan Pak Tjip
(politikus PDIP Soetjipto,red). Ali Maschan Moesa (PKB) juga pernah maju Pilgub dengan
Soenaryo (Golkar). Tapi, peluang untuk jadi Cagub, ya tetap ada di Khofifah dan Saifullah,”
kata Ridwan Hijam, mengakui.

Ridwan tidak yakin akan ada figur lain selain ketiga sosok kuat itu untuk posisi Cagub. Alasannya, karena untuk bisa mengimbangi bekal kekuatan politik yang dimilik Khofifah, Gus Ipul, dan Risma sangat high cost, butuh energi besar, dan proses waktu panjang. Bahkan, membangun popularitas juga tidak muda.

“Hal seperti itu sudah dimiliki terutama Khofifah dan Saifullah, karena keduanya sudah pernah ikut Pilkada Jatim sebelumnya,” kata Ketua Departemen Pemenangan Pemilu untuk Jawa III, DPP Golkar ini.

Bagaimana dengan Agus? “Ya, kalau Agus bekal popularitasnya sudah cukup setelah dia maju Pilkada DKI itu,” katanya.

Pertanyaan yang berkembang dalam diskusi, mungkinkah Khofifah mengorbankan kursinya sebagai Menteri? Ridwan tidak ingin berspekulasi. Sementara itu, peserta diskusi terdiri para redaktur Lensaindonesia.com dan redpelnya, Mohammad Ridwan, dan direksi Lensa Indonesia Group, Arief Rahman dan Muhajir, serta Koran Lensa Indonesia, Liputan6, Nusantara.com, dan Indeks.com, sepakat memprediksi, arah politik Khofifah ada di saku Boss Khofiffah di kabinet, yaitu Presiden Jokowi, tapi juga ditentukan dinamika politik nasional sampai menjelang 2018.

“Dinamika politik PKB belakangan ini bisa jadi indikator. Peluang Khofifah tergantung bagaimana nasib PKB yang kini galau menghadapi nasib Ketum PKB Muhaimin yang menghadapi masalah besar,” demikian petikan kesimpulan moderator, Joko Irianto Hamid, yang Pemred LensaIndonesia.com.

PKB kini memang seolah “di persimpangan jalan” akibat Muhaimin dibidik KPK terkait
aliran dana atas kasus suap di Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (Ditjen P2KTrans) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) pada tahun anggaran 2014, sewaktu orang nomer satu PKB ini menjabat Menakertrans. @licom_09

TULISKAN KOMENTAR