“Outsourcing” masih dipandang buruk, akibat praktik main potong hak gaji karyawan

Saatnya patuhi tidak kurang UMR dan benefit layak

spg
Outsourcing SPG di kota kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Bandung masih diminati gadis-gadis menawan karena menawarkan fashion, meski gaji suka dipotong agency . @foto: ilustrasi/ist.

LENSAINDONESIA.COM: Praktik pelaksanaan sistem outsourcing atau alih daya masih akan tetap dibutuhkan banyak perusahaan di Indonesia, termamsuk Jakarta. Terutama bagi perusahaan padat karya
yang tentu tidak akan bisa melaksanakan roda bisnisnya tanpa bantuan tenaga alih daya.

Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria menjelaskan, banyak tenaga kerja usia muda di Indonesia antara lulusan SMA sampai Sarjana yang tenaganya belum terserap secara maksimal. Dengan adanya sistim outsourcing, setidaknya bisa menjadi sarana edukasi atau pembelajaran bekerja sekaligus batu loncatan bagi para pemuda usia produktif untuk melaju ke jenjang pekerjaan non outsourcing.

Outsourcing ini juga diakui Dani, bisa menjadi batu loncatan untuk karir yang lebih baik, terutama bagi generasi muda yang masih produktif. “Perusahaan padat karya swasta seperti multifinance, perbankan, asuransi, retail dan lain-lain butuh tenaga alih daya supayaperusahaan tersebut bisa fokus ke core bisnisnya,” kata Dani dalam keterangan persnya kepada LICOM, Jakarta, Senin (13/02/2017).

Dani menambahkan, yang membuat outsourcing masih dipandang buruk, karena adanya anggapan praktik pemotongan gaji karyawan. Padahal, praktik sistem outsourcing seharusnya juga dibarengi dengan fokus kesejahteraan karyawan tersebut.

“Maka dari itu, perlu adanya standarisasi gaji dan benefit bagi pekerja outsourcing supaya kesejahteraannya tetap terjamin,” tambahnya.

Dengan adanya standar kesejahteraan atau minimum pendapatan dari pekerja outsourcing, seharusnya pemasukan antara pegawai tetap ataupun alih daya relatif tidak timpang. Meski pun secara kontrak kerja di antara mereka berbeda, setidaknya cukup tidak ada
perbedaan dari segi pendapatan.

“Seperti misalnya, perusahaan penyedia tenaga outsourcing seharusnya saat ini sudah mematuhi bahwa gaji karyawan tidak boleh kurang dari UMR dengan kompensasi serta benefit yang layak,” imbuh Dani. @licom