Tingkatkan perdagangan, Jatim miliki PLB

PLB menurunkan logistic cost

Mendag Enggartiasto Lukita bersama Gubernur Jatim Soekarwo saat meninjau secara langsung sistem kerja aplikasi Dashboard Peningkatan Ekspor Pengendalian Impor untuk Perlindungan Konsumen & Pusat Logistik Berikat. Foto: Sarifa-lensaindonesia

LENSAINDONESIA.COM: Jawa Timur untuk pertama kalinya diberlakukan Pusat Logistik Berikat (PLB). PLB diberlakukan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. PLB adalah kebijakan pemerintah sesuai peraturan Menteri Keuangan Nomor 272/PMK.04/2015 tentang Pusat Logistik Berikat dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri dengan cara menurunkan logistic cost.

Penurunan logistic cost ini salah satunya diperoleh dengan cara meminimalkan deumorage dan detention cost serta menjadikan Indonesia sebagai hub logistics. PT Indra Jaya Swatika salah satu perusahaan logistic skala nasional adalah PLB pertama di Jawa Timur dan siap mendukung pemerintah provinsi untuk meningkatkan daya saing industri di Jatim.

Menurut Direktur Utama PT Indra Jaya Swastika Utami Prasetiawati perusahaannya juga dilengkapi dengan peralatan logistics terintergrasi baik dari sisi peralatan (hardware) maupun software. PLB Indra Jaya Swastika hadir untuk memenuhi berbagai golongan industri, khususnya industri andalan Jawa Timur, termasuk industri sepatu, industri pangan, IKM serta industri sejenis lainnya.

“PLB memberi berbagai kemudahan baik impor maupun ekspor. Dengan adanya barang ditaruh di PLB maka para pengusaha di Jatim tidak perlu lagi menunggu menimbun barang di luar negeri dengan memakan waktu yang lama,” ujarnya pada LICOM, Jumat (17/3/2017).

Dilanjutkan, untuk impor penggunaan PLB dapat berfungsi sebagai hub logistics, dimana tidak perlu membayar bea masuk selama barang tersebut di dalam PLB dan dapat dikeluarkan secara parsial. Sedangkan untuk ekspor, PLB memberikan kemudahan sebagai tempat pameran dan tempat lelang.

“Jadi begitu ada kapal sandar maka barang bisa langsung ditarik di PLB sehingga biaya sangat bisa ditekan serendah-rendahnya. Sebelumnya saat belum ada PLB, di Jatim ini pengeluaran barang butuh waktu lima hari lebih, tapi kalau lewat PLB bisa ditekan sampai 1,8 harian,” imbuh Utami.

Diketahui, adanya PLB di Jatim yang pertama kalinya ini disinkronkan melalui aplikasi Dashboard Peningkatan Ekspor Pengendalian Impor untuk Perlindungan Konsumen & Pusat Logistik Berikat. Aplikasi tersebut telah diresmikan oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (15/3/2017) malam.

Mendag menegaskan pemerintah akan terus mendorong berbagai upaya mengejar peningkatan ekspor. Berbagai terobosan dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi sistem informasi.

“Kinerja perdagangan kita selama dua tahun terkhir terlihat membaik. Pemerintah terus berupaya mengendalikan impor, disamping akan terus mengejar peningkatan ekspor. Oleh karena itu pemnafaatan teknologi informasi dengan sistem Dashboard Peningkatan Ekspor dan Pengendalian Impor merupakan terobosan yang harus didukung,” cetus Enggar.

Tak hanya itu, aplikasi tersebut juga akan bisa menunjang program Pemprov Jatim sebagai upaya peningkatan kualitas produk lokal, khususnya UMKM Jatim dan melindungi konsumen dari barang-barang impor berbahaya yang masuk ke Jatim.

Sementara, Gubernur Soekarwo mengaku optimistis aplikasi Dashboard Peningkatan Ekspor Pengendalian Impor (PEPI) hasil kreasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim akan menjadi tools untuk mendongkrak daya saing Indonesia di era pasar bebas.

“Ini kan memanfaatkan teknologi informasi. Di pasar bebas, pemerintah tidak bisa melakukan intervensi atau membuat peraturan yang mempengaruhi perdagangan atau harga produk. Tidak ada pajak ekspor impor, bea masuk atau biaya tambahan seperti yang biasa terjadi dalam perdagangan internasional,” kata Pakde Karwo (Soekarwo).

Karena itulah, Pemprov Jatim melalui Disperindag membuat inovasi PEPI sebagai sebuah aplikasi TI berbasis online yang berfungsi mengendalikan, mengawasi dan melaporkan secara real time aktivitas ekspor dan impor.

Menu-menu dalam aplikasi ini sangat lengkap, diantaranya data ekspor impor, dimana terdapat jumlah transaksinya, komposisinya, trennya 10 besar barang yang diekspor maupun diimpor, dan negara tujuan ekspor dan impor tersebut, seluruhnya ditampilkan secara apik melalui grafis pie chart maupun diagram chart.

Kemudian, menu lainnya adalah monitoring ekspor-impor, disitu bisa terlihat perkembangan ekspor-impor barang secara spesifik dan periodik, nilai transaksi, dan prosentase perbandingan barang, aplikasi ini juga bisa melihat perusahaan mana yang melakukan ekspor impor barang tersebut.

Menu andalan lainnya adalah Perizinan dan Uji Petik, ini digunakan untuk mengetahui dan mengawasi barang-barang impor yang masuk.

Saat ini PLB di Indonesia sudah ada 32 PLB antara lain berlokasi di Jawa (Surabaya, Karawang, Cikarang, Cibitung, Purwakarta, Cilegon, Cakung, Bandung), Bali (Denpasar), Aceeh dan Kalimantan (Balikpapan).@sarifa