Perempuan Gajarejo-Malang tetap senyum, air Rp50 ribu untuk 3hari

Tiap kemarau harus antri 2-3 jam

perempuan-malang
Setiap menghadapi kondisi sulit mendapatkan air bersih, para perempuan ini tetap saja bergeming.

LENSAINDONESIA.COM: Dari Kota Malang untuk menengok Desa Gajahrejo, Kabupaten
Malang, Jawa Timur, butuh waktu cukup dua jam. Di desa ini, dapat berkenalan dengan para perempuan yang menjadi anggota Forum Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Perempuan-perempuan dari mulai yang beranjak dewasa hingga usia paruh baya itu terus berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka. Meski terdampak perubahan iklim yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari, toh mereka tetap bergeming.

Tahun 2015, misalnya, musim kemarau berkepanjangan sempat berlangsung tujuh bulan. Kehidupan masyarakat pun menjadi sulit. Sumur-sumur mereka kering.

“Kami harus mengantri untuk ambil air di sumber mata air. Kalau untuk mereka yang mampu ya beli air. Harganya Rp 50 ribu itu hanya cukup untuk tiga hari. Saya bahkan sampai jual sapi untuk menutupi kebutuhan air,” kata Suyati, ibu rumah tangga yang juga merupakan anggota forum API PRB.

Lebih mengernyitkan dahi lagi, kekeringan juga harus dihadapi para ibu hamil. Ketua Forum API PRB di Desa Gajahrejo yang juga sekaligus berprofesi sebagai bidan desa, Ning Risa Novelani mengaku, ketika musim kering dan tidak ada air di rumahnya, bahkan perempuan
hamil harus ikut mengantri ambil air.

“Antriannya itu sangat panjang, dan bisa sampai jam 2 atau 3 pagi,” kenang Suyati.

Ia juga menambahkan kekurangan air dapat menjadi masalah bagi perempuan hamil yang akan melahirkan.

Pernah satu waktu, di tempat dia tidak ada air. Ia pun khawatir sekali bagaimana kalau hari itu ada seorang ibu yang akan melahirkan.

“Untungnya, PMI [Palang Merah Indonesia] datang di saat yang tepat. Siangnya, mereka datang membagikan air dan benar saja insting saya, malam harinya ada ibu yang melahirkan,” ceritanya.

Kalau saja siang itu tidak ada pembagian air dan tidak cukup air, Risa mengaku, sulit bisa membayang.

Kemudian, Risa mencorat coret skema Dana Ketangguhan, program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan PATTIRO untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di desa dalam mengintegrasikan API PRB ke dalam perencanaan pembangunan desa dan rencana kerja pemerintah desa.

Bekerja di enam desa di Kabupaten Malang, salah satu strategi yang dijalankan adalah dengan membentuk forum di setiap desa. Keterlibatan perempuan dalam proses pembentukan forum tersebut sangat penting.

Ketika perempuan memiliki akses untuk terlibat dalam proses pembuatan keputusan di desa, maka perempuan akan berdaya dan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan solusi terbaik dalam menjawab persoalan yang mereka hadapi.

Ning Risa mengatakan menjadi Ketua Forum API PRB di desanya sangatlah membantu pekerjaannya sebagai bidan.

“Sebagai bidan desa, saya harus selalu mengetahui apa saja yang terjadi di desa. Melalui forum ini, akan sangat membantu dan saya bisa menjadi pihak yang pertama tahu jika ada bencana terjadi,” katanya.

Sehingga, lanjut Risa, “Kemudian saya bisa dengan cepat mendeteksi perempuan hamil yang tersebar di beberapa lokasi.

“Selain itu menjadi ketua Forum juga memungkinkan ia untuk mengajukan inisiatif dan program yang berhubungan dengan perempuan untuk dimasukkan ke dalam perencanaan kerja serta anggaran pemerintah desa,” urainya.

Risa juga mengatakan, sebelumnya dirinya hanya tau sedikit tentang cuaca ekstrem dari berita. “Sekarang, saya belajar banyak dengan adanya forum ini.”

Pada Januari 2017, PATTIRO akan menyelenggarakan pelatihan memanen air hujan untuk mempersiapkan masyarakat desa dalam menghadapi musim kekeringan panjang.

Ning Risa sangat antusias untuk belajar dan mempraktikkan langsung apa yang akan dipelajari nanti. “Saya tadinya tidak tahu bahwa kita bisa memanen air hujan dan bisa digunakan untuk air minum,” katanya.

USAID APIK percaya bahwa perempuan merupakan kunci untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh. Ning Risa bersama dengan perempuan lainnya yang juga merupakan anggota forum API PRB di enam desa di Kabupaten Malang merupakan bukti bahwa menyelamatkan manusia ‘dua langkah sekaligus’, bukanlah hal yang tidak mungkin. @usaid/licom