Mensos resmikan makam Kartini jadi Destinasi Wisata Ziarah Nasional

Memperingati Hari Kartini

Peringati Hari Kartini, Mensos Khofifah Indar Parawansa (tengah) ziarah ke makam Kartini di Rembang. Selain ziarah, Khofiah juga meresmikan makam Kartini jadi Destinasi Wisata Ziarah Nasional. Foto: Dok Kementerian Sosial

LENSAINDONESIA.COM: Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memperingati Hari Kartini. Pertama, yakni dengan memimpin upacara Peringatan Hari Kartini di Alun-Alun Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (21/4/2017).

Tema Hari Kartini kali ini adalah “Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga Dalam Mewujudkan Generasi Tangguh dan Berakhlak Mulia”.

Khofifah mengatakan sebagaimana pemikiran Kartini bahwa kebangkitan seseorang ditandai dengan kebangkitan cara berpikir dan pendidikan yang baik.

“Momentum ini memberi pesan kepada kita meningkatnya kualitas perempuan Indonesia mendorong meningkatnya kualitas keluarga. Hal ini merupakan salah satu langkah strategis untuk memajukan bangsa dan negara,” katanya dalam rilis yang diterima LICOM.

Mensos menilai Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Namun hanya menuntut agar perempuan diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Dengan pendidikan yang layak bagi perempuan memungkinkan mereka memiliki kesempatan lebih baik untuk mendapatkan akses di berbagai bidang dalam kehidupan dan lingkungan,” cetus menteri yang juga Ketua PP Muslimat NU ini.

Untuk itu, Mensos meminta seluruh pemangku kepentingan memberikan akses yang lebih baik kepada perempuan terutama yang tinggal di pelosok daerah terpencil, tertinggal, terluar dan perbatasan untuk memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak juga lebih baik. Ini penting untuk melahirkan banyak generasi unggul di masa depan.

Selain pendidikan, lanjut Mensos, Kartini juga bertekad menjadi muslimah yang baik sebagaimana bunyi surah Al-Baqarah ayat 193 yaitu “minazh zhulumaati ilan nuur” (dari gelap menuju cahaya), yang tercermin dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

“Filsafat keagamaan dan kebhinekaan Kartini sangat dalam sekali. Saya bisa memahami hal ini karena dia juga santri dari Kiai Soleh Darat (guru pendiri NU KH Hasyim Asy’ary dan juga guru pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan). Mungkin sosok spiritualitas Kartini tidak banyak muncul, namun hari ini kita bisa menjadikan referensi membangun Islam yang Rahmatan Lil Alamin yaitu Islam yang damai dan penuh kasih,” tegas Khofifah.

Kartini lahir di Mayong, Jepara 21 April 1879. Ia meninggal di Rembang, Jawa Tengah pada 17 September 1904. Saat itu Kartini masih berumur 25 tahun. Berdasarkan Keputusan Presiden No 108 tahun 1964 maka pada 2 Mei 1964 Kartini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Usai memimpin upacara, dalam rangkaian kunjungannya Mensos juga meresmikan makam RA Kartini menjadi Destinasi Wisata Ziarah Nasional.

Selanjutnya, Mensos beserta rombongan melakukan ziarah ke makam RA Kartini. Di Hari Kartini ini, ia juga mengajak para generasi muda meneladani semangat dan nilai-nilai kepahlawanan serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadilah Kartini masa kini, Kartini yang tangguh, memiliki wawasan ke depan, memiliki kepedulian terhadap sesama, Kartini yang mampu menjaga keluarganya dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang membanggakan,” tandas Khofifah.@sarifa