Astaga! Percobaan pembunuhan disidang kilat, terdakwa dituntut dengan pasal yang sudah dihapus MK

JPU Kejari Surabaya: Ini titipan Pak Budi Mulyono

Mas'ud terdakwa percobaan pembunuhan terhadap Sumanto diganjar vonis penjara 2 bulan 10 har oleh Majelis Hakim PN Surabaya, Kamis (15/06/2017). Foto: Rofik-lensaindonesia.com

LENSAINDONESIA.COM: Mejelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Surabaya diduga ‘bermain’ dalam menyidangkan perkara percobaan pembunuhan.

Dalam sidang dengan terdakwa Mas’ud (58) warga Jl Medokan Tambak III B/1 Rungkut Surabaya pada Kamis (15/06/2017) lalu Majelis Hakim yang diketuai Anne Rusiana dengan sengaja menyidangkan secara kilat. Dimana tuntutan dan vonis langsung dibacakan seketika itu juga setelah saksi korban Sumanto memberikan keterangan.

Perkara yang disidang secara kilat ini pun diakui oleh JPU dari Kejari Surabaya, Darwis.

Kata dia, pihaknya sengaja menggelar sidang super cepat karena karena permintaan dari seseorang bernama Budi Mulyono. Sebab itu, Darwis meminta wartawan tidak memberitakan sidang yang janggal tersebut.

“Bang, kalau bisa jangan diliput. Ini perkara titipannya bapak Budi Mulyono,” ungkapnya.

Meski mengakui mendapat titipan perkara, namun Darwis menyatakan bahwa pihaknya tidak menerima imbalan apa pun. “Saya tidak mendapat imbalan apa-apa. Murni hanya membantu. Karena teman makanya saya bantu,” ujarnya.

Selain menggelar sidang kilat, JPU juga tidak menuntut terdakwa dengan pasal 376 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Percobaan Pembunuhan, melainkan menuntut Mas’ud dengan pasal 335 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.

Padahal Mahkamah Konstitusi (MK) sejak tanggal 16 Januari 2014 telah menghapus frasa “Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP tersebut.

Dalam putusan perkara Nomor: 1/PUU-XI/2013 pada tanggal 16 Januari 2014, MK menyatakan frasa pasal 335 KUHP ayat 1 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dalam sidang super kilat tersebut, JPU Darwis menuntut Mas’ud dengan Pasal 335 ayat (1) dengan ancaman hukuman 4 bulan penjara karena terdakwa dianggap terbukti melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Tak berapa lama kemudian, Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana menjatuhkan vonis selama 2 bulan 10 hari terhadap Mas’ud. “Memvonis terdakwa dengan hukuman 2 bulan 10 hari penjara, dipotong masa tahanan dan membayar perkara sidang sebesar Rp 2 ribu,” pungkasnya.@rofik