Lebih rentan tertular, Tri Rismaharini: Siswa sekolah elite harus ikut imunisasi MR

Sebar 5.955 tenaga medis di pos imunisasi

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyaksikan proses imunisasi MR di Lapangan Putro Agung Surabaya. (ISTIMEWA)

LENSAINDONESIA.COM: Gerakan program nasional imunisasi Measles-Rubella (MR) di Surabaya mulai dilakukan hari ini, Selasa (1/8/2017). Di Kota Pahlawan ini ada 590.921 anak mulai usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun yang akan menjadi sasaran pemberian imunisasi ini.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, imunisasi ini tidak perlu ditakuti oleh anak-anak. Pihaknya ingin semua anak-anak yang tersebar di berbagai sekolah baik itu pinggiran maupun di kawasan elit ikut serta dalam kegiatan imunisasi.

“Jangan takut, justru harus minta supaya diimunisasi. Daripada sudah dewasa malah terkena penyakit ini yang akan sulit untuk menyembuhkannya,” ujar Risma saat menyampaikan sambutannya di hadapan puluhan siswa yang ada di Lapangan Putro Agung Surabaya.

Seperti diketahui pada bulan Agustus dan September ini pemerintah melakukan Kampanye Imunisasi MR di seluruh Indonesia. Anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun wajib untuk diimunisasi. Selain di puskesmas dan posyandu, pemberian vaksin juga akan dilakukan di sekolah-sekolah mulai TK, SD, SMP hingga pondok pesantren yang ada di berbagai kawasan.

Ia melanjutkan, penyakit campak dan rubella tidak dapat diobati namun dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit campak dan rubella. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus.

Risma juga menjelaskan, seluruh wilayah di Surabaya sudah mendapatkan sosialisasi mengenai kampanye ini. Ia mengakui sejauh ini tidak ada yang secara vulgar menolak. Kondisi ini memudahkannya untuk melaksanakan program imunisasi MR. Namun ia justru mewaspadai sekolah-sekolah elit yang dianggap berbahaya.

“Dokter dari WHO justru menyampaikan yang bahaya itu sekolah-sekolah elit. Mereka menganggap selama kondisi tubuhnya sehat, menjaga makanan dengan benar, istirahat cukup, sehingga tidak akan terserang,” jelasnya.

Padahal, katanya, sebaran penyakit campak dan rubella tidak seperti itu. Pasalnya, rubella ini menyerangnya dari berbagai sektor. “Penyakit ini bisa lewat udara dan berasal dari mana-mana,” sambungnya.

Terlebih lagi, untuk anak-anak yang dari keluarga mampu biasanya juga cukup sering melakukan perjalanan ke luar negeri juga akan mudah terserang penyakit campak dan rubella. Kondisi itu yang haus dipahami untuk segera ikut dalam imunisasi. Pihaknya ingin peserta imunisasi berasal dari semua sektor.

Imunisasi MR dirasakan penting karena dampak kedua penyakit tersebut sangat besar. Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru peunomia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk, bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita menambahkan, pada tahun lalu dari 300 orang yang suspect, 16 di antaranya positif terkena campak. Sedangkan untuk rubella pada tahun lalu ditemukan 9 orang yang positif.

“Mungkin kecilnya tidak imunisasi. Karena itu, walaupun yang mungkin sudah imunisasi, tetap boleh diimunisasi lagi,” ujar Feni, panggilan akrabnya.

Bagi anak-anak yang sudah diimunisasi MR pada jarinya akan diberi tinta sebagai bukti.

Meskipun sasaran disebutkan 590.921 anak, Dinkes Surabaya menyiapkan sekitar 599 ribu vaksin MR untuk periode Agustus-September. Di Surabaya ada 5.955 pos imunisasi yang terdiri dari sekolah-sekolah mulau PAUD, TK, SD dan SMP. Total ada 1.078 dokter dan paramedis yang dilibatkan.

“Agustus ini memang masih fokus di sekolah-sekolah. Tapi mulai September nanti mulai melebar ke puskesmas, posyandu, panti asuhan, pondok pesantren termasuk anak jalanan dan kami juga akan menjaring anak-anak di mal-mal yang ada di Surabaya,” ucapnya. (*)