Resiko serangan jantung pada perempuan meningkat pasca menopause

Kemenkes: Ayo hidup sehat

Ilustrasi serangan jantung pada perempuan. (ISTIMEWA)

LENSAINDONESIA.COM : Sebanyak 12,9% kematian di Indonesia, diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. Bagi perempuan, resiko ini meningkat setelah masa menopause.

“Ada anggapan bahwa bahwa lelaki lebih mudah kena serangan jantung ketimbang perempuan. Ini salah kaprah,” kata spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Vito A. Damay, SpJP, M.Kes. FIJA, FICA di sela-sela seminar “Gerakan Jantung Sehat: Indonesia Tangkal Kolesterol Bersama nUtrive Benecol di Dyandra Convention Center, Surabaya, Minggu (6/8/2017).

Dia membenarkan jika angka kejadian lelaki terkena serangan jatung memang lebih tinggi ketimbang perempuan. Namun tetap saja, penyakit jantung jadi pembunuh nomor satu untuk perempuan di atas kanker serviks dan kanker payudara.

“Resiko perempuan terkena serangan jantung meningkat setelah masa menopouse,” terang pengasuh redaksi medis klikdokter.com itu.

Oleh karena itu, dia mengajak agar menerapkan hidup sehat terutama bagi perempuan. Yaitu aktif dan rutin berolahraga, menerapkan pola makan seimbang rendah lemak jenuh dan kolesterol serta kebiasaan sehat tanpa rokok dan minuman beralkohol. Hal ini efektif bantu mencegah factor risiko utama penyakit jantung yang meliputi diabetes mellitus (penyakit gula atau kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), kebiasaan merokok, kegemukan, dan kadar kolesterol tinggi.

Dia menjelaskan kolesterol dan penyakit kardiovaskuler juga terkait oleh proses yang disebut ateroklerosis, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika terbentuk plak pada dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan ini mempersempit arteri, sehingga darah sulit untuk mengalir melalui arteri. Plak juga bisa pecah (ruptur) dan memicu terbentuknya bekuan darah dan gangguan aliran darah ini dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau stroke.

“Salah satu faktor utama penyebab ateroklerosis adalah dislipidemia, yaitu peningkatan kadar kolesterol, trigliserida, atau keduanya, atau penurunan kadar HDL dalam plasma darah yang berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis,” jelasnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI dr. Lily S Sulistyowati, MM, mengatakan data dari Survey Sample Registration System (SRS) tahun 2014 di Indonesia menunjukkan bahwa penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian tertinggi.

“Data ini menyebutkan bahwa sekitar 12,9% kematian di Indonesia, diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, dan hal ini berpotensi untuk terus meningkat setiap tahunnya,” katanya di tempat yang sama.

Untuk itu Kementerian Kesehatan menghimbau seluruh komponen bangsa baik pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit jantung koroner. @sit