Komitmen membangun ekonomi umat, La Nyalla utus staf ahli Kadin ke Forum Bisnis Pesantren

Alumni Ponpes wajib berwawasan

Staf Ahli Kadin Jatim, Dr. Ir. Jamhadi MBA (batik coklat) mendapat tugas menyumbangkan pikiran dalam Forum Diskusi Program Temu Bisnis Pesantren di Surabaya, Jumat 11 Agustus 2017. Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen Cagub Jatim La Nyalla Mattalitti membangun ekonomi umat. FOTO: LICOM

LENSAINDONESIA.COM: Komitmen membangun ketahanan ekonomi pesantren yang diusung sebagai salah satu program bakal calon gubernur Jawa Timur Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti ditunjukkan dengan mengutus staf ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim.

Staf ahli Kadin Jatim tersebut itu ikut menyumbangkan pikiran di Forum Diskusi Program Temu Bisnis Pesantren yang digelar Bank Indonesia dengan PW Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama, di Surabaya, Jumat 11 Agustus 2017.

La Nyalla secara khusus menugaskan Dr. Ir. Jamhadi MBA untuk terlibat dalam forum yang membicarakan masa depan sekitar 8.000 pondok pesantren di Jatim.

“Sebagai lembaga resmi NU yang diberi tugas pengembangan pesantren, RMI punya peran strategis dalam mendesain bagaimana pesantren dikelola pada masa-masa mendatang. Saya mengusulkan agar pesantren menjadi jangkar bagi ekonomi umat,” ujar La Nyalla di Surabaya, Minggu (13/08/2017).

Sementara itu, Jahmadi mengatakan, pesantren punya potensi besar sebagai jangkar ekonomi umat. Jumlah pesantren di Jatim yang berbasis NU mencapai 8.000 pesantren yang tersebar di berbagai pelosok kampung. Mereka telah menghasilkan jutaan alumnus. Tiap tahun juga dihasilkan puluhan ribu alumnus.

Ke depan, kata Jamhadi, para santri yang telah selesai mondok itu harus mempunyai wawasan kewirausahaan.

“Santri yang lulus harus matang tiga hal. Ilmu agamanya oke, leadership oke, dan punya visi bisnis. Ini bukan soal orientasi uang lho, tetapi mewujudkan kemandirian ekonomi umat. Nabi Muhammad juga berniaga. Karena itu Pak La Nyalla sangat mendukung program RMI melalui event Pesantren Berkarya 2017,” ujar Jamhadi yang juga juru bicara ekonomi La Nyalla.

Untuk itu, ke depan, pengembangan ekonomi pesantren harus mendapat pendampingan dari pemerintah. Pemerintah juga bisa hadir dengan menghubungkan antara pelaku usaha besar dan pesantren.

“Jadi pesantren didampingi. Bisa juga diajak bermitra, di mana pesantren menjadi pemasok untuk pelaku usaha yang sudah mapan,” tandas Jamhadi.

Ketua Kadin Kota Surabaya ini juga mendorong dimasukkannya instrumen teknologi informasi dan manajemen bisnis ke dalam kurikulum pesantren.

“IT ini sudah wajib sekarang. Memprihatinkan sebenarnya ternyata masih banyak santri di pelosok Jatim yang belum menguasai IT, padahal IT adalah instrumen untuk menggenjot bisnis,” ujarnya.

Untuk mengakselerasi penguatan ekonomi pesantren, diperlukan sosok pemimpin yang benar-benar memahami seluk-beluk dunia kewirausahaan dan tantangan ekonomi ke depan.

“Yang tahu dunia kewirausahaan, ya pasti pengusaha karena dia sudah teruji. Tapi bukan hanya pengusaha. Harus pengusaha yang punya ideologi jelas. Saya melihat itu ada pada sosok Pak La Nyalla. Beliau pengusaha, sudah puluhan tahun, pernah bangkrut lalu bangkit lagi. Beliau tahu bagaimana membawa pesantren menjadi jangkar ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan umat,” pungkas Jamhadi.@LI-13