Irmaya Haryuni, penyintas kanker payudara yang sukses jadi pengusaha kuliner

Sempat syok dipecat seminggu setelah operasi

Exif_JPEG_420

LENSAINDONESIA.COM: Irmaya Haryuni bisa jadi menjalani hidup bak kisah dongeng. Penyakit kanker payudara yang sempat ia alami kini membawa akhir yang bahagia.

Di suatu hari di bulan Juni tahun 2008 lalu, Irmaya serasa disambar petir di siang bolong. Dokter memvonis dirinya menderita kanker payudara dan harus secepatnya dioperasi.

“Padahal enam bulan lagi saya akan menikah. Tiba-tiba diharuskan segera operasi,” ujarnya ditemui di RS Onkologi Surabaya.

Dia menceritakan awalnya dia curiga pada benjolan sebesar kelereng yang muncul di payudaranya. Hal itu pun diceritakan pada ibunya yang langsung membawanya ke RS Onkologi.

Dari hasil biopsi dokter menyatakan benjolan itu tumor ganas. Sempat tak percaya, dia terbang ke Jakarta untuk mencari second opinion. Ternyata diagnosa sama disampaikan oleh dokter berbeda.

“Awalnya gak percaya karena kan waktu itu umur saya masih 27 tahun. Kanker kan biasanya dialami orang tua. Karena hasilnya sama ya akhirnya balik ke Surabaya,” bebernya.

Namun keputusan untuk menjalani operasi belum jua diambilnya. Dia mencoba informasi alternatif penyembuhan, apalagi sebentar lagi dia akan menikah. Tak hanya itu, muncul kekhawatiran calon suami dan mertua akan menolak dirinya. Rencananya Irmaya akan menikah di bulan Desember.

“Saya juga sempat mikir bakal mati. Tapi ternyata semua orang, termasuk calon suami dan orang tua tetap mau menerima kondisi saya waktu itu,” tuturnya.

Seminggu kemudian, dokternya dr. Arya Djatmiko berhasil mengangkat benjolan itu. Setelah diteliti, Irma dinyatakan menderita kanker payudara 2B.

Pasca dioperasi, Irmayani mendapat kejutan lain. Tempat ia bekerja selama ini yaitu di sebuah sekolah fashion desain memecatnya seminggu pasca operasi.

“Saya tak tahu alasannya apa kok saya dipecat. Mungkin karena dianggap tak produktif lagi,” katanya.

Akibatnya, kondisinya down lagi. Teman-temannya juga ada yang meninggalkannya. Upaya mencari pekerjaan lain juga gagal total. Di sisi lain, dia harus menjalani kemo 6 kali serta 30 kali radiasi.

“Saya gundul, alis juga rontok. Waktu itu saya pas jelek-jeleknya di hadapan suami,” tuturnya sembari menambahkan dia akhirnya menikah di tahun 2009.

Di tengah kondisinya seperti itu, dia bersyukur orang terdekatnya tetap mendukungnya. Di tahun 2011, ia menemukan passion baru di bidang kuliner.

Memanfaatkan media sosial, ia mendirikan Madame Schotel yang omzetnya antara Rp40 juta hingga Rp50 juta. “Jadi saya bersyukur sama mantan bos saya, kalau nggak dipecat gak akan tahu punya potensi di bidang kuliner dan sukses seperti ini,” katanya.

Kini ia masih melanjutkan pemeriksaan rutin sembari ikut aktif dalam kampanye kesadaran atas kanker payudara. Ia juga berharap agar pemerintah bisa memberi akses yang lebih mudah kepada para penderita kanker payudara serta aktif memberi edukasi tentang kanker payudara terutama bagi pelajar dan mahasiswa.

“Kita rajin ke salon atau kafe, pasti kita sempat dong cek kesehatan lewat SADARI. Kalaupun sudah terkena, masih bisa disembuhkan,” pungkasnya. @licom